IHSG Berisiko Tertekan Imbas Konflik di Timur Tengah

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi bergerak terbatas imbas kondisi di Timur Tengah. Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengingatkan risiko tertekannya IHSG dalam perdagangan pekan depan.

Menurut Hendra, memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS) dan Israel bukan hanya sekadar isu politik, namun sudah masuk ke ranah risiko ekonomi di tingkat global.

Baca Juga
  • Berdonasi Barang di Bulan Ramadhan Ini Sekarang Bisa Lewat Daring
  • Gandeng Fajar Sadboy, Dudung Abdurachman Rilis Lagu Religi ‘Jangan Lupa Berdoa’
  • Gejolak Timur Tengah, Pertamina Prioritaskan Keselamatan Pekerja dan Perkuat Mitigasi Operasional

"Pasar langsung merespons dengan pola risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven," ujar Hendra kepada Antara di Jakarta, Ahad (1/3/2026).

Apabila eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di kawasan selat Hormuz, menurut Hendra, dapat menyebabkan harga minyak global melonjak lebih tinggi karena pasar akan menghitung ulang risiko pasokan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

"Dampaknya bisa menjalar ke inflasi global, nilai tukar, hingga kebijakan suku bunga di berbagai negara," ujar Hendra.

Sementara itu, bagi pasar modal Indonesia, Ia menjelaskan tekanan bisa datang dari dua sisi, diantaranya pertama, potensi capital outflow (arus dana modal) karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market. Kemudian, kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi di tingkat global.

Apabila harga minyak bertahan di level tinggi, Ia mengatakan hal tersebut dapat menyebabkan beban biaya produksi meningkat dan margin perusahaan tercatat (emiten) dapat tertekan.

"Dalam kondisi seperti ini, IHSG berpotensi bergerak melemah dan menguji support klasik di level 8.133. Jika level tersebut jebol, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya. Sementara resistance terdekat berada di 8.300," ujar Hendra.

Namun demikian, menurutnya, tidak semua sektor akan terdampak negatif. Bagi investor ritel, Hendra merekomendasikan bahwa sikap terbaik adalah disiplin dan selektif.

"Apabila memiliki profil agresif, momentum di sektor komoditas bisa dimanfaatkan dengan manajemen risiko yang ketat," ujar Hendra.

Selat Hormuz

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : ANTARA
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga BBM Vivo Revvo 92 Naik per 1 Maret 2026, Cek Daftar Lengkapnya!
• 12 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Ramadan Ubah Ritme Kerja Dunia, Ini 10 Negara yang Pangkas Jam Kantor-World In Minute
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Iran Tutup Selat Hormuz Usai Serangan AS-Israel
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Situasi Timur Tengah Memanas, Pemerintah Imbau Jemaah Tunda Keberangkatan Umrah
• 8 jam lalusuara.com
thumb
ISEI Cabang Semarang Ganti Kepengurusan, Komitmen jadi Mitra Strategis Pemerintah
• 1 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.