Jakarta, ERANASIONAL.COM — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran berpotensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Penegasan tersebut disampaikan Menko Airlangga kepada wartawan usai merespon harga minyak sampe 82 per barel.
“Ya pertama tentu kalau perang yang terjadi di Iran udah pasti yang terganggu adalah supply minyak. Dan supply minyak itu karena Selat Hormuz aksesnya ditutup jadi terganggu, belum juga laut merah (Red Sea). Jadi kita lihat berapa jauh pertempuran ini akan terus berlaku,” ujar Menko Airlangga kepada wartawan seperti dikutip di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (2/3/2026).
Penutupan jalur penting itu dinilai dapat mengerek harga minyak mentah global yang pada akhirnya berimbas pada harga energi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Otomatis (BBM) akan naik, sama seperti saat perang Ukraina, kan naik. Tetapi, kali ini suplai dari Amerika juga akan meningkat, dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,” kata Menko Airlangga.
Menurutnya, tekanan harga masih bisa tertahan karena suplai minyak dari AS meningkat serta Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) turut menambah kapasitas produksi.
Pemerintah memiliki antisipasi potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah setelah menjalin nota kesepahaman (MoU) untuk memperoleh suplai minyak dari luar kawasan tersebut.
Salah satunya melalui langkah PT Pertamina (Persero) yang menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan energi asal AS.
“Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan suplai dan non-Middle East. Misalnya, kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika, beberapa dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain-lain,” tandas Menko Airlangga.
“Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan suplai dari non-Middle East. Misalnya, kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika, beberapa dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain-lain,” kata Menko.
Adapun Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dilaporkan menutup Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah pada Sabtu (28/2/2026).
Pada hari yang sama, AS bersama Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk Ibu Kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan bangunan an korban sipil.





