Saham Migas ELSA-MEDC Cs Terbang hingga Gap Up di Tengah Konflik Iran

idxchannel.com
11 jam lalu
Cover Berita

Saham sektor minyak dan gas (migas) mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan Senin (2/3/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Saham Migas ELSA-MEDC Cs Terbang hingga Gap Up di Tengah Konflik Iran. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Saham sektor minyak dan gas (migas) mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan Senin (2/3/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

Berdasarkan data perdagangan, PT Elnusa Tbk (ELSA) memimpin kenaikan dengan penguatan hingga membentuk gap up teknikal, sebesar 17,65 persen ke level Rp1.000 per unit, disusul PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) terbang 14,42 persen menjadi Rp238, dan Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang meningkat 12,75 persen menjadi Rp1.945 per unit.

Baca Juga:
Harga Emas Antam Hari Ini Melesat Rp50 Ribu, Jadi Rp3.135.000 per Gram

Sementara itu, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mendaki 10,51 persen ke level Rp1.945 per unit

Di posisi berikutnya, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) naik 5,78 persen, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) bertambah 6,18 persen ke Rp1.375, dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) meningkat 2,78 persen menjadi Rp7.400 per saham.

Baca Juga:
Harga Minyak Melonjak 7 Persen di Tengah Memanasnya Konflik Iran Vs AS-Israel

Volume perdagangan cukup tinggi, dengan MEDC mencatat 48,5 juta saham dan ELSA hingga 23,93 juta saham, menunjukkan antusiasme investor terhadap saham migas di tengah ketidakpastian geopolitik.

Sementara itu, harga minyak dunia melonjak 7 persen ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada Senin (2/3/2026) pagi, usai Iran dan Israel meningkatkan serangan di Timur Tengah yang merusak kapal tanker serta mengganggu pengiriman dari kawasan produsen utama tersebut.

Baca Juga:
Mata Uang Global Variatif Saat Krisis Timur Tengah Memanas, Dolar Menguat

Kontrak berjangka (futures) Brent sempat melesat ke USD82,37 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025, dalam perdagangan pertama setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada Sabtu.

Hingga pukul 07.54 WIB, Brent berada di USD78,24 per barel, terbang 7,37 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 6,95 persen menjadi USD71,68 per barel, setelah sempat menyentuh USD75,33, tertinggi sejak Juni 2025.

Melansir dari Reuters, Israel meluncurkan gelombang serangan baru ke Teheran pada Minggu dan Iran membalas dengan rentetan rudal tambahan, sehari setelah tewasnya Ali Khamenei yang mendorong Timur Tengah dan ekonomi global ke dalam ketidakpastian yang semakin dalam.

Serangan tersebut membuat kapal-kapal rentan terkena dampak lanjutan, setelah rudal menghantam sedikitnya tiga kapal tanker di lepas pantai Teluk dan menewaskan satu pelaut, menurut sumber pelayaran dan pejabat setempat.

Iran menyatakan telah menutup jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, memicu pemerintah dan kilang di Asia, sebagai pembeli utama, untuk mengevaluasi cadangan minyak mereka.

 “Dengan aksi balasan yang kini berkembang menjadi serangan terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz, ancaman terhadap pasokan minyak meningkat secara signifikan,” kata analis ANZ Daniel Hynes.

Analis Citi memperkirakan Brent bergerak di kisaran USD80 hingga USD90 per barel pekan ini di tengah konflik yang berlangsung.

“Pandangan dasar kami adalah kepemimpinan Iran berubah, atau rezim berubah cukup signifikan untuk menghentikan perang dalam satu hingga dua pekan, atau AS memutuskan melakukan de-eskalasi setelah melihat perubahan kepemimpinan dan kemunduran program rudal serta nuklir Iran dalam periode yang sama,” ujar analis Citi.

Di tengah konflik, OPEC+ pada Minggu menyepakati kenaikan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk April.

Analis RBC Capital Helima Croft mengatakan hampir seluruh produsen OPEC+ saat ini memproduksi mendekati kapasitas penuh, kecuali Arab Saudi.

“Pemanfaatan kapasitas cadangan akan sangat terbatas jika jalur perairan penting menjadi tidak dapat beroperasi,” ujarnya.

Risiko terhadap pelayaran komersial melonjak dalam 24 jam terakhir, dengan lebih dari 200 kapal, termasuk tanker minyak dan gas cair, menjatuhkan jangkar di sekitar selat dan perairan sekitarnya, menurut data pelayaran pada Minggu.

Direktur Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengatakan lembaganya secara aktif memantau perkembangan di Timur Tengah dan berkomunikasi dengan produsen utama di kawasan serta negara-negara anggota IEA. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jenazah Wapres Ke-6 RI Try Sutrisno Tiba di Rumah Duka
• 10 jam laluokezone.com
thumb
Dwi Sasetyaningtyas Terungkap Jadi CEO, Berikut Deretan Bisnis Alumni LPDP yang Viral Ini
• 15 jam laludisway.id
thumb
Tim Aghni Kinarya Juarai Ramadan Cook Off di JConnect Ramadan Vaganza 2026
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Saham MEDCO, BNBR dan BUMI Ramai Diburu Tatkala IHSG Kembali Anjlok 2,65%
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Bima Sakti Kecewa Persela Tumbang dari PSS di Pegadaian Championship: Banyak Peluang, Tapi Tak Jadi Gol
• 10 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.