Jakarta, VIVA – Pertamina Patra Niaga melalui unit Aviation Fuel Terminal (AFT) Sultan Mahmud Badaruddin II memastikan upaya pemulihan sosial dan lingkungan di Kelurahan Talang Jambe dan Talang Betutu, Palembang dilakukan dengan maksimal.
Sejak tahun 1970-an, kawasan tersebut menjadi lokasi pengambilan tanah liat yang menyisakan sekitar 105 hektare lahan bekas galian. Kondisi ini memicu penumpukan sampah, banjir, hingga potensi longsor yang berdampak pada keamanan ruang hidup masyarakat. Melalui pendekatan TJSL yang terintegrasi, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel mendorong transformasi kawasan tersebut menjadi ruang yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M V Dumatubun menyampaikan bahwa programini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan nilai bersama bagi masyarakat dan lingkungan.
“Pertamina Patra Niaga berupaya menghadirkan solusi nyata atas tantangan sosial dan lingkungan di sekitar wilayah operasi. Pendekatan ini tidak hanya memulihkan fungsi lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru serta memperkuat ketahanan masyarakat,” ujar Roberth, dikutip dari keterangannya, Senin, 2 Maret 2026.
Dia menjelaskan, Program ini dirancang dengan empat fokus utama yang diwujudkan melalui subprogram Permata, Pesona, Perkasa, dan Pelangi. Inisiatif ini sekaligus menjadi program andalan dalam penilaian PROPER Emas Kementerian Lingkungan Hidup, sebagai wujud komitmen perusahaan dalam mencapai kinerja lingkungan dan sosial yang unggul serta berkelanjutan.
Melalui program Permata, sebanyak 0,42 hektare lahan bekas galian dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi masyarakat, termasuk pengembangan Keramba Jaring Apung bertenaga surya. Dampaknya, pendapatan pengrajin batu bata meningkat 25% dan pendapatan Kelompok Wanita Tani naik hingga 133%.
Program Pesona berfokus pada pengelolaan sampah organik dan anorganik, dengan capaian 85% sampah rumah tangga terkelola atau sekitar 3.600 kg per bulan. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pengolahan minyak jelantah dan ampas menjadi pakan ikan yang dikelola kelompok UMKM setempat.
Sementara itu, Rusli, anggota Kelompok UMKM Pasta menyampaikan bahwa inisiatif tersebut memberi manfaat nyata bagi lingkungan sekaligus ekonomi warga. “Pengolahan minyak jelantah dan ampas menjadi pakan ikan merupakan salah satu solusi untuk menekan dampak lingkungan akibat sampah sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” ujar Rusli.





