Di Balik Serangan AS ke Iran, Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita
Dari Konflik Bayangan ke Konfrontasi Terbuka

Eskalasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran membuka babak baru yang jauh lebih berbahaya dalam politik global. Serangan militer langsung yang bahkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran menandai pergeseran drastis dari konflik tidak langsung menuju konfrontasi terbuka.

Dalam situasi ini, muncul satu pertanyaan kunci yang jarang dibahas secara jujur: Siapa sebenarnya yang diuntungkan dari konflik ini? Peristiwa ini tidak berdiri sendiri. Selama bertahun-tahun, hubungan AS dan Iran dipenuhi sanksi, tekanan diplomatik, dan konflik melalui pihak ketiga. Namun kini, ketika serangan langsung dilakukan hingga menyasar elite kekuasaan, yang terjadi bukan sekadar eskalasi, melainkan juga perubahan aturan main.

Bahkan, laporan terbaru menunjukkan bahwa serangan ini memicu balasan Iran ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan memperluas konflik ke berbagai negara. Perubahan ini penting karena menunjukkan bahwa konsep stabilitas yang selama ini diklaim justru sedang diuji. Narasi yang berkembang menyebut serangan ini sebagai langkah untuk menciptakan keamanan atau membuka peluang perubahan di Iran.

Namun, jika melihat realitas di lapangan, klaim tersebut menjadi problematis. Serangan yang sama juga menyebabkan korban sipil, termasuk insiden tragis yang menewaskan banyak anak sekolah dalam satu serangan udara. Di titik ini, muncul ironi besar dalam politik global. Ketika tindakan militer dilakukan oleh negara kuat, ia sering dibingkai sebagai upaya menjaga stabilitas.

Namun, dampak nyatanya justru memperluas konflik, menciptakan ketakutan, dan memperburuk situasi kemanusiaan. Artinya, stabilitas yang dijanjikan sering kali tidak sejalan dengan realitas yang terjadi di lapangan.

Kepentingan Strategis di Balik Konflik

Jika ditarik lebih jauh, konflik ini juga membuka pertanyaan tentang kepentingan strategis. Kawasan Timur Tengah—khususnya jalur vital seperti Selat Hormuz—memiliki peran penting dalam distribusi energi dunia.

Ketegangan di kawasan ini langsung berdampak pada harga minyak global dan stabilitas ekonomi internasional. Dengan demikian, konflik ini tidak hanya soal politik atau keamanan, tetapi juga berkaitan erat dengan kepentingan ekonomi global. Namun, bukan berarti Iran sepenuhnya berada di posisi pasif. Respons militer yang dilakukan Iran—termasuk serangan ke infrastruktur strategis dan wilayah sekutu AS—menunjukkan bahwa konflik ini bersifat dua arah dan saling memperkuat eskalasi. Bahkan, serangan balasan tersebut telah mengganggu transportasi udara dan aktivitas ekonomi di kawasan secara luas. Di sinilah kompleksitas konflik terlihat jelas. Tidak ada pihak yang sepenuhnya “bersih”, tetapi juga tidak bisa disederhanakan menjadi narasi hitam-putih.

Iran memiliki catatan kebijakan regional yang kontroversial, sementara AS dan sekutunya juga menggunakan pendekatan militer yang berisiko tinggi. Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan “Siapa yang diuntungkan?” menjadi semakin relevan.

Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

Jika dilihat secara kritis, ada kemungkinan bahwa pihak yang paling diuntungkan bukanlah negara secara langsung, melainkan aktor-aktor yang berada di balik struktur kekuasaan global, mulai dari kepentingan geopolitik hingga ekonomi.

Sementara itu, pihak yang paling dirugikan hampir selalu sama: masyarakat sipil. Mereka menghadapi dampak langsung berupa korban jiwa, ketidakstabilan ekonomi, dan ketidakpastian masa depan. Selain itu, konflik ini juga menunjukkan adanya standar ganda dalam sistem internasional. Tindakan militer tertentu dapat dianggap sah ketika dilakukan oleh aktor kuat, tetapi dianggap ancaman ketika dilakukan oleh pihak lain. Pola ini memperlihatkan bahwa hukum dan norma internasional sering kali tidak berdiri netral, tetapi dipengaruhi oleh distribusi kekuatan. Pada akhirnya, konflik AS dan Iran bukan hanya tentang dua negara, melainkan juga tentang bagaimana kekuasaan, kepentingan, dan narasi bekerja dalam sistem global. Jika pertanyaan “Siapa yang diuntungkan?” dijawab secara jujur, jawabannya mungkin tidak sesederhana satu negara menang dan yang lain kalah.

Justru, konflik ini menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, yang paling diuntungkan adalah kekuatan itu sendiri, sementara kemanusiaan menjadi korban yang terus berulang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Waketum Golkar Idrus Marham Respons Serangan AS-Israel ke Iran: Ancaman Perdamaian Dunia
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
Cuaca Esktrem Debit Air Sungai Tanjung Loceret Nganjuk Meluap, Genangi Sebagian Jalan dan Rumah Warga
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
BRI Catat Performa Solid: Laba Tembus Rp 57 T, Komitmen Dukung Asta Cita Pemerintah | SAPA PAGI
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
MK Putuskan Penyakit Kronis Masuk Kategori Disabilitas, Kabar Baik Bagi Pejuang Autoimun dan Saraf
• 2 jam lalusuara.com
thumb
Media Italia Beramai-ramai Puji Jay Idzes usai Bantu Sassuolo Taklukkan Atalanta dengan 10 Pemain
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.