Memanasnya konflik di Timur Tengah berpotensi mempengaruhi arus perdagangan Indonesia usai jalur pelayaran di Selat Hormuz ditutup imbas serangan AS dan Israel ke Iran pada Minggu (1/3) lalu.
Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan dampak pastinya terhadap kinerja ekspor-impor nasional masih perlu pendalaman lebih lanjut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan perhitungan potensi efek tambahan konflik belum bisa disimpulkan saat ini.
"Untuk melihat potensi dampak jika konflik meningkat, tentunya ini diperlukan kajian yang lebih lanjut lagi,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (2/3).
Data Perdagangan
Lebih lanjut, Ateng memaparkan nilai perdagangan Indonesia sepanjang 2025 dengan tiga negara yang berada di jalur Selat Hormuz, yakni Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Dari sisi impor nonmigas, Indonesia mencatat impor dari Iran sebesar USD 8,4 juta. Komoditas terbesarnya adalah buah-buahan (HS08) senilai USD 5,9 juta, diikuti besi dan baja sebesar USD 0,8 juta, serta mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya (HS84) sebesar USD 0,7 juta.
Impor nonmigas dari Oman mencapai USD 718,8 juta, dengan komoditas utama besi dan baja sebesar USD 590,5 juta. Selain itu terdapat bahan kimia organik (HS29) sebesar USD 56,7 juta, serta garam, belerang, batu dan semen (HS25) sebesar USD 44,2 juta.
Sementara itu, impor nonmigas dari Uni Emirat Arab tercatat sebesar USD 1,4 miliar. Komoditas dominannya berupa logam mulia dan perhiasan sebesar USD 511,1 juta, aluminium dan barang daripadanya sebesar USD 181,6 juta, serta garam, belerang, batu dan semen sebesar USD 43,2 juta.
Dari sisi ekspor, nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara tersebut juga cukup besar.
“Ekspor nonmigas ke Iran tercatat USD 249,1 juta, didominasi buah-buahan (HS08) sebesar USD 86,4 juta, kendaraan dan bagiannya (HS87) sebesar USD 34,1 juta, serta lemak dan minyak hewan nabati (HS15) sebesar USD 22 juta,” ungkapnya.
Ekspor nonmigas ke Oman mencapai USD 428,8 juta, dengan komoditas utama lemak dan minyak hewan nabati sebesar USD 227,7 juta, kendaraan dan bagiannya sebesar USD 64,2 juta, serta bahan mineral (HS27) sebesar USD 48,1 juta.
Untuk ekspor nonmigas ke Uni Emirat Arab menjadi yang terbesar, yakni USD 4 miliar. Komoditas utamanya meliputi lemak dan minyak hewan nabati sebesar USD 510,3 juta, kendaraan dan bagiannya sebesar USD 363,5 juta, serta logam mulia dan perhiasan sebesar USD 183,6 juta.





