KLB Campak Merebak, Imunolog Unair Sorot Rendahnya Cakupan Vaksin

suarasurabaya.net
5 jam lalu
Cover Berita

Indonesia kini berstatus “merah” kejadian luar biasa (KLB) campak dan menempati urutan kedua dunia setelah Yaman.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan, lonjakan kasus yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, seiring rendahnya cakupan vaksinasi yang dinilai menjadi faktor utama meningkatnya penularan.

Menanggapi hal itu, Dokter Ari Baskoro, Spesialis Penyakit Dalam Universitas Airlangga (Unair) Surabaya bilang, stagnasi imunisasi anak sejak beberapa tahun terakhir berkontribusi besar terhadap meluasnya wabah campak di Indonesia.

Sepanjang 2025, tercatat 63.769 kasus campak dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium. Sebanyak 69 kematian dilaporkan dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,1 persen.

Memasuki awal 2026, tren peningkatan masih berlanjut. Hingga minggu ke-7, terdapat 8.224 kasus suspek, dengan 572 kasus terkonfirmasi dan empat kematian (CFR 0,05 persen). KLB campak telah menyebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Indonesia juga menerima notifikasi dari International Health Regulation (IHR) setelah dua warga Australia dilaporkan terpapar campak usai berkunjung ke Indonesia.

“Sebelumnya Indonesia telah mendapatkan notifikasi dari International Health Regulation (IHR). Pasalnya dua warga Australia terpapar campak, setelah berkunjung ke negara kita,” ungkap Ari kepada suarasurabaya.net.

Secara global, wabah campak juga terjadi di berbagai negara. Laporan World Health Organization (WHO) menyebut lonjakan kasus muncul di sejumlah wilayah, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Meksiko pada Maret 2025.

Padahal, AS telah mendeklarasikan eliminasi campak sejak tahun 2000. Namun, negara tersebut kembali mengalami lonjakan dengan puncak kasus tertinggi dalam tiga dekade terakhir pada Juli 2025.

Merujuk data UNICEF, wabah campak telah melanda lebih dari 100 negara. Kanada bahkan kehilangan status eliminasi campak pada 10 November 2025 setelah sebelumnya bebas sejak 1998.

Di kawasan Eropa, hampir 60 ribu kasus terdeteksi di 45 negara. Sementara Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat sekitar 10,3 juta orang di dunia terinfeksi campak pada 2023.

Menurut Ari, salah satu penyebab utama meningkatnya kasus adalah stagnasi cakupan vaksinasi sejak 2023.

“Sejak tahun 2023, tingkat vaksinasi anak mengalami stagnasi. Fakta epidemiologi membuktikan, semakin banyak individu yang tidak divaksinasi, semakin meningkat pula risiko terjadinya wabah,” katanya.

Model riset menunjukkan, jika cakupan vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella) mencapai 97 persen, peluang wabah hanya sekitar 16 persen. Namun, bila cakupan turun menjadi 70 persen, risiko wabah melonjak hingga 78 persen. Bahkan, sekitar 95 persen kasus campak di AS dilaporkan terjadi pada individu yang belum divaksinasi.

Campak sendiri merupakan salah satu penyakit paling menular. Sekitar 90 persen individu tanpa kekebalan yang berada dekat penderita berisiko tertular.

Penularan dapat terjadi sejak empat hari sebelum hingga empat hari setelah muncul ruam, melalui percikan batuk, bersin, atau kontak dengan permukaan yang terkontaminasi virus.

Pada individu dengan imunitas rendah, komplikasi dapat berkembang menjadi berat, mulai dari diare parah, pneumonia, radang otak, hingga kebutaan atau kecacatan permanen.

“Pada individu dengan imunitas yang tidak sempurna/imunokompromi, risiko komplikasi campak bisa meningkat tajam,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dokter Ari mengingatkan fenomena “amnesia imunitas”, yakni kondisi melemahnya sistem kekebalan tubuh setelah seseorang sembuh dari campak.

“Sesudah sembuh dari campak, berisiko memantik kelemahan sistem imun. Akibatnya membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi mikroba lainnya. Fenomena itu dikenal sebagai amnesia imunitas,” tambahnya.

Dia menegaskan, vaksinasi tetap menjadi strategi paling efektif dalam pengendalian penyakit menular. Namun, misinformasi dan gerakan anti-vaksin masih menjadi tantangan global.

“Misinformasi dan munculnya kelompok anti vaksin, mewarnai kendala penerapan vaksinasi COVID-19. Polanya mungkin berbeda di setiap negara. Kini kendala yang serupa mesti dihadapi ketika memberantas wabah campak. Tidak hanya oleh Indonesia. Tetapi juga di beberapa negara lainnya,” terang Ari.

Di tingkat global, Robert F. Kennedy Jr Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS termasuk tokoh yang dikenal memiliki pandangan anti-vaksin melalui organisasi Children’s Health Defense.

Klaim yang mengaitkan vaksin dengan autisme telah dibantah berbagai riset berbasis bukti oleh WHO dan CDC yang menegaskan tidak ada hubungan antara thimerosal dalam vaksin dan autisme.

Di Indonesia, penolakan vaksin umumnya dipicu isu kehalalan, kekhawatiran efek samping, maupun anggapan vaksin tidak diperlukan.

Pemerintah saat ini mendorong pelaksanaan outbreak response immunization (ORI) guna menekan penyebaran lebih luas. Peningkatan cakupan vaksinasi dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak memasuki fase wabah campak yang lebih besar.

“Semoga dengan dilakukannya outbreak response immunization (ORI), negara kita tidak akan menuju pada wabah campak,” harapnya.(mar/bil/rid)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menbud Hadiri Bedah Film SANFFEST Ramadan, Dorong Santri Berkarya
• 22 jam laludetik.com
thumb
IRGC Rilis Rekaman Peluncuran Ratusan Rudal ke AS dan Israel
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prabowo akan Pimpin Pemakaman Militer Try Sutrisno di TMP Kalibata, Mensesneg: Beliau Putra Terbaik
• 6 jam lalusuara.com
thumb
BMKG Prakirakan Cuaca Surabaya dan Sebagian Besar Jatim Hari Ini Masih Berpotensi Hujan
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
KBPP Polri Menyatakan Dukungan terhadap Ketegasan Kapolri dalam Menindak Oknum Anggota yang Melanggar Aturan
• 20 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.