Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan harga emas dunia yang terus mengalami kenaikan turut berdampak kepada inflasi barang tersebut secara bulanan di Indonesia hingga 30 bulan berturut-turut.
Pada Februari 2026, BPS mencatat bahwa harga emas di pasar internasional berlanjut mengalami tren kenaikan sampai dengan awal 2026. Harga emas di pasar internasional naik dari yang sebelumnya pada Juli 2024 sebesar US$2.398 per troy ounce menjadi US$5.002 per troy ounce pada Februari 2026.
"Artinya mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat untuk harga emas," terang Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono pada konferensi pers, Senin (2/3/2026).
Di Indonesia, kenaikan harga emas ini menyebabkan inflasi hingga 30 bulan beruntun secara bulanan. Kelompok inflasi perawat pribadi dan jasa lainnya, di mana termasuk di dalamnya emas, menjadi salah satu penyumbang inflasi Februari 2026 sebesar 0,68% (mtm).
Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 2,55% (mtm) dan memberikan andil sebesar 0,19%. Ateng menyebut tingkat inflasi kelompok tersebut lebih besar dari bulan sebelumnya dan bulan-bulan yang sama pada periode sebelumnya.
Khusus emas, komoditas tersebut memberikan andil inflasi terbesar kepada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Harga emas mengalami inflasi pada Februari 2026 hingga 8,42% (mtm).
Baca Juga
- Breaking! BPS Lapor Inflasi RI Februari 2026 sebesar 0,68% MtM dan 4,76% YoY
- Konsensus Ekonom Proyeksi Inflasi Melonjak pada Februari 2026
- Terungkap! RI Ternyata Rajin Impor Emas Perhiasan dari Australia
"Komoditas emas perhiasan juga mengalami inflasi month-to-month selama 30 bulan berturut-turut. Inflasi emas perhiasan pada Februari 2026 sebesar 8,42% dan memberikan andil sebesar 0,19%," terang Ateng.
Adapun secara bulanan inflasi terjadi pada Februari 2026 sebesar 0,68% (mtm) dari Januari 2026. Terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 109,75 pada Januari 2026 menjadi 110,50 pada Februari 2026. Sementara itu, inflasi secara tahun kalender atau sebesar 0,53% atau year-to-date (ytd).





