Spiral Api di Teheran: Sejarah yang Kembali Berulang

kompas.tv
5 jam lalu
Cover Berita
Warga Iran berkumpul setelah stasiun televisi negara secara resmi mengumumkan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, di Teheran, Iran, Minggu (1/3/2026). (Sumber: AP Photo/Vahid Salemi)

Oleh: Rommy Fibri Hardiyanto (Wartawan Senior)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Ledakan di Teheran, Isfahan, dan Qom bukan sekadar bunyi yang memecah langit di siang bolong. Dalam serangan udara yang dilancarkan secara bersamaan oleh Amerika Serikat dan Israel, sejumlah fasilitas strategis di Iran hancur.

Korban jiwa mencakup ratusan warga sipil dan militer, termasuk perempuan dan anak-anak, dengan lebih dari 200 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat rangkaian serangan yang tak hanya menimpa infrastruktur pertahanan tetapi juga kawasan permukiman sipil. 

Yang paling mengejutkan dunia adalah konfirmasi pemerintah Iran bahwa Ayatullah Ali Khamenei telah meninggal dunia akibat serangan tersebut, menjadikannya pukulan tak hanya terhadap struktur militer tetapi juga terhadap inti ideologis Republik Islam. Media-media Iran menyatakan bahwa Khamenei “telah mencapai syahid” setelah kompleks kediamannya di Teheran menjadi sasaran utama dalam operasi udara yang disebut oleh penyerang sebagai upaya melumpuhkan kepemimpinan strategis Iran. 

Dalam konteks hukum internasional, sulit menghindari kesimpulan bahwa dalam peristiwa ini Israel dan Amerika Serikat tampil sebagai pihak agresor—melakukan serangan militer ke wilayah negara berdaulat di luar kerangka perang terbuka yang diakui secara formal. Khusus bagi Amerika, tindakan tersebut kembali menghidupkan citra lama sebagai “polisi dunia”: sebuah kekuatan yang merasa memiliki legitimasi moral dan strategis untuk menentukan siapa yang patut ditegur, ditekan, bahkan diserang bila kepentingannya dianggap terancam.

Ketika preferensi politik dan kepentingan keamanannya tidak terpenuhi, opsi militer kerap diposisikan sebagai instrumen koreksi. Di titik inilah paradoks global mengemuka: negara yang berbicara tentang tatanan berbasis aturan justru dituduh melampaui aturan itu sendiri.

Sejarah 1953 yang Berulang ke 2026

Apakah ini sejarah yang berulang? Dulu Washington dan London bersekutu mengguncang Teheran; kini Washington berdiri bersama Tel Aviv.

Pada 1953, operasi rahasia yang melibatkan Amerika dan Inggris menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh, menandai intervensi asing besar pertama dalam sejarah modern Iran. Peristiwa ini telah didokumentasikan secara mendalam dalam Mohammad Mosaddeq and the 1953 Coup in Iran, disunting oleh Mark J. Gasiorowski dan Malcolm Byrne, yang menegaskan bagaimana kudeta tersebut menjadi titik balik hubungan Iran dengan Barat.

Kini, perubahan konstelasi aktor terjadi, tetapi pola keterlibatan kekuatan besar pada urusan dalam negeri Iran terasa tak asing—sekutu lama, panggung baru. Bagi Israel, serangan ini adalah upaya mempertahankan superioritas keamanan regional dan mencegah lawan mengembangkan kapasitas strategis yang dianggap mengancam eksistensinya.

Bagi Amerika Serikat, ia menegaskan komitmen terhadap sekutu di Timur Tengah di tengah persaingan global dengan China dan Rusia. 

Dalam konteks ini, pemikiran Ali Syariati relevan: sejarah bukan garis lurus, melainkan spiral yang kembali ke titik serupa pada level kesadaran berbeda. Konflik lama dapat bangkit kembali dengan wajah baru, namun tetap membawa memori kolektif yang menancap dalam tubuh masyarakat.

Dalam narasi Iran revolusioner, perlawanan terhadap tekanan eksternal—termasuk intervensi dan dominasi kekuatan besar—telah menjadi bagian dari identitas nasional.

Penulis : Edy-A.-Putra

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • Iran
  • Ayatullah Ali Khamenei
  • Teheran
  • AS serang Iran
  • Israel serang Iran
  • Amerika Serikat
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ledakan Petasan Plosojenar Ponorogo 3 Orang Jadi Korban, Balon Udara dan Slonsong Mercon Diamankan
• 19 jam lalurealita.co
thumb
Kemenhub Ungkap Penerbangan Internasional Batal Imbas Serangan ke Iran, Ini Daftarnya
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Try Sutrisno Wafat, Khofifah Ajak Warga Jatim Kibarkan Bendera Setengah Tiang
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
MK Tak Terima Gugatan Hasto Kristiyanto soal Pasal 21 UU Tipikor
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Dubes Iran Sebut Amerika Serikat & Israel Lakukan Agresi Kriminal saat Sidang Darurat PBB
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.