IHSG Melemah Mengikuti Bursa Asia Akibat Eskalasi Konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat

pantau.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah mengikuti pelemahan bursa kawasan Asia seiring meningkatnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

IHSG dibuka turun 23,95 poin atau 0,29 persen ke posisi 8.211,31.

Indeks LQ45 ikut turun 2,99 poin atau 0,36 persen ke posisi 834,90.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyatakan bahwa pelaku pasar memasuki pekan ini dengan risiko geopolitik sebagai pendorong utama pergerakan pasar.

“Kiwoom Research sarankan untuk kurangi posisi portofolio dan perbanyak sikap wait and see untuk sementara waktu,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sektor energi dan logam mulia menjadi pilihan defensif utama, sementara ekuitas global dan aset berisiko menghadapi volatilitas tinggi.

“Fokus utama investor, yaitu durasi konflik dan tingkat eskalasi, stabilitas Selat Hormuz, dan arah harga minyak di atas 90-100 dolar AS per barrel,” katanya.

Bursa Global Tertekan Konflik

Bursa Asia mengalami pelemahan luas pada perdagangan pagi itu.

Indeks Nikkei turun 1,54 persen, Shanghai melemah 0,47 persen, Hang Seng terkoreksi 2,62 persen, Kuala Lumpur turun 0,87 persen, dan Strait Times melemah 2,03 persen.

Bursa Kuwait sempat menghentikan perdagangan akibat tekanan pasar.

Uni Emirat Arab menutup pasar sahamnya pada Senin dan Selasa menyusul serangan Iran.

Dari kawasan Eropa, Uni Eropa menyerukan “maximum restraint”, perlindungan warga sipil, penghormatan penuh terhadap hukum internasional, serta pencegahan eskalasi yang dapat mengganggu Selat Hormuz dan berdampak pada ekonomi global.

Di Amerika Serikat, indeks Dow Jones pada Jumat 27 Februari turun 1,05 persen ke 48.977,92.

  • Indeks S&P 500 terkoreksi 0,43 persen ke 6.878,88.
  • Indeks Nasdaq melemah 0,92 persen ke 22.668,21.
Investor Nantikan Data Domestik

Pelaku pasar domestik menantikan rilis data inflasi Februari 2026 dan neraca perdagangan Januari 2026.

Neraca perdagangan diperkirakan mencatat surplus meningkat menjadi 2,76 miliar dolar AS.

Berkaca pada Perang Rusia dan Ukraina pada 2022, pasar Indonesia yang berbasis komoditas dinilai berpotensi diuntungkan apabila harga komoditas global meningkat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jusuf Kalla Sebut Konflik Timur Tengah Berpotensi Ganggu Impor Minyak R
• 9 jam lalueranasional.com
thumb
Bobby Pertanyakan Rendahnya Alokasi Dana Rehabilitasi Pascabencana
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Belum Lama Jadi Mualaf, Pelatih Asal Brazil ini Begitu Happy Bisa Menjalankan Puasa Ramadhan di Indonesia
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
IKA ITS Jatim Berbagi Perkuat Kepedulian Sosial dan Program Berkelanjutan
• 14 jam lalutvrinews.com
thumb
Sahanan Tewas Diterkam Harimau Usai Pamit Cari Ikan
• 8 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.