Artikel The New York Times berjudul “Iran’s Regime May Survive, but the Middle East Will Be Changed” karya Steven Erlanger (1 Maret 2026) menyebut Iran dapat bertahan meskipun menghadapi serangan besar oleh AS dan Israel.
Erlanger mencatat,
Jamak ahli melihat peristiwa ini bukan hanya soal kekuatan militer, melainkan juga tentang kemampuan diplomatik dan jaringan dukungan geopolitik yang masih kuat dimiliki Teheran.
Pernyataan ini turut relevan dalam memahami dimensi konflik yang jauh lebih luas dari sekadar benturan militer. Iran bukan negara monolitik tanpa sekutu. Ia beroperasi dalam jaringan aliansi strategis, sejumlah hubungan bilateral dengan kekuatan besar seperti Rusia dan Cina, serta kemampuan diplomasi yang secara aktif mengeksploitasi konflik untuk memperkuat posisinya di arena global.
Fenomena geopolitik saat ini membuka ruang baru untuk melihat Iran sebagai aktor strategis; bukan hanya dalam aspek militer, melainkan juga peluang memperkuat perannya melalui aliansi, dukungan internasional selektif, dan penggunaan diplomasi untuk meredefinisi tatanan kawasan.
Strategi Iran: Penguatan Aliansi dan Mobilisasi DiplomatikRespons Iran terhadap tekanan militer tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga strategis. Banyak analis menilai bahwa Teheran memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat solidaritas internal dan hubungan luar negerinya.
Dalam beberapa hari terakhir, dukungan diplomatik terhadap Iran muncul dari sejumlah negara besar yang mengecam serangan militer dan menyerukan penyelesaian melalui jalur politik. Cina, misalnya, secara resmi mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran prinsip kedaulatan dan menyerukan gencatan senjata serta diplomasi secepatnya, sambil menekankan pentingnya menghormati kedaulatan negara-negara merdeka.
Rusia juga dengan tegas mengutuk ofensif militer AS dan Israel serta memanggil semua pihak untuk menghentikan permusuhan, menunjukkan bahwa Moskow masih melihat nilai strategis hubungan jangka panjang dengan Teheran yang melibatkan kerja sama ekonomi dan militer.
Dukungan semacam ini penting secara simbolis dan praktis. Ia memperluas basis perundingan Iran dalam forum multilateral dan memberikan ruang bagi Teheran untuk menegosiasikan kembali posisi tawar dalam isu nuklir, sanksi ekonomi, dan sekuritas regional. Dalam konteks diplomasi global, argumen damai dari aktor seperti China dan Rusia juga berfungsi sebagai bantalan terhadap isolasi dan tekanan unilateral.
Peluang Iran untuk Memperluas Pengaruh RegionalDalam konflik geopolitik yang kompleks, tekanan sering membuka peluang baru. Iran—yang memiliki jaringan luas melalui sekutu dan kelompok non-negara seperti Hezbollah di Lebanon dan milisi di Irak—dapat memanfaatkan ketegangan ini untuk memperkuat posisinya di kawasan. Walaupun serangan militer menargetkan fasilitas dan tokoh penting, jaringan aliansi ini membantu Iran tetap relevan dalam dinamika politik Timur Tengah yang berubah cepat.
Analis juga menunjukkan bahwa krisis ini dapat memperkuat narasi nasionalis dan resistensi anti-intervensi di kalangan negara-negara di kawasan yang selama ini skeptis terhadap dominasi militer asing. Ini membuka ruang diplomasi bagi Iran untuk merangkul negara-negara yang tidak sepenuhnya condong ke AS atau Israel, bahkan beberapa negara Teluk mungkin bersikap pragmatis dalam memelihara hubungan dengan Teheran demi menjaga stabilitas ekonomi dan energi mereka sendiri.
Selain itu, Iran bisa menggunakan platform internasional seperti Gerakan Non-Blok untuk melobi dukungan moral dan politik dari negara-negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin yang cenderung menentang intervensi militer terhadap negara berdaulat.
Peningkatan ketegangan membuat isu kedaulatan menjadi pusat perdebatan global, yang dapat dimanfaatkan Iran untuk memperluas ruang diplomatiknya dan membawa suara negara berkembang lebih kuat ke lembaga internasional.
Diplomasi Multilateral: Jalur untuk Mengurangi Isolasi dan Memperkuat Peran GlobalSalah satu peluang terbesar bagi Iran saat ini adalah memaksimalkan diplomasi multilateral untuk meredam konflik dan mempersiapkan kerangka negosiasi baru yang lebih inklusif.
Dengan meningkatnya kecaman global terhadap tindakan militer dan seruan untuk penyelesaian damai dari berbagai negara—termasuk kekuatan besar non-Barat—Iran memiliki pijakan untuk mengangkat isu konflik ini pada forum, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi regional.
Iran dapat memosisikan dirinya sebagai negara yang tunduk pada prinsip hukum internasional ketika ia menyatakan komitmen terhadap resolusi damai dan keterlibatan diplomatik. Ini dapat merehabilitasi citranya di kancah global, terutama di antara negara-negara yang khawatir terhadap preseden penggunaan kekuatan militer terhadap negara berdaulat.
Peran Indonesia—serta negara lain yang menekankan mediasi dan diplomasi—juga menjadi penting dalam memfasilitasi ruang dialog yang lebih luas. Tekanan global untuk solusi politik membuka kesempatan bagi Iran untuk mengevaluasi kembali kebijakan luar negerinya dan memperkuat hubungan bilateral maupun multilateralnya di luar sumbu konflik langsung dengan AS dan Israel.





