REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr Dyah Pikanthi Diwanti, SE,MM (Dosen Prodi Ekonomi Syariah FSIP Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
Produktivitas di bulan Ramadhan bukan sekadar aktif bekerja dan berkarya, tetapi menjaga konsistensi (istiqamah) dalam kebaikan. Ramadhan melatih kedisiplinan, motivasi, dan keteguhan niat agar setiap aktivitas bernilai ibadah.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al-‘Asr: 1–3, manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ayat ini menegaskan bahwa waktu adalah nikmat besar yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Produktivitas dalam Islam berawal dari kemampuan mengelola waktu. Menghargai waktu berarti mengisinya dengan hal bermanfaat, baik dalam ibadah maupun aktivitas duniawi. Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk memperbaiki diri dan memaksimalkan potensi.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Produktivitas bukan hanya soal capaian, tetapi tentang niat. Ketika bekerja dan berkarya diniatkan mencari ridha Allah SWT serta memberi manfaat bagi sesama, maka seluruh aktivitas bernilai ibadah.
Ramadhan juga merupakan bulan ilmu dan amalan. Sejak awal penciptaan manusia, ilmu memiliki posisi sentral dalam Islam. Alquran berkali-kali menyebut pentingnya ilmu sebagai cahaya kehidupan. Menuntut ilmu (thalabul ‘ilmi) adalah ikhtiar berkelanjutan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu” (HR Thabrani). Ilmu yang diamalkan akan terjaga dan membawa keberkahan.
Semangat produktivitas Ramadhan dapat diwujudkan melalui dua langkah strategis. Pertama, menumbuhkan kedisiplinan dalam berbagai aktivitas. Disiplin ibadah seperti shalat tepat waktu, tilawah Alquran, serta berbagi kepada sesama membentuk karakter yang lebih teratur.
Di ranah ekonomi, Ramadhan menghadirkan peluang usaha, terutama sektor kuliner dan fesyen menjelang Idulfitri. Banyak pula wirausaha sosial yang menggabungkan aktivitas bisnis dengan semangat berbagi. Bagi pelajar dan mahasiswa, Ramadhan sering diisi dengan kegiatan tambahan yang memperkaya ilmu dan memperkuat spiritualitas.
Kedua, membangun pembiasaan baik yang berlandaskan Alquran. Produktivitas dalam Islam berorientasi pada ketakwaan—menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Alquran menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk terus bertumbuh. Ketakwaan adalah puncak kebaikan seorang hamba, yang menghadirkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dengan menjaga konsistensi dalam ilmu dan amalan, Ramadhan menjadi titik awal pembentukan karakter produktif yang berkelanjutan. Semoga kebiasaan baik yang dilatih selama bulan suci ini terus terjaga dan membawa keberkahan bagi kehidupan pribadi maupun sosial. Aamiin.




