PT Vale Indonesia Tbk mencatat penjualan perdana bijih nikel dari proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Transaksi ini menandai peralihan proyek dari tahap konstruksi, menuju fase operasional yang mulai menghasilkan pendapatan.
Proyek dengan nilai investasi terintegrasi sekitar Rp74,44 triliun atau setara US$4,43 miliar tersebut, menjadi salah satu penguatan portofolio strategis perseroan dalam industri nikel nasional.
IGP Pomalaa juga diposisikan sebagai bagian dari agenda hilirisasi, untuk meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri.
Penjualan perdana ini dilakukan setelah aktivasi area oresell di Pit PB5 dan Pit PB1.
Kedua pit tersebut memiliki kapasitas penampungan hingga 4 juta wet metric ton (Mwmt) bijih limonit, yang memberikan fleksibilitas inventori sekaligus menjaga stabilitas arus material menuju fasilitas pengolahan.
Director and Chief Project Officer PT Vale Muhammad Asril mengatakan, aktivasi fasilitas tersebut memastikan distribusi material berjalan optimal dan mendukung target produksi proyek.
“Peresmian area oresell di Pit PB5 dan PB1 merupakan langkah strategis, untuk menjaga ritme produksi dan memastikan distribusi material berjalan optimal,” ujar Asril, dikutip pada Senin (2/3/2026).
Memasuki Maret 2026, IGP Pomalaa ditargetkan memproduksi sekitar 300.000 ton limonit per bulan, atau sekitar 9.677 ton per hari.
Dengan kapasitas penyimpanan mencapai 4 Mwmt, proyek ini dinilai memiliki buffer persediaan yang cukup untuk menjaga konsistensi suplai, dan memitigasi potensi gangguan operasional.
Dari sisi pembangunan fisik, progres konstruksi keseluruhan proyek hingga Januari 2026 telah mencapai 65,76 persen.
Sementara, pembangunan Main Haul Road (MHR) menuju stockpile telah terealisasi sekitar 40 persen, yang akan menjadi jalur utama distribusi material dari tambang ke fasilitas pengolahan dan pelabuhan.
IGP Pomalaa dikembangkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis, seiring meningkatnya kebutuhan nikel untuk baterai lithium-ion, khususnya pada kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.
Sebelumnya, Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Bernardus Irmanto menjelaskan, IGP Pomalaa merupakan proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL), dengan progres paling signifikan dibanding dua proyek IGP lainnya yang tengah dikembangkan, yakni Morowali dan Sorowako.
Proyek ini dikembangkan bersama Huayou (Tiongkok) dan Ford Motor Company (Amerika Serikat).
Untuk mendukung pabrik berkapasitas 120 ribu ton per tahun (ktpa) mixed hydroxide precipitate (MHP), PT Vale membutuhkan pasokan sekitar 21 juta ton limonit dan 7 juta ton saprolit per tahun.
Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR, Senin (19/1/2026), Bernardus melaporkan dua unit autoclave telah tiba di lokasi, sementara lima unit lainnya dijadwalkan menyusul.
Baca Juga: Sepanjang 2025, Vale Cetak 2 Jutan Ton Produksi dan Penjualan Bijih Nikel
"Jadi, kami harus memulai kegiatan penambangan tahun ini."
"Kemudian, pada Agustus itu paling tidak sudah tersedia stockpile untuk kebutuhan tiga bulan,” jelas Bernardus. (*)





