Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan awal pekan ini, Senin (2/3). Sejumlah analis memperkirakan pergerakan IHSG akan turut dipenngaruhi dinamika geopolitik yang tengah terjadi di Timur Tengah
Phintraco Sekuritas menyebut pergerakkan IHSG diwarnai sejumlah faktor. Misalnya meningkatnya eskalasi konflik setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran lewat udara dan laut pada Sabtu (28/2). Peristiwa ini meningkatkan risiko global.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan membuat investor global mengurangi eksposur pada aset berisiko. Kemudian tewasnya pemimpin tertinggi Iran dan sejumlah tokoh militer penting juga memicu kekhawatiran perang lebih luas, seiring potensi serangan balasan Iran ke pangkalan militer Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Menurut Phintraco Sekuritas, konflik Amerika Serikat–Iran berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar karena meningkatkan ketidakpastian global. Namun, sektor energi dan emas diperkirakan diuntungkan karena potensi kenaikan harga komoditas.
“Secara teknikal, jika IHSG menembus level 8.100 berpeluang menguji level 7.800-8.000,” tulis Phintraco dalam analisisnya, dikutip Senin (2/3). Namun peluang rebound atau bangkit tetap terbuka jika sentimen global mereda dan kondisi domestik solid.
Dari dalam negeri, pasar menantikan sejumlah data ekonomi, antara lain S&P Global Manufacturing PMI Indonesia (2/3), neraca perdagangan Januari 2026 (2/3), inflasi Februari 2026 (2/3), serta cadangan devisa Februari (6/3).
Di sisi lain, penurunan tarif dalam kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat dari 19% menjadi 15% berpotensi menjadi sentimen positif bagi sektor berbasis ekspor.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN).
Sementara Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai indeks masih berpeluang naik ke rentang 8.440–8.650. “Support IHSG berada di 8.025 dan 7.861, lalu resistance terdekat berada di 8.306 dan 8.437,” tulis Herditya dalam risetnya, Senin (2/3).
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Misalnya PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) akumulasi beli di rentang Rp 3.410–Rp 3.510 dengan target harga di Rp 3.660–Rp 3.810, sementara level stoploss di bawah Rp 3.390.
Kemudian PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) rekomendasikan buy on weakness pada area Rp 2.370–Rp 2.340 dengan target harga di Rp 2.490–Rp 2.590, serta stoploss di bawah Rp 2.300.




