Upaya percepatan penanganan stunting kembali menjadi perhatian dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Penanganan Stunting dan Penguatan Peran Keluarga yang digelar pada Rabu, 25 Februari 2026, di Kelurahan Umbulharjo, Kota Yogyakarta.
Dalam forum tersebut, berbagai pemangku kepentingan mulai dari unsur kelurahan, DPRD, tenaga kesehatan, hingga perwakilan warga menyampaikan evaluasi sekaligus gagasan penguatan program.
Lurah Warungboto, Ety Purnawati, menyampaikan bahwa terdapat kenaikan berat badan pada sejumlah anak penerima intervensi. Namun demikian, evaluasi Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dinilai masih diperlukan. Di lapangan, ditemukan sejumlah kendala seperti tekstur lauk ayam yang terlalu keras bagi balita serta adanya makanan yang sesekali kurang layak konsumsi.
Ketua Komisi A DPRD Kota Yogyakarta, Susanto Dwi Antoro, menegaskan bahwa penanganan stunting harus menjadi perhatian serius bersama. Ia menyebut stunting sebagai “api kecil yang bisa membakar masa depan” karena menyangkut kualitas generasi dan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Menurut Susanto, penanganan tidak cukup hanya berbasis data, tetapi juga harus menjangkau anak-anak yang belum masuk dalam skema intervensi. Ia menyoroti tantangan konsumsi makanan ultra-proses di Kota Yogyakarta serta pentingnya peran keluarga secara komprehensif, termasuk keterlibatan aktif para bapak. Ia juga mendorong optimalisasi forum Musrenbang, dukungan Kominfo melalui program parenting dan edukasi gizi, serta gagasan “One Village One University” melalui KKN tematik untuk mendukung program penanganan stunting. Kampung-kampung seperti Glagah, Glagahsari, dan Warungboto didorong menjadi laboratorium sosial.
Terkait anggaran PMT, Susanto menjelaskan bahwa di Warungboto terdapat sembilan RW dengan Posyandu balita. Jika setiap Posyandu membutuhkan Rp500.000 per bulan selama 12 bulan, diperlukan perhitungan anggaran yang matang agar dukungan tepat sasaran. Ke depan, pengecekan kualitas air minum di RW 7, 8, dan 9 juga akan dilakukan bekerja sama dengan perguruan tinggi, termasuk AKPRIND.
Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, menyampaikan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas anak-anak hari ini. Ia memaparkan data stunting yang menunjukkan angka 16,6 persen pada 2023 dan menurun menjadi 14,8 persen pada Desember 2024. Pada 2025, dukungan anggaran sebesar Rp120 juta per kalurahan dialokasikan untuk penanganan stunting.
Meski demikian, ia menilai kesadaran masyarakat belum sepenuhnya diikuti perubahan perilaku. Ia menekankan pentingnya melibatkan bapak balita secara aktif, termasuk rencana pertemuan khusus dengan bapak-bapak perokok karena kebiasaan tersebut berdampak pada kesehatan keluarga.
Ketua Tim Pendamping Keluarga (TPK) Warungboto, Yuni, menjelaskan bahwa program PMT Danais berjalan lancar, namun terdapat kendala teknis. Beberapa makanan membutuhkan penyimpanan di lemari pendingin, sementara tidak semua keluarga memiliki kulkas. Tekstur ayam juga dinilai terlalu keras sehingga disarankan bentuk olahan seperti nugget ikan atau daging. Saat ini terdapat sekitar 50 balita dalam pendampingan serta empat ibu hamil dengan indikasi kekurangan energi kronis.
Dari sisi layanan kesehatan, dr. Yunita dari Puskesmas Umbulharjo menegaskan bahwa penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara instan. Secara nasional, angka stunting rata-rata sekitar 14 persen, dengan target penurunan menjadi 12 persen pada 2024 dan 8 persen pada 2026. Ia menekankan pentingnya PMT yang tepat sasaran dan benar-benar dikonsumsi anak, serta pemenuhan zat gizi penting seperti omega dan nutrisi esensial lainnya.
Perwakilan warga, Indah, menambahkan bahwa selain PMT, suplementasi zat besi bagi anak usia 6 bulan hingga 2 tahun perlu diperkuat sebagai langkah pencegahan. Program “Bebas Stunting dan Cerdas” dinilai dapat dioptimalkan melalui pemberian suplemen pada rentang usia tersebut.
FGD tersebut menyimpulkan bahwa penanganan stunting memerlukan pendekatan komprehensif berbasis keluarga dan kolaborasi lintas sektor. PMT dinilai efektif sebagai stimulan, namun harus disertai edukasi dan perubahan perilaku keluarga, penguatan sistem berbasis data, serta gerakan gotong royong di tingkat kampung. Intervensi teknis seperti perbaikan kualitas air minum dan suplementasi zat besi juga menjadi bagian penting dalam strategi jangka panjang.





