Rapor Keamanan Energi Indonesia Saat Pasokan Global Terancam

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak dan gas melonjak di tengah panasnya tensi global menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang berujung pada tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ketegangan belum mereda. Serangan balasan dan saling lempar rudal masih berlangsung, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global, terutama dari kawasan Timur Tengah.

Di tengah gejolak itu, pertanyaan lama kembali mengemuka: seberapa tahan negara-negara Asia Tenggara menghadapi guncangan energi?

Berdasarkan Energy Trilemma Index yang dirilis World Energy Council (WEC), Indonesia dan Malaysia masuk kelompok negara dengan keamanan energi relatif baik. Untuk aspek keamanan pasokan energi (energy security), keduanya mendapat nilai A.

Namun, nilai A bukan berarti “super aman” atau kebal krisis. Penilaian WEC bersifat perbandingan global. Artinya, dibanding banyak negara lain, Indonesia dan Malaysia dinilai lebih mampu menjaga pasokan energi tetap tersedia dan sistemnya tetap berjalan.

Di sisi lain, untuk aspek keberlanjutan lingkungan (environmental sustainability), keduanya hanya mendapat nilai C. Ini menunjukkan bahwa meskipun pasokan relatif aman, struktur energi masih bertumpu pada bahan bakar fosil.

Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia dan Malaysia mencatat nilai keamanan energi tertinggi. Sebaliknya, Singapura dan Brunei berada di posisi bontot karena keterbatasan sumber daya domestik dan tingginya ketergantungan pada impor energi.

Indeks Keamanan Energi Global (World Energy Council)
Indonesia: Ditopang Batu Bara dan Biodiesel

World Energy Council menyoroti peran Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar dunia, dengan cadangan yang melimpah. Batu bara selama ini menjadi “benteng” utama pasokan listrik nasional.

Program biodiesel berbasis sawit turut memperkuat posisi tersebut. Campuran biodiesel kini telah mencapai B40, yang berarti 40 persen solar dicampur bahan bakar nabati dari minyak sawit. Kebijakan ini membantu menekan impor solar dan mengurangi tekanan terhadap neraca energi.

Kemudian, pasokan gas alam yang besar. Indonesia masih menjadi eksportir gas alam. Meskipun dengan kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat, impor gas berpotensi naik ke depan.

Singkatnya, Indonesia relatif aman dari sisi ketersediaan energi karena memiliki cadangan domestik. Namun, ketergantungan pada batu bara dan sawit membuat skor keberlanjutannya masih rendah.

Indonesia memang memiliki bantalan melalui cadangan batu bara dan kebijakan biodiesel. Tapi selama konsumsi minyak dan gas masih besar dan sebagian pasokannya bergantung pada pasar global, situasinya tidak benar-benar aman. Gejolak di luar negeri bisa dengan cepat menjalar ke dalam negeri, tercermin pada harga energi, biaya logistik, hingga harga aneka produk dan jasa. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua MPR RI Ahmad Muzani Sambut Baik Prabowo Ingin jadi Mediator Konflik Iran dengan AS dan Israel
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
BBM Tercampur Air di SPBU Bekasi Bikin Puluhan Kendaraan Mogok, Kok Bisa?
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Wakil Muda Indonesia Siap Jajal Turnamen Tertua Dunia
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Pemprov Sultra Dorong Diversifikasi Ekspor Non-Tambang
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
Sampaikan dukacita, Anwar Ibrahim sebut Try Sutrisno negarawan sejati
• 2 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.