JAKARTA,KOMPAS - Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengenang interaksinya dengan Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno yang berpulang pagi ini. Kontribusinya kepada bangsa terentang hingga akhir hayat.
"Saya dan keluarga sangat berduka cita atas wafatnya Pak Try Sutrisno. Bangsa Indonesia kehilangan seorang tokoh militer sekaligus negarawan yang bersahaja, teguh dalam prinsip, dan penuh ketulusan dalam mengabdi," ujar Yusril melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Yusril mengenang kedekatannya dengan almarhum yang telah terjalin sejak awal dekade 1980-an, ketika Try Sutrisno menjabat sebagai Panglima Kodam Jaya pada 1983.
Hubungan tersebut berlanjut ketika Yusril mulai bertugas di Sekretariat Negara pada 1993, bertepatan dengan masa awal Try Sutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden.
"Pada masa itu, saya bertugas menyiapkan naskah-naskah kepresidenan, termasuk teks pidato Wakil Presiden, di bawah arahan Mensesneg (Menteri Sekretaris Negara) Bapak Moerdiono. Sesekali saya bertemu Pak Try. Beliau sangat baik, ramah, dan menghargai kami yang saat itu masih tergolong generasi muda," kenang Yusril.
Yusril mengungkapkan kesan mendalam terhadap sosok Try Sutrisno tidak hanya terlihat dalam perannya sebagai pejabat negara, tetapi juga dalam sikap pribadinya yang sederhana dan penuh keikhlasan.
Interaksi semakin intens dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika Yusril menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara dan ditugaskan oleh Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono untuk berkomunikasi dengan Try Sutrisno terkait gagasan kembali ke UUD 1945 naskah asli yang disahkan pada 18 Agustus 1945.
"Beliau adalah pribadi yang ikhlas dan teguh pendirian. Dalam berbagai diskusi kebangsaan, saya melihat komitmen beliau yang kuat terhadap konstitusi dan masa depan negara. Kesederhanaan hidupnya juga sangat membekas. Saya beberapa kali berkunjung ke kediaman beliau di Menteng, dan selalu disambut dengan penuh keramahan dan kebaikan hati," tambahnya.
Yusril menilai, almarhum Try Sutrisno merupakan figur teladan yang menunjukkan bahwa pengabdian kepada bangsa tidak selalu ditunjukkan dengan retorika besar, melainkan dengan konsistensi, integritas, dan kerendahan hati sepanjang hayat.
Ucapan duka cita juga disampaikan dari parlemen. Salah satunya dari Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPR Jazilul Fawaid.
“Bangsa Indonesia berduka. Kita kehilangan salah satu putra terbaik bangsa yang telah memberikan pengabdian panjang bagi negara. Atas nama Fraksi PKB DPR, saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga besar almarhum,” ujar Jazilul.
Menurutnya, semasa hidupnya, Try Sutrisno dikenal sebagai sosok yang baik, tegas, dan bersahaja. Dedikasi dan integritasnya dalam mengemban amanah negara menjadi teladan bagi generasi penerus.
Try Sutrisno merupakan tokoh nasional yang banyak menduduki jabatan strategis. Selain Wapres, ia pernah menjabat Panglima ABRI (1988–1993), Kepala Staf TNI Angkatan Darat (1986–1988), serta Wakil Kepala Staf Angkatan Darat pada 1985, di samping berbagai penugasan penting lainnya selama karier militernya.
“Beliau adalah figur negarawan yang konsisten menjaga nilai-nilai kebangsaan. Bahkan di usia senja, beliau tetap menunjukkan sikap tegas dan kritis terhadap berbagai persoalan bangsa. Masukan dan pandangan beliau selalu ditujukan demi Indonesia yang lebih baik,” ucapnya.
Berdasarkan informasi yang diterima Kompas, Try Sutrisno tutup usia di RSPAD Gatot Subroto pada pukul 06.58 WIB, pagi ini. Almarhum sudah masuk ke ruang perawatan sejak 16 Februari lalu.
Try Sutrisno menjabat sebagai Wapres mendampingi Presiden Soeharto yang kembali terpilih untuk masa jabatan 1993–1998 dalam Sidang Umum MPR masa bakti 1992–1997. Pria kelahiran Surabaya, 15 November 1935 ini berlatar belakang militer dengan jabatan terakhir sebagai Panglima ABRI (1988–1993).
Sejak remaja, Try Sutrisno telah mengenal dunia militer, bergabung dengan Batalyon Angkatan Darat Poncowati, kemudian masuk Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung tahun 1956. Tahun 1974 ia terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto hingga 1978.
Seusai menjadi ajudan, Try diangkat sebagai Kepala Komando Daerah Staf di Kodam XVI/Udayana pada 1978. Setahun kemudian, ia dipercaya sebagai Pangdam IV/Sriwijaya, lalu empat tahun kemudian ke Jakarta sebagai Pangdam V/Jaya.
Pada 1985, ia naik pangkat menjadi Letjen TNI, dan bersamaan dengan itu diangkat sebagai Wakil KSAD mendampingi KSAD Jenderal TNI Rudini. Setelah selama 1,5 tahun menjadi Wakil KSAD, pada medio Juni 1986 ia diangkat sebagai KSAD. Pada 27 Februari 1988, ayah tujuh anak ini dipromosikan menjadi Panglima ABRI menggantikan Jenderal TNI LB Moerdani.
Selama lima tahun, Try Sutrisno menjadi orang nomor satu di ABRI yang saat itu masih terdiri dari institusi TNI AD, TNI AU, TNI AL, dan Polri. Try Sutrisno mencapai puncak karier politiknya ketika ia terpilih sebagai Wapres ke-6 RI masa jabatan 1993–1998 menggantikan Letjen TNI (Purn) Sudharmono.




