BPS: Normalisasi Harga Listrik-Inflasi Emas Penyebab Utama Inflasi Februari 2026

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Badan Pusat Statistik (BPS) RI mencatat inflasi tahunan pada Februari 2026 mencapai 4,76 persen. Tingginya inflasi tahunan Februari 2026 karena dampak lanjutan dari inflasi listrik akibat harga listrik Februari tahun 2026 yang kembali normal (normalisasi) dibandingkan dengan Februari 2025 saat diskon listrik 50%. Akibatnya, inflasi tarif listrik Hal ini yang sering disebut dengan efek basis rendah tarif listrik (low-base effect). Kepala Badan Pusat Statistik RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan dalam penjelasan tertulisnya,”Saat terjadi diskon listrik 50% yang berlaku pada bulan Januari-Februari 2025, Indeks Harga Konsumen (IHK) turun menjadi 68,40 dan 53,83 berturut-turut. Sehingga, pada pada Februari 2025 terjadi deflasi umum sebesar -0,09% (yoy), dimana pada saat itu, listrik mengalami deflasi -46,45%.”

Dengan demikian, karena di bulan Januari 2026 dan Februari 2026 tarif listrik sudah kembali normal, maka indeks harga konsumen tarif listrik terlihat stabil, dan tidak memberikan andil inflasi terhadap inflasi bulanan untuk Februari 2026. “Pada periode Januari-Februari 2025 yang lalu, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik. Akibatnya, level harga pada periode tersebut lebih rendah dibandingkan kondisi normal dan menekan IHK (Indeks Harga Konsumen)). Kebijakan itu tidak kita temui pada Januari dan Februari 2026, harga kembali normal. Selisih harga tarif listrik yang harus dibayar konsumen dipotret sebagai kenaikan IHK sehingga tingkat inflasi menjadi lebih tinggi,” jelas Amalia.

“Dari angka inflasi tahunan 4,76 persen; 2,17 persen di antaranya disumbangkan oleh komoditas tarif listrik,di mana tarif listrik sendiri mengalami inflasi sebesar 86,96%. Inilah yang disebut dengan efek inflasi karena normalisasi tarif listrik setelah basis harga rendah, atau yang dikenal dengan nama low-base effect” ungkap Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti melalui keterangan tertulis di Jakarta.

Dari data BPS, dampak low-base effect terlihat dari tingginya angka inflasi tahunan kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga pada Februari 2026 yang mencapai 16,19 persen, atau memberikan andil inflasi sebesar 2,26 persen. Amalia juga menjelaskan, “ hasil perhitungan BPS, seandainya efek diskon listrik 50% dihilangkan (asumsi tidak ada diskon listrik pada Februari 2025, maka inflasi bulan Februari 2026 berada pada kisaran 2,54%”.

Dengan penjelasan di atas, tentunya masyarakat perlu lebih memahami penyebab inflasi secara lebih mendalam, sehingga dapat memaknai angka inflasi dengan baik dan tepat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BRI Super League: Persib Bertandang ke Markas Persebaya, Bojan Hodak Lupakan Kekalahan Telak Musim Lalu
• 13 jam lalubola.com
thumb
China Kecam Serangan atas Iran yang Tewaskan Khamenei dan Sebut Langgar Kedaulatan
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Gempa Hari Ini Guncang Donggala Sulteng, Getaran Terasa hingga Palu dan Sigi
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Menteri LH Apresiasi Program Gaslah Kota Bandung
• 21 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Polemik Dwi Sasetyaningtyas Memanas, Muncul Pembelaan Netizen Bule WNI: Syirik Aja Lo!
• 12 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.