Bisnis.com, JAKARTA – Ketegangan yang kian memuncak antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, disebut telah membuat pasar keuangan global mengambil sikap risk-off. Kalangan analis menilai, penting bagi investor untuk menahan diri dan bersikap wait and see terhadap pasar investasi.
Ketakutan investor terhadap kondisi geopolitik terkini tecermin dari kinerja sejumlah indeks saham. Di Jepang, indeks Nikkei 225 terkoreksi 1,55% dan di China, SSE Composite Index terkoreksi 0,46% pada pembukaan perdagangan hari ini. Sementara di dalam negeri, IHSG dibuka terkoreksi lebih dari 1% pada perdagangan pagi hari.
”Pasar memasuki pekan ini dengan risiko geopolitik sebagai driver utama,” kata Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia dalam riset hariannya, Senin (2/3/2026).
Kendati emiten-emiten yang terafiliasi dengan bisnis energi dan logam mulia dinilai dapat menjadi sektor defensif utama dalam kasus ini, tetapi Liza menyarankan investor untuk mengurangi eksposur di aset berisiko dan cenderung menerapkan sikap wait and see.
Pasalnya, Liza menilai pasar saham dan mata uang high-beta akan rentan mengalami volatilitas yang tinggi pada awal pekan ini. Selama sepekan, pasar akan mencermati keberlanjutan konflik dan dampaknya terhadap penutupan Selat Hormuz.
”Menanggapi perkembangan terakhir, tensi geopolitik yang makin memanas dan sepertinya belum akan reda dalam waktu dekat, Kiwoom menyarankan untuk mengurangi posisi portfolio dan perbanyak sikap wait and see untuk sementara waktu,” katanya.
Baca Juga
- IHSG Hari Ini (2/3) Uji Support 8.100 Dibayangi Sentimen Perang AS-Iran
- Emas Dunia Bidik Level US$5.220, Intip Sentimen Pendorongnya
- Depresiasi Rupiah dan Sentimen Moody's Tak Gentarkan Emisi Obligasi Korporasi
Meskipun begitu, Kiwoom tidak menutup kemungkinan terhadap peluang capital gain di saham-saham berbasis komoditas. Berkaca pada perang Rusia—Ukraina pada 2022 lalu, pasar saham Tanah Air dinilai masih diuntungkan lantaran kenaikan harga komoditas.
Kiwoom merekomendasikan saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) dengan target harga Rp1.335—Rp1.375, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA) pada target harga Rp665—Rp685, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) dengan target harga Rp1.780—Rp1.835, dan saham PT Timah Tbk. (TINS) pada target harga Rp4.740—Rp4.880.
”Walau berspekulatif tinggi, potensi trading saham-saham berbasis komoditas terdampak perang, seperti energi dan emas mungkin bisa dilirik, dengan mengedepankan disiplin manajemen keuangan yang ketat,” tegasnya.
Senada, OCBC Sekuritas juga memprediksi IHSG akan bergerak pada level yang melemah secara jangka pendek, seiring dengan tekanan arus keluar dana asing dan volatilitas rupiah akibat perang di Timur Tengah.
Menurut analisis OCBC, implikasi dari ketegangan ini bersifat dua arah terhadap pasar keuangan. Pertama, guncangan harga minyak berpotensi meningkatkan risiko inflasi global dan volatilitas yang memicu investor melakukan risk-off.
Kedua, kendati pasar saham Tanah Air berpotensi mengalami koreksi lantaran arus keluar dana asing, tetapi peluang penguatan harga saham masih terbuka di beberapa sektor. Terutama di sektor-sektor yang berbasis energi dan emas.
”Kinerja saham sektoral kemungkinan akan bervariasi, dengan saham energi, pelayaran, dan berbasis emas berpotensi outperform di tengah kenaikan harga komoditas dan lonjakan tarif angkutan. Sementara sektor lain berisiko tertinggal,” jelas para analis dalam riset yang diterima Bisnis, Senin (2/3/2026).
Dus, kondisi risk-off ini masih menyisakan ruang bagi investor untuk berinvestasi. OCBC Sekuritas menyarankan investor untuk mengakumulasi saham dengan fundamental yang solid, seperti BBCA, BBRI, BMRI, AMRT, ICBP, atau saham-saham berbasis emas, seperti ANTM, ARCI, MDKA, hingga EMAS.
Selain itu, para analis juga merekomendasikan saham unggas seperti CPIN atau JPFA yang memiliki orientasi fundamental pada daya serap domestik, serta emiten pertambangan logam seperti INCO, MBMA, hingga TINS lantaran risiko pengetatan pasokan.
”Kami juga melihat peluang taktis di sektor energi seperti MEDC, ENERG, RAJA, dan pelayaran seperti BULL, SOCI, didukung momentum kenaikan harga energi,” jelas OCBC.





