Singapura akan meninjau ulang proyeksi pertumbuhan ekonomi dan inflasi menyusul lonjakan harga minyak akibat perang Israel-Iran yang memicu gejolak di pasar energi global.
Wakil Perdana Menteri Singapura, Gan Kim Yong, mengatakan pemerintah siap merevisi outlook ekonomi jika konflik berkepanjangan dan terus mendorong kenaikan harga energi.
“Bergantung pada seberapa lama konflik ini berlangsung, harga energi yang lebih tinggi bisa meningkatkan biaya bagi pelaku usaha dan konsumen, serta membebani ekonomi global maupun Singapura,” katanya dikutip dari Bloomberg, Senin (2/3).
Sebagai negara yang hampir sepenuhnya mengimpor kebutuhan energinya, Singapura sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dan gas dunia. Ekonomi yang bergantung pada perdagangan itu juga sensitif terhadap gangguan rantai pasok dan ketidakpastian geopolitik.
Harga minyak dunia sebelumnya melonjak paling tajam dalam empat tahun terakhir sebelum memangkas sebagian kenaikan. Minyak Brent sempat melesat hingga 13 persen ke level tertinggi sejak Januari 2025, sebelum bertahan naik lebih dari 6 persen di kisaran USD 78 per barel.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent tercatat melonjak 10 persen menjadi sekitar USD 80 per barel dalam perdagangan over the counter (OTC) pada Minggu (1/3).
Lonjakan dipicu kekhawatiran pasar atas dampak konflik terhadap pasokan energi global, termasuk risiko gangguan usai Iran menutup Selat Hormuz. Kenaikan harga energi berpotensi memicu tekanan inflasi baru di tengah ketidakpastian ekonomi global, sekaligus menekan daya beli dan margin usaha di Singapura.





