Percepat Eliminasi dan Cegah Stigma: Upaya Bersama Menuju Indonesia Bebas Kusta 2030

tvrinews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Hanifa Paramitha Siswanti

TVRINews - Jawa Barat

Vanessa, remaja dari Kecamatan Tukdana Kabupaten Indramayu Jawa Barat, bercerita dirinya pernah terkurung dalam sunyi. Kusta sempat menjadi dinding kaca yang memisahkannya dari dunia luar.

Di usia yang seharusnya penuh dengan tawa di sekolah, Vanessa harus berhadapan dengan kenyataan mengenai disabilitas pada jari-jari tangannya.

“Dulu saya merasa malu karena jari-jari ini. Saya jarang keluar rumah karena takut. Di sekolah pernah ada yang membeli saya hingga saya nangis,” ucap Vanessa mengisahkan.

Meski demikian, ia memiliki dukungan keluarga. Sang ibu dengan setia mendampingi setiap langkah pengobatannya dan memastikan Vanessa tidak merasa sendirian.

“Saya pernah sarankan Vanessa berhenti sekolah karena diejek terus oleh teman-temannya, tetapi dia tetap ingin sekolah. Kustanya menyisakan disabilitas pada jari-jari tangannya. Tadinya saya lihat di paha Vanessa ada bintik kecil. Lama-lama membesar dan ada juga di kening. Kemudian kalau ada luka lama sembuhnya. Saya bawa Vanessa ke rumah sakit dan klinik, tetapi tidak sembuh. Lalu saya datang ke puskesmas dan di sana Vanessa dinyatakan kena kusta,” cerita Melinawati, ibu Vanessa.

Kehadiran sahabat sejati dan pendamping kusta juga perlahan memulihkan kepercayaan dirinya. Mereka menunjukkan pada Vanessa bahwa ia tetap berhak memiliki impian setinggi langit apa pun kondisi fisiknya.

“Saya ingin jadi guru, jadi harus sekolah. Selain Ibu, ada seorang teman yang menemani saya. Ada juga beberapa orang dari SPI (Sahabat Pendamping Kusta Indramayu). Mereka pernah mengalami kusta dan sering mengunjungi saya. Saya diajak ke luar rumah bertemu dengan banyak orang. Rasanya senang banget,” lanjut Vanessa.

Tak hanya Vanessa, kusta juga dialami oleh Siti Aisyah, seorang remaja dari Kabupaten Kuningan Jawa Barat yang terdiagnosa kusta sekitar bulan Mei 2022. Namun dengan dukungan pendampingan yang intensif, Siti mulai memahami bahwa kusta dapat disembuhkan.

“Sekarang aku jauh lebih baik dari sebelumnya. Petugas puskesmas ramah dan baik setiap kali aku memeriksa reaksi kusta. Aku diajarkan oleh ibu puskesmas untuk merawat jari-jariku. Aku biasanya pijat tangan pakai minyak zaitun supaya tangan nggak kaku,” ucap Siti melalui dokumentasi kisah yang dihimpun oleh NLR Indonesia.

Di awal pengobatan, Siti sempat mengalami beragam reaksi ketika diberikan pengobatan MDT (Multi Drug Therapy). Namun baru di reaksi ketigalah tangannya dapat mengepal.

“Siti diberikan terapi steroid dari dokter spesialis kulit kemudian dosisnya dilanjutkan di puskesmas. Memang sempat juga ada efek samping dari pemberian steroid, tapi tetap dilanjutkan karena reaksinya masih berlangsung. Siti juga percaya diri datang sendiri ke sini, tidak diantar anggota keluarga untuk mengambil obat dan konsultasi. Sangat percaya diri dan kooperatif,” ungkap dokter Puskesmas Cipicung Kuningan Fuji Gina Rahayu.

Pihak dinas kesehatan beserta puskesmas berupaya menyembuhkan orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) seperti Siti. Para penyintas mendapat pengobatan sampai sembuh di puskesmas setempat, bahkan turut difasilitasi rujukan dan pengantaran oleh petugas ke rumah sakit.

“Petugas juga berkoordinasi dengan keluarganya agar aktivitas Siti bisa dikendalikan, sehingga proses penyembuhan akan lebih optimal,” tutur Sudrajat selaku pengelola program kusta Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan.

