Jakarta (ANTARA) - “Rumah saya tidak akan hancur kalau tidak ada pembalakan liar,” ujar Agam (bukan nama sebenarnya), ketika mengenang kediamannya yang kini hanya berupa puing-puing berserakan di tanah yang dahulu ia sebut sebagai rumah.
Agam merupakan seorang penyintas bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh pada akhir November 2025. Ia tak merasa asing dengan bencana banjir, sebab rumahnya terletak begitu dekat dengan sungai.
Namun, banjir bandang yang terjadi pada November 2025 berbeda dengan banjir-banjir yang biasanya. Banjir itu membawa gelondongan kayu yang memporak-porandakan berbagai bangunan dalam lintasannya, baik itu rumah, sekolah, hingga masjid di Dusun Sarah Gala, Desa Sahraja, Aceh Timur, Aceh.
Tak terkecuali rumah Agam. Bencana yang menghancurkan kediamannya seolah menjadi alarm pengingat bagi Agam ihwal dampak dari aktivitas penebangan hutan secara liar.
“Kalau saja banjirnya hanya air, ini (rumah) tidak akan hancur. Saya sangat membenci, sangat-sangat membenci illegal logging (pembalakan liar),” tutur Agam dengan jemari yang mengepal erat.
Terdapat perpaduan amarah dan penyesalan dalam sorot matanya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah puing-puing rumah, sebelum melanjutkan ucapannya.
“Saya dulunya, ya, saya mantan pelaku illegal logging.”
Membalak sejak usia dini
Kala itu Agam berusia 15 tahun, ketika salah seorang anggota keluarganya merekrut Agam untuk menjadi bagian dari pembalak liar.
Yang ditanamkan di dalam pikiran Agam saat itu adalah membalak hutan merupakan satu-satunya mata pencaharian, sehingga tak ada pilihan lain selain melakukan pekerjaan tersebut.
Mulai dari momen itu, Agam pun menjalani kesehariannya sebagai pembalak hutan ketika kawan-kawan seusianya menjalani keseharian sebagai pelajar di bangku SMA.
Ia telah mengecap pekerjaan sebagai penebang pohon, perakit hasil penebangan, pengangkut hasil penebangan, hingga penjual pohon-pohon yang ditebang. Adapun upah yang ia peroleh ketika menjalani aktivitas sebagai pembalak liar berkisar di nominal Rp100 ribu per hari.
Lembar demi lembar rupiah ia terima, menyebabkan Agam yang masih berusia dini terlena dengan pekerjaan tersebut.
“Saya sampai putus sekolah karena sudah kecanduan uang. Itu juga kenapa saya sangat membenci illegal logging,” tutur Agam.
Sebagian besar dari lahan yang terbuka setelah penebangan hutan lantas disulap menjadi kebun sawit.
Agam menjalani kehidupan kelam itu hingga berusia 23 tahun, sebelum ia menyadari bahwa dirinya hanya diperalat oleh juragan atau tauke yang mempekerjakan mereka. Pekerjaannya sebagai pembalak liar menyebabkan Agam putus sekolah, merusak lingkungan, dan memperkaya orang lain.
Ia menolak untuk mengungkapkan siapa yang mempekerjakan dirinya maupun siapa pemilik kebun sawit tersebut. Yang jelas, kesadaran itu mendorong Agam untuk mencari mata pencