EtIndonesia. Pada 28 Februari siang hari, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara gabungan terhadap ibu kota Iran, Teheran. Insiden ini segera memicu perbincangan luas di media sosial, dengan sejumlah komentar menyerukan agar rezim Iran dilenyapkan.
Menurut laporan berbagai media internasional, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, secara resmi mengumumkan bahwa pihaknya telah melancarkan “serangan pencegahan terlebih dahulu” terhadap Iran. Israel menetapkan status darurat khusus secara nasional, mengeluarkan peringatan kepada warga untuk bersiap menghadapi kemungkinan serangan rudal balasan, serta menutup wilayah udaranya tanpa batas waktu. Seluruh penerbangan sipil dilarang lepas landas dan mendarat, dan masyarakat diminta untuk sementara waktu tidak menuju bandara.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengonfirmasi keterlibatan militer AS dalam serangan tersebut. Menurut laporan Associated Press, seorang pejabat AS dan sumber yang mengetahui operasi tersebut menyatakan bahwa Amerika turut berpartisipasi dalam serangan udara Israel ke Teheran, meski tingkat keterlibatannya belum dijelaskan secara rinci.
Tak lama setelah itu, Pentagon merilis pernyataan resmi yang menamai operasi mendadak tersebut sebagai “Operasi Lion’s Roar” (Auman Singa), menandakan bahwa aksi ini telah meningkat menjadi operasi militer berskala besar.
Trump juga menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran, menyerukan agar mereka mengambil tindakan dan mengambil alih pemerintahan setelah operasi militer berakhir. Ia mengatakan, “Ini mungkin satu-satunya kesempatan dalam beberapa generasi bagi Anda.”
Reaksi Media Sosial dan Seruan Politik
Serangan tersebut memicu diskusi hangat di platform X (sebelumnya Twitter). Sejumlah unggahan bernada dukungan bermunculan, antara lain:
“Iran hari ini merayakan hari terbesar dalam 47 tahun terakhir. Saatnya rakyat bersuka cita! Turut berbahagia untuk rakyat Iran yang berani!”
“Tuhan memberkati Israel! Tuhan memberkati Amerika! Hancurkan rezim Iran! Bebaskan rakyat Iran!”
“Arah sejarah, kondisi geografis, dan dukungan rakyat tidak berpihak pada rezim Islam Iran yang dianggap jahat ini. Kerja sama AS–Israel terhadap Khamenei hanyalah awal. Sasaran akhirnya adalah Partai Komunis Tiongkok. Xi Jinping sedang gemetar.”
Ada pula komentar yang memuji Trump karena dinilai menepati janji kepada rakyat Iran, meskipun disebut terlambat satu bulan.
Beberapa unggahan bahkan mengklaim bahwa warga Teheran turun ke jalan untuk merayakan runtuhnya rezim, meski berada dalam risiko serangan udara. “Kami sudah tahu hari ini akan tiba!” tulis salah satu unggahan, merujuk pada gelombang protes yang disebut telah berlangsung dua bulan dan menelan banyak korban jiwa.
Komentar lain menyatakan bahwa warga Iran tetap tenang karena percaya bahwa serangan AS dan Israel hanya menyasar pejabat tinggi dan elite pemerintahan, bukan rakyat sipil. Ada pula klaim bahwa tuduhan mengenai serangan terhadap warga sipil hanyalah propaganda yang direkayasa.
Beberapa unggahan video yang beredar memperlihatkan kelompok anak muda Iran bersorak setelah muncul kabar bahwa kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, terkena rudal. Dalam salah satu video terdengar teriakan, “Mereka mengenainya! Bagaimana perasaanmu?” yang dijawab dengan, “Luar biasa!” Unggahan itu disertai klaim bahwa seluruh Iran telah lama menantikan momen tersebut.
Komentar lainnya menulis, “Hari ini Teheran, besok Beijing,” serta mempertanyakan kapan rakyat Tiongkok akan menyaksikan momen bersejarah serupa.
Analisis dan Dampak Geopolitik
Penulis yang bermukim di Taiwan, Wang Hao, menulis bahwa Xi Jinping kembali kehilangan sekutu dekat. Ia berpendapat bahwa Iran kini berada dalam pusaran kehancuran: di luar menghadapi serangan rudal AS–Israel, di dalam menghadapi runtuhnya nilai mata uang dan krisis ekonomi.
Menurutnya, badai militer dan ekonomi ini tengah menggerogoti apa yang disebut sebagai “poros otoriter” Tiongkok–Rusia–Iran. Jika terjadi perubahan rezim di Iran, Beijing dinilai berpotensi kehilangan pasokan energi dan posisi tawar strategisnya. Ia menggambarkan aliansi otoriter tersebut tampak kuat di permukaan, tetapi rapuh secara fundamental.
Pernyataan Putra Mahkota Iran di Pengasingan
Pada hari yang sama, Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, juga merilis pernyataan. Ia menyebut bahwa bantuan yang dijanjikan Presiden AS kepada rakyat Iran kini telah terealisasi. Menurutnya, bantuan tersebut merupakan bentuk intervensi kemanusiaan yang menargetkan rezim Republik Islam dan mesin penindasannya, bukan negara Iran atau rakyatnya.
Ia menyerukan agar masyarakat tetap waspada dan siap bertindak. Ia juga menyatakan akan secara pribadi memberi tahu publik pada waktu yang tepat untuk kembali turun ke jalan dan melancarkan perjuangan terakhir.
Reza Pahlavi menegaskan bahwa kemenangan akhir akan diraih oleh rakyat Iran sendiri. “Kita sudah sangat dekat dengan kemenangan akhir,” ujarnya. (jhon)
Sumber : NTDTV.com


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F03%2F02%2F6804925198da6fcbff7825bb514a2e24-20260302_154610.jpeg)