Stigma Menghambat Deteksi Dini


(Mulai tahun 2026, terdapat tampahan pemeriksaan penyakit di program Cek Kesehatan Gratis (CKG), yaitu scabies, kusta dan frambusia. Penambahan ini melengkapi melengkapi pemeriksaan CKG yang  meliputi tekanan darah, gula darah, fungsi ginjal, kolesterol (lemak darah), EKG (jantung), pemeriksaan mata, telinga, gigi, dan skrining jiwa.)

Kusta yang mengakibatkan disabilitas pada anak kerap mengganggu kesehatan mental. Hal tersebut diakibatkan oleh beragam stigma yang menghampiri para penyintas. Tak sekadar masalah sosial, stigma juga menjadi ancaman karena menghalangi orang untuk mencari bantuan.

Studi yang dilakukan oleh Flora Ramona (2025) dan Mukhlis Hidayat (2025) menunjukkan bahwa stigma menyebabkan keterlambatan diagnosis yang meningkatkan risiko kecacatan tingkat lanjut yang kemudian justru memperkuat stigma di masyarakat.

Bahkan ketakutan akan dikucilkan membuat pasien memilih untuk tidak berinteraksi sosial atau bekerja yang pada akhirnya memperlambat deteksi dini.

Hal tersebut diperkuat oleh kajian Amna Mohammad (2025) yang menyatakan masyarakat cenderung memiliki persepsi negatif berupa ketakutan, kepercayaan pada mitos budaya, dan kecenderungan mengisolasi penderita.

Oleh karena itu, pengetahuan masyarakat yang baik tentang kusta berhubungan langsung dengan penurunan perlakuan diskriminasi.

Namun ironisnya, seperti yang diungkapkan Kuswadi (2025), tantangan juga datang karena stigma ternyata masih ditemukan bahkan di kalangan mahasiswa kesehatan.

Hal ini menunjukkan literasi kusta harus menyasar semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali, sehingga dapat menyembuhkan fisik sekaligus memulihkan konsep diri penyintas.

Riset dari Gardha Rias Arsy (2026) dan Luh Putu Sustiana (2025) menjelaskan bahwa disabilitas fisik akibat kusta seringkali memicu konsep diri negatif pada penyintas, tetapi luka batin ini dapat dimitigasi melalui interaksi sosial yang hangat dan suportif.

Tanpa dukungan psikologis dasar yang memadai, disabilitas berisiko mengganggu kesejahteraan emosional dan kesehatan mental secara masif.

Pendekatan Eliminasi Kusta


(Seorang tenaga medis melakukan penanganan terhadap pasien anak saat pengobatan gigi gratis di di Desa Sumurugul, Kabupaten Purwakarta. Program pemeriksaan gigi termasuk dalam layanan program Cek Kesehatan Gratis yang tersedia secara rutin di puskesmas seluruh Indonesia mulai Februari 2025 sebagai bagian dari program tahunan Kemenkes RI.)

Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2025 diketahui sekitar 200 ribu kasus baru dilaporkan setiap tahunnya di 120 negara. Indonesia masih menyumbang kasus kusta terbanyak ketiga di dunia setelah India dan Brasil.

Hingga akhir Mei 2025, Indonesia masih menghadapi tantangan serius dengan temuan 3.716 kasus baru kusta. Angka ini menegaskan bahwa ribuan penderita baru masih bermunculan di tanah air.

Kondisi yang lebih memprihatinkan terjadi pada kelompok usia dini. Dari 30 provinsi yang melaporkan kasus kusta baru, sebanyak 26 wilayah melaporkan adanya kasus kusta pada anak.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan tren proporsi kasus kusta anak pada tahun 2025 justru merangkak naik dibandingkan tahun sebelumnya.

Upaya eliminasi kusta di Indonesia menuntut transformasi strategi melalui pendekatan berbasis wilayah yang presisi dan pemberdayaan komunitas yang berkelanjutan.

Langkah ini menjadi krusial untuk membedah persoalan kusta dari segala aspek mulai dari validitas data hingga penanganan dampak sosialnya.

