Harga Saham Emiten Energi dan Tambang Melonjak

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Pasar saham RI dibuka melemah pada awal perdagangan Senin (2/3/2026), di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Dalam situasi ini, harga saham perusahaan yang bergerak di bidang energi dan tambang mengalami lonjakan seiring dengan kenaikan harga komoditas global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di level 8.092 dan hingga pukul 10.30 WIB, turun 1,6 persen ke posisi 8.100. Dalam rentang perdagangan pagi, IHSG sempat menyentuh level terendah 8.039.

Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengimbau investor tetap tenang dan rasional dalam menghadapi volatilitas pasar.

“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental. Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing-masing,” ujarnya kepada media dalam keterangan tertulis, Senin pagi.

Pelemahan terjadi di mayoritas sektor, kecuali energi dan bahan baku. Indeks saham unggulan LQ45 turun lebih dalam 1,3 persen. Sementara indeks IDX30 melemah 1,4 persen.

Pelemahan ini sejalan dengan sentimen negatif dari ketegangan di Timur Tengah yang meningkat. Amerika Serikat dan Israel pada akhir pekan lalu melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah target strategis Iran dalam operasi militer yang diberi sandi Operation Epic Fury.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan ratusan warga Iran, termasuk pejabat militer penting dan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran membalas dengan serangan rudal balistik ke sejumlah wilayah yang menjadi basis militer AS dan sekutunya di kawasan Teluk. Eskalasi ini memicu kekhawatiran perang terbuka yang lebih luas.

Situasi semakin kompleks setelah Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pembatasan akses Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20–25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia.

Baca JugaLonjakan Harga Minyak Efek Serangan ke Iran Berpotensi Tekan APBN dan Picu Inflasi

Gangguan pada jalur logsitik internasional di Selat Hormuz akibat eskalasi konflik tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga energi global dan meningkatkan premi risiko. Harga minyak mentah Brent hari ini melonjak 5 persen ke harga 78 dolar AS per barel. Harga emas dunia naik 1,4 persen ke level harga 5.355 dolar AS per troy ons.

Investor pasar saham RI pun merespon dengan mengakumulasi saham-saham berbasis komoditas energi dan tambang.

Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melonjak 9,4 persen ke level Rp 10.125, tertinggi sejak melantai di bursa pada 2024. Saham tambang emas PT Merdeka Gold Resources Tbk menguat 3,6 persen ke Rp 8.625, sementara PT Aneka Tambang Tbk naik 4 persen menjadi Rp 4.520.

Selain itu, saham PT Rukun Raharja Tbk yang bergerak di distribusi gas bumi melesat 5,7 persen ke Rp 4.760.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menilai perkembangan geopolitik global menjadi faktor dominan yang membayangi sejak pekan lalu. Pada minggu terakhir di Februari, 23–27 Februari 2026, IHSG tercatat terkoreksi 0,44 persen atau 36,28 poin ke level 8.235.

Pada pekan lalu, pelemahan IHSG juga dipengaruhi pembatalan tarif impor AS dan bea masuk antisubsidi panel surya ke AS yang menambah ketidakpastian ekonomi. Dari domestik, ada sentimen negatif setelah lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memperingatkan meningkatnya tekanan fiskal Indonesia.

IPOT, menurut Imam, memproyeksikan IHSG pekan ini bergerak penuh gejolak dengan kecenderungan konsolidasi dengan batas bawah di 8.031 dan batas atas di 8.437.

Menurut Imam, eskalasi konflik dan potensi gangguan Selat Hormuz menjadikan sektor energi dan komoditas sebagai sektor paling sensitif.

Kenaikan harga minyak dan batubara dapat menopang kinerja emiten energi dari sisi harga jual rata-rata (ASP). Namun, lonjakan harga energi yang terlalu tajam berisiko meningkatkan inflasi global dan menekan nilai tukar rupiah.

“Jika rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik, volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko,” katanya.

Selain dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, pergerakan harga energi, pasar saham juga dinilai akan terpengaruh sentimen rilis sejumlah data penting, seperti PMI Manufaktur Indonesia, neraca perdagangan, inflasi Februari, cadangan devisa, serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat.

Baca JugaSerangan Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak dan Emas, Rupiah Tertekan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengendara Motor Terjatuh dari Fly Over Pasar Pagi 
• 20 jam lalurealita.co
thumb
Kapolri Pimpin Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Kesiapan Ops Ketupat 2026
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
Konflik AS–Israel–Iran: Hukum Internasional, Board of Peace, dan Indonesia
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Pantas Saja Jay Idzes Bisa Bikin Sensasi, Media Italia Soroti Keterpurukan Atalanta usai Ditekuk 10 Pemain Sassuolo
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Anggaran Kemendikdasmen 2026 Naik, Tunjangan Guru Tembus Rp 88 Triliun
• 2 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.