Mekanisme pergantian kepemimpinan mulai dibahas usai tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyusul serangan Israel dan Amerika Serikat.
Sebanyak 88 anggota Majelis Ahli (Assembly of Experts) akan berkumpul untuk membahas siapa sosok yang akan menggantikan Khamenei seperti yang diberitakan Al-Jazeera, Minggu (1/3).
Terdapat dua skenario utama yang mengemuka. Pertama, sebelum wafat, Khamenei disebut telah menyiapkan empat nama calon pengganti. Namun, Majelis Ahli belum mengungkap nama-nama tersebut.
Skenario kedua adalah pembentukan dewan sementara beranggotakan empat orang yang akan menjalankan roda pemerintahan dalam masa transisi hingga pemimpin baru resmi dipilih.
Khamenei sebelumnya memang telah menunjuk nama calon penggantinya jika ia terbunuh dalam perang dengan Israel.
Seperti yang diberitakan Reuters pada Juni 2025 lalu, sebuah komite beranggotakan tiga orang dari badan ulama terkemuka, yang ditunjuk oleh Khamenei sendiri untuk mencari penggantinya, telah mempercepat perencanaannya.
Menurut lima sumber yang mengetahui pembahasan internal tersebut, Khamenei secara rutin menerima laporan perkembangan. Sumber-sumber itu menyebut, bila Khamenei tewas, elite penguasa akan segera menunjuk pengganti guna menegaskan stabilitas dan kesinambungan kekuasaan.
Menurut seorang sumber, kriteria calon pemimpin baru tersebut tetap mengutamakan kesetiaan pada prinsip revolusi Islam yang dirintis pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Dua nama disebut mencuat dalam diskusi internal yaitu Mojtaba Khamenei (putra dari Ali Khamenei) serta Hassan Khomeini (cucu dari Ayatollah Ruhollah Khomeini).
Namun, para sumber menekankan belum ada keputusan final, daftar kandidat bisa berubah, dan keputusan akhir tetap berada pada otoritas tertinggi.
Alireza Arafi Masuk Dewan Transisi Kepemimpinan Iran Usai Tewasnya Khamenei
Ayatollah Alireza Arafi ditunjuk sebagai anggota Dewan Kepemimpinan Sementara yang akan menjalankan fungsi pemimpin tertinggi hingga majelis Ahli memilih pengganti permanen.
Hal itu menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, usai serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada Sabtu (28/2).
Arafi, tokoh ulama yang juga anggota Dewan Penjaga Konstitusi, ditetapkan sebagai bagian dari dewan transisi bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Kepala Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei.
Penunjukan ulama berusia 67 tahun itu dikonfirmasi oleh Dewan Kebijaksanaan, lembaga berpengaruh yang berperan sebagai badan arbitrase dalam sistem politik Iran.
Arafi sendiri merupakan salah satu figur yang nantinya akan terlibat dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi Iran, seperti yang diberitakan Al-Jazeera, Minggu (1/3).
Di sisi lain, peran Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Larijani disebut akan tetap signifikan dalam dinamika kekuasaan Iran ke depan. Namun, sejauh ini belum jelas bagaimana keseimbangan kekuatan akan terbentuk di antaranya.
Situasi keamanan internal Iran juga masih bergejolak. Panglima tertinggi IRGC telah dibunuh untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, sementara sosok pengganti yang akan memimpin kekuatan militer dan ekonomi elite tersebut belum diumumkan.
Sejumlah kanal Telegram yang berafiliasi dengan IRGC menyebut Wakil Kepala IRGC Ahmad Vahidi sebagai kandidat kuat. Vahidi diketahui baru ditunjuk ke posisi tersebut oleh Khamenei dua bulan lalu.