Data epidemiologi dari Egi Susanto (2025) menunjukkan pemanfaatan teknologi seperti algoritma K-Means dalam klasterisasi kasus kini menjadi krusial untuk memetakan wilayah epidemiologi kusta secara akurat, sehingga distribusi sumber daya kesehatan dapat difokuskan pada daerah-daerah dengan prevalensi tinggi.

Ketepatan pemetaan ini sangat penting mengingat angka kejadian kusta masih berkorelasi kuat dengan faktor lingkungan sebagaimana yang diteliti oleh Dwi Septian Wijaya & Hamdan (2025). Kondisi itu berupa fisik hunian yang tidak layak dan kepadatan penduduk yang sering kali diperparah oleh rendahnya pengetahuan masyarakat terkait risiko penularan.

Namun, solusi teknis dan lingkungan tersebut harus berjalan beriringan dengan intervensi pendidikan yang menyentuh sisi kemanusiaan.

Seperti studi yang dijelaskan Luh Putu Sustiana (2025), pemberian penyuluhan kesehatan yang masif terbukti secara signifikan mampu meruntuhkan stigma, baik di level pasien maupun keluarga kontak yang selama ini menjadi penghambat utama proses penyembuhan.

Sebagai langkah penyempurna, riset Diah Rahmawati (2025) memaparkan perlu strategi promosi kesehatan yang melibatkan pelatihan perawatan mandiri. Selain mencegah kecacatan fisik lebih lanjut, langkah tersebut juga untuk memulihkan martabat dan meningkatkan kemandirian para penyintas agar mereka dapat kembali berdaya di tengah masyarakat.

Jabar Targetkan 2026 Selesaikan Masalah Kusta


(Seorang dokter memeriksa kondisi kaki pasien saat melakukan pengobatan di sebuah rumah sakit di Kota Bandung beberapa waktu lalu. Luka di kaki, mulai dari lecet, sayatan, hingga ulkus memerlukan perawatan tepat untuk mencegah infeksi dan mempercepat penyembuhan.)

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dr. Vini Adiani Dewi mengungkapkan angka temuan kasus baru di Jabar meningkat dari 1.805 (2024) menjadi 2.174 (2025).

"Bagi kami, ini menunjukkan kinerja surveilans yang membaik. Prinsipnya mirip dengan penanganan TBC yaitu semakin banyak kasus yang diketemukan sedini mungkin, semakin cepat kita bisa menurunkan angka kesakitan secara nyata," jelas Vini pada Jumat (20/02/2026).

Peningkatan ini menjadi tanda bahwa kasus tersembunyi yang selama ini terkungkung stigma mulai berani menampakkan diri ke permukaan.

Kabupaten Bekasi pun kini menjadi ujung tombak. Data hingga Juni 2025 mencatat terdapat 121 kasus baru kusta di Kabupaten Bekasi dengan Case Detection Rate (CDR) sebesar 3,34. Mayoritas merupakan tipe Multibasiler (MB) atau kusta tipe basah bahkan ditemukan 6 kasus pada anak-anak.

Sebagai salah satu daerah prioritas percepatan eliminasi nasional, sinkronisasi antara pemerintah provinsi dan daerah dilakukan melalui penguatan kapasitas tenaga medis dan paramedis di garis depan.

Sinergi Pemprov Jabar dan Pemkab Bekasi dalam menekan prevalensi kusta dilakukan melalui tiga jalur yaitu deteksi aktif lewat survei cepat ke rumah warga, pemantauan ketat masa pengobatan, dan intervensi lingkungan.

“Kami tidak hanya mengobati penderita, tetapi juga memperbaiki sanitasi rumah serta memberikan bantuan gizi bagi pasien yang membutuhkan. Selain itu, pemberian obat pencegahan bagi keluarga yang tinggal serumah menjadi kunci utama untuk memutus sirkulasi bakteri di wilayah prioritas tersebut," tambahnya.

Hambatan penanganan kusta di Jawa Barat memang bukan lagi soal teknis pengobatan, melainkan literasi kesehatan di Masyarakat. Rasa malu dan takut dikucilkan sering kali membuat penderita baru datang ke fasilitas kesehatan saat kondisi fisik sudah mengalami disabilitas tingkat lanjut.

