Saham-saham emiten sektor emas melesat pada Senin (2/3/2026) pagi, seiring dengan gejolak geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah.
IDXChannel - Saham-saham emiten sektor emas melesat pada Senin (2/3/2026) pagi, seiring dengan gejolak geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah.
Serangan besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) bersama Israel ke wilayah Iran, yang berujung pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, telah memicu lonjakan harga emas di pasar global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven.
Hingga pukul 09.13 WIB, posisi terdepan ditempati oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang melonjak 6,7 persen ke level Rp1.035 per unit, dengan nilai transaksi Rp136,19 miliar, menunjukkan minat beli yang masif dari pelaku pasar.
Tak kalah agresif, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat 4,60 persen menjadi Rp4.550 per unit.
Emiten pelat merah ini mencatat nilai transaksi mencapai Rp263,09 miliar, menjadikannya salah satu saham paling aktif di sesi pagi.
Kemudian, diikuti oleh PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang naik 3,72 persen ke Rp1.950 per unit.
Sementara itu, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) juga ikut terdongkrak 3,60 persen hingga menyentuh Rp8.625 per saham/
Penguatan berlanjut pada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang naik 2,93 persen ke Rp3.860 per unit, disusul PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang menguat 2,78 persen menjadi Rp3.330 per unit, serta PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) yang bertambah 2,73 persen ke Rp565 per unit.
Harga emas dunia naik lebih dari 1 persen pada Senin (2/3) pagi setelah AS dan Israel melancarkan serangan besar ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, meningkatkan ketegangan geopolitik dan memperdalam ketidakpastian ekonomi global.
Emas spot tercatat naik 1,72 persen menjadi USD5.368,09 per troy ons pada pukul 07/10 WIB, mencapai level tertinggi dalam lebih dari empat minggu.
Israel melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran pada Minggu dan Iran membalas dengan rentetan rudal tambahan, sehari setelah tewasnya Khamenei yang mendorong Timur Tengah dan ekonomi global ke ketidakpastian yang semakin dalam.
“Kecuali eskalasi sebelumnya dalam konflik ini, kali ini ada insentif cukup kuat bagi kedua pihak untuk terus meningkatkan serangan. Dan itu berisiko menciptakan lingkungan yang cukup kacau, tidak pasti, dan volatil lebih dari beberapa hari. Dinamika untuk emas sangat positif,” ujar analis pasar keuangan senior di Capital.com, Kyle Rodda, dikutip Reuters.
Emas, sebagai aset safe-haven tradisional, telah mencetak rekor berturut-turut tahun ini akibat meningkatnya ketidakpastian politik dan ekonomi global.
Kenaikan terbaru ini melanjutkan lonjakan 64 persen pada 2025, yang didorong oleh pembelian kuat dari bank sentral, arus masuk yang besar ke reksa dana berbasis emas, dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS.
Minggu lalu, J.P. Morgan dan Bank of America menegaskan kembali bahwa harga emas bisa menembus level kunci USD6.000. J.P. Morgan memperkirakan permintaan dari bank sentral dan investor cukup tinggi tahun ini untuk mendorong harga mencapai USD6.300 per ons pada akhir 2026.
Data Jumat lalu menunjukkan harga produsen AS naik lebih dari perkiraan pada Januari, menandakan inflasi bisa meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Investor juga akan mengamati serangkaian data pasar tenaga kerja AS pekan ini, termasuk laporan pekerjaan ADP, klaim pengangguran mingguan, dan laporan non-farm payroll (NFP). (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





