Terdapat disparitas angka kematian akibat kanker payudara di negara maju dan berkembang akibat akses layanan.
IDXChannel—Kementerian Kesehatan melakukan diseminasi Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara 2025-2034, sebagai bagian dari strategi untuk mengejar target standar World Health Organization (WHO).
Target yang tengah dikejar adalah penurunan angka kematian akibat kanker payudara hingga 2,5 persen setiap tahun. Dalam hal ini, RAN Kanker Payudara berfungsi sebagai panduan bersama untuk bergerak lebih cepat dan terarah.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan terdapat disparitas angka kematian akibat kanker payudara di negara maju dan berkembang akibat akses layanan.
“Mortalitas akibat kanker payudara telah menurun di negara high-income karena kesadaran untuk deteksi dini dan akses ke pengobatan sudah lebih baik. Sebaliknya, di negara low-middle-income, kematian masih tinggi akibat tantangan dalam akses layanan kesehatan, tutur Dante, Minggu (1/3/2026).
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, memaparkan urgensi perbaikan sistem deteksi dini. Data Kemenkes menunjukkan kesenjangan yang signifikan dalam penanganan pasien.
“Dari 14 juta sasaran perempuan, baru 4,1 juta yang menjalani pemeriksaan. Dari jumlah tersebut, ditemukan 20.000 orang dengan kelainan, tetapi hanya 6.000 orang yang melanjutkan pengobatan, dan hanya separuhnya yang berhasil mencapai akses rumah sakit,” ungkap Nadia.
Tantangan utama saat ini adalah keraguan masyarakat untuk memeriksakan diri serta sinkronisasi sistem agar pasien tidak ‘hilang’ di tengah jalan. Oleh karena itu, RAN Kanker Payudara disusun berpedoman pada tiga pilar WHO Global Breast Cancer Initiative, yakni:
- Deteksi Dini: 60% pasien didiagnosis pada stadium awal (stadium 1 atau 2)
- Diagnosis Cepat: diagnosis tegak dalam waktu 60 hari sejak gejala awal muncul
- Pengobatan Tuntas: Lebih dari 80% pasien menerima terapi modalitas (kombinasi operasi, radiasi, kemoterapi, dll) hingga selesai
RAN Kanker Payudara 2025–2034 sendiri mencakup lima strategi utama: promosi kesehatan, peningkatan deteksi dini, perluasan akses layanan bermutu, penguatan registrasi kanker, dan koordinasi kemitraan multipihak.
Upaya ini diperkuat melalui forum Public Private Community Partnership (PPCP) yang digelar di Kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis (26/2/2026) lalu.
Forum diskusi yang berlangsung setengah hari ini melibatkan lintas sektor yang menyatukan pemerintah, organisasi profesi, swasta, dan komunitas penyintas dalam mengatasi kesenjangan akses layanan kesehatan kanker di Indonesia.
“Saya harap forum ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi dilanjutkan dengan aksi kolaboratif nyata, baik dalam bentuk program, pilot project, maupun dukungan pendanaan. Tujuan utama kita adalah cure (menyembuhkan) dan palliate (meringankan beban),” ujar Wamenkes Dante.
Melalui forum PPCP, pemerintah membuka pintu seluas-luasnya bagi kemitraan inklusif demi mencapai target angka kesintasan (survival rate) 5 tahun sebesar 70% bagi pasien kanker payudara di Indonesia.
(Nadya Kurnia)