Untuk meruntuhkan tembok tersebut, Jawa Barat menyiapkan infrastruktur kesehatan dalam mendukung program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan 2026.

Alih-alih mengkhususkan pemeriksaan kusta yang berpotensi melanggengkan stigma, pemerintah akan melakukan skrining massal secara simultan dengan penyakit kulit lainnya.

“Saat ini sebanyak 1116 puskesmas di Jabar telah memiliki kapabilitas untuk melaksanakan CKG 2026. Strategi ini dirancang sebagai layanan pemeriksaan menyeluruh dari rambut hingga ujung kaki yang dapat diakses secara gratis oleh Masyarakat,” tutur Vini.

Mengingat capaian tahun 2025 baru menyentuh angka 10 juta peserta dari total 51 juta penduduk, akselerasi dilakukan pada tahun 2026 dengan target 25 juta pemeriksaan. Fokusnya adalah menemukan kasus kusta, frambusia, dan penyakit kronis lainnya sedini mungkin agar penanganan medis dapat segera diberikan tanpa dipungut biaya.

Jawa Barat tidak hanya memancang target eliminasi nasional tahun 2030, tetapi juga target gubernur yaitu menyelesaikan masalah kusta pada tahun 2026. Target ini menjadi janji perlindungan bagi masa depan anak-anak Jawa Barat agar tidak ada lagi yang mengalami disabilitas permanen akibat keterlambatan penanganan.

"Kusta itu penyakit yang bisa sembuh total. Penularannya tidak semudah flu yang butuh kontak erat selama bertahun-tahun. Jadi jangan kucilkan mereka. Mari kita bantu keluarga dan tetangga kita. Cukup laporkan ke puskesmas, kita obati sedini mungkin agar kesembuhannya sempurna dan masa depannya tetap terjaga," pungkas Vini.

Pastikan Kesembuhan dan Hak Penyintas

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kusta bukanlah penyakit mistik atau kutukan, melainkan infeksi bakteri Mycobacterium leprae yang dapat disembuhkan total. Ia menekankan bahwa deteksi dini sangat krusial untuk mencegah kerusakan saraf permanen dan disabilitas.

Pemerintah menjamin pengobatan kusta tersedia secara gratis di seluruh puskesmas dengan efektivitas yang sangat tinggi. Budi menjelaskan bahwa risiko penularan kusta sebenarnya sangat rendah dan akan berhenti segera setelah pasien memulai perawatan medis.

"Begitu pengobatan dimulai, dalam waktu kurang dari satu minggu pasien sudah tidak menularkan lagi," tutur Budi seperti dikutip dari laman resmi Kemenkes RI.

Sebagai langkah preventif di wilayah prioritas, Kemenkes menerapkan strategi jemput bola dan pemberian obat pencegahan bagi orang yang memiliki kontak erat dengan pasien. Pendekatan ini diharapkan mampu memutus sirkulasi bakteri di tingkat keluarga dan masyarakat sebelum infeksi meluas.

Integrasi skrining kusta ke dalam program CKG juga terus diperluas untuk mendeteksi kasus sedini mungkin. Budi memandang, keberhasilan eliminasi kusta pada tahun 2026 memerlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari perbaikan sanitasi lingkungan hingga dukungan nutrisi bagi pasien kurang mampu.

"Kusta bukan penyakit mistik atau kutukan. Ini penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan ilmu pengetahuannya sudah jelas sejak lebih dari satu abad lalu. Kusta sudah ada obatnya dan bisa sembuh,” jelas Budi.

Dengan menghapus stigma dan memperkuat deteksi aktif, target Indonesia bebas kusta optimis dapat segera tercapai.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Selat Hormuz Ditutup, Begini Dampaknya Menurut Analis Pasar Modal
• 5 jam lalumediaindonesia.com
thumb
50 mahasiswa Unimed bantu pemulihan pascabencana di Langkat
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Tak Mudik? Transportasi Jakarta Gratis Saat Idulfitri, Ada Festival dan Diskon Besar
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Pramono Respons Serangan AS-Israel ke Iran: Mari Bersama Jaga Jakarta
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Kemenhaj Imbau Penundaan Keberangkatan Umrah, Pastikan Persiapan Haji Tetap Berjalan
• 11 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.