FAJAR, SURABAYA — Dalam sepak bola, perubahan besar kadang tidak lahir dari skema taktik yang rumit atau perekrutan pemain mahal. Ia bisa datang dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: percakapan.
Gali Freitas merasakannya sendiri.
Sebelum kehadiran pelatih Bernardo Tavares, winger asal Timor Leste itu hanyalah bagian biasa dari dinamika Persebaya Surabaya musim ini. Pergerakannya aktif, kontribusinya ada, tetapi belum benar-benar menentukan. Dua gol dan tiga assist dari 15 pertandingan menempatkannya sebagai pemain pelengkap, bukan pusat ancaman.
Namun situasi berubah perlahan sejak Tavares mengambil kendali.
Bukan perubahan drastis yang langsung terlihat dalam satu pertandingan, melainkan transformasi bertahap—cara bermain yang lebih berani, keputusan yang lebih cepat, serta naluri menyerang yang semakin tajam di area penalti lawan.
Hasilnya nyata. Empat gol dan tiga assist tambahan lahir setelah pergantian kepelatihan. Total enam gol dan enam assist musim ini menjadikan Gali salah satu pemain paling produktif Persebaya.
Angka itu bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan perubahan mentalitas.
Gali mengungkapkan, pendekatan Tavares berbeda dari pelatih sebelumnya. Sang pelatih tidak hanya berbicara di ruang taktik, tetapi juga membangun hubungan personal dengan pemainnya.
“Dia selalu mengajak pemain bertemu secara personal, termasuk saya,” ujar Gali, mengenang proses yang menurutnya menjadi titik balik performanya.
Pertemuan-pertemuan individu tersebut membuka ruang dialog yang jarang terjadi dalam rutinitas tim profesional yang padat. Di situlah Tavares memberikan evaluasi detail—tentang posisi, kontrol bola, hingga pengambilan keputusan saat menyerang.
Bagi Gali, perhatian semacam itu menghadirkan rasa percaya diri baru.
Ia tidak lagi sekadar menjalankan instruksi, melainkan memahami perannya secara utuh di lapangan. Setiap gerakan memiliki tujuan, setiap penetrasi membawa keyakinan.
“Karisma Coach Tavares melengkapi semuanya,” katanya. Kalimat sederhana yang menggambarkan bagaimana kepercayaan pelatih dapat mengubah cara seorang pemain memandang dirinya sendiri.
Perubahan tersebut kini menjadi perhatian serius bagi Persib Bandung.
Jika sebelumnya lini belakang lawan lebih fokus pada nama-nama besar seperti Ramadhan Sananta atau striker utama lainnya, kini ancaman justru datang dari sisi lapangan. Gali menjadi tipe winger modern—tidak hanya melebar, tetapi aktif masuk ke kotak penalti, mencari ruang kosong, dan muncul tanpa terdeteksi.
Gerakan diagonalnya kerap memecah organisasi pertahanan lawan. Ia bukan pemain yang menunggu bola, melainkan menciptakan momentum.
Dalam sistem permainan Tavares, peran winger memang mengalami redefinisi. Mereka tidak lagi sekadar penyedia umpan silang, tetapi menjadi penyerang kedua yang menyerang ruang kosong saat bek tengah kehilangan fokus.
Itulah yang membuat Gali terasa lebih berbahaya.
Persib Bandung kemungkinan besar akan menghadapi dilema taktik. Menutup ruang di tengah berarti membuka celah di sayap. Namun memberi ruang kepada Gali sama saja mengundang ancaman langsung ke jantung pertahanan.
Di Stadion Gelora Bung Tomo, atmosfer pertandingan dipastikan akan memperbesar intensitas permainan. Dukungan Bonek sering kali memberi dorongan emosional yang membuat pemain tampil melampaui batas normalnya.
Bagi Gali, laga melawan Persib bukan sekadar pertandingan lanjutan kompetisi. Ini adalah panggung pembuktian bahwa transformasinya bukan kebetulan.
Bahwa ia bukan lagi pemain pelengkap.
Dan bagi Persib, ancaman terbesar mungkin bukan striker yang berdiri di depan gawang, melainkan sosok yang datang dari sisi lapangan—diam-diam, cepat, dan mematikan.
Nama itu kini jelas: Gali Freitas.





