Di Balik Keputusan Serangan AS ke Iran: Trump Diberi Peringatan “Risiko Tinggi, Imbal Hasil Tinggi”

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

Sejumlah pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Reuters bahwa sebelum militer AS melancarkan serangan ke Iran, Presiden Donald Trump menerima pengarahan khusus di Gedung Putih. Dalam pengarahan tersebut ditegaskan bahwa pasukan AS berisiko menghadapi korban besar, namun operasi ini juga dinilai sebagai langkah “berisiko tinggi, dengan imbal hasil tinggi” yang berpotensi membawa perubahan langka dan bersejarah bagi kawasan tersebut.

EtIndonesia. Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer gabungan dengan sandi “Operation Epic Fury” (Operasi Amarah Epik), menyerang sejumlah lokasi di Iran. Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap Israel serta beberapa negara Arab di sekitar Teluk Persia.

Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sebelum serangan dimulai, tim pemberi pengarahan menyampaikan kepada Trump bahwa ini adalah operasi dengan “risiko tinggi dan imbal hasil tinggi” yang dapat membuka peluang perubahan yang jarang terjadi dalam satu generasi di kawasan tersebut.

Trump sendiri tampaknya menyetujui penilaian tersebut. Saat operasi dimulai, ia secara terbuka mengakui risiko perang, dengan mengatakan bahwa “pahlawan-pahlawan Amerika yang pemberani mungkin akan kehilangan nyawa.” Namun ia menambahkan, “Kami melakukan ini bukan untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Ini adalah sebuah misi yang mulia.”

Sebelum secara resmi mengumumkan dimulainya pertempuran, Trump menyatakan:
“Selama 47 tahun, rezim Iran meneriakkan ‘Matilah Amerika’ dan melancarkan pertumpahan darah tanpa henti serta pembantaian besar-besaran… Kita tidak bisa lagi mentolerir situasi ini.”

Serangan militer terhadap Iran ini dipandang sebagai operasi paling berisiko yang dilancarkan Amerika Serikat sejak Perang Irak tahun 2003.

Rangkaian Pengarahan Tingkat Tinggi

Sebelum memberikan lampu hijau, Trump menerima pengarahan dari sejumlah pejabat tinggi, termasuk Direktur CIA John Ratcliffe, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Jenderal Brad Cooper, juga terbang ke Washington pada 26 Februari untuk mengikuti pembahasan di Ruang Situasi Gedung Putih.

Pejabat lain menyebutkan bahwa Gedung Putih telah menerima penilaian risiko menyeluruh sebelum serangan, termasuk kemungkinan Iran membalas dengan serangan rudal terhadap berbagai pangkalan militer AS di kawasan, serta aksi milisi proksi Iran yang menargetkan pasukan Amerika di Irak dan Suriah.

Meski Amerika telah mengerahkan kekuatan militer dalam jumlah besar ke kawasan tersebut, sistem pertahanan udara yang dikerahkan secara darurat tetap memiliki keterbatasan.

Target Strategis Trump

Beberapa pekan sebelum serangan, Trump memerintahkan peningkatan besar-besaran kehadiran militer AS di Timur Tengah. Reuters melaporkan bahwa militer AS telah menyusun rencana untuk kemungkinan operasi berkelanjutan terhadap Iran, termasuk skenario penargetan pejabat tinggi tertentu.

Pejabat Israel menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian termasuk dalam daftar target utama operasi tersebut.

Pada hari pelaksanaan operasi, Trump secara tegas menyatakan bahwa tujuannya di Iran sangat luas dan strategis, termasuk mengakhiri ancaman Teheran terhadap Amerika Serikat serta memberi kesempatan kepada rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut, ia memaparkan rencana menghancurkan sebagian besar kekuatan militer Iran dan mencegah negara itu memproduksi senjata nuklir.

“Kami akan menghancurkan rudal-rudal mereka, meratakan industri rudal mereka… Kami akan sepenuhnya menghancurkan angkatan laut mereka,” ujar Trump.

 “Kami akan memastikan bahwa proksi-proksi teroris di kawasan ini tidak lagi mampu mengganggu stabilitas regional maupun global, dan tidak lagi menyerang pasukan kami.”

Reuters menilai keputusan Trump menunjukkan tingkat keberanian mengambil risiko yang lebih tinggi dibandingkan bulan lalu, ketika ia memerintahkan pasukan khusus AS masuk ke Venezuela dalam operasi berani untuk menangkap presiden negara tersebut.

Operasi militer terhadap Iran kali ini juga dinilai lebih berisiko dibandingkan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran yang diperintahkan Trump pada  Juni lalu. (Jhon)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Buka Puasa Hari Ini, 1 Maret 2026, Kota Bandung: Nikmati Keberkahan Berbuka
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
Rupiah Melemah Senin Pagi Dampak Perang AS-Iran
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Putusan MK: Penyakit Kronis Bisa Ditetapkan Disabilitas dengan Asesmen
• 4 jam laludetik.com
thumb
BPKH Sabet Gelar Lembaga Terpatuh dalam Pengelolaan Keuangan Versi BPK
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Shalat Dhuha di Waktu ini Kata Ustaz Adi Hidayat Bisa Bantu Lunaskan Utang Anda
• 7 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.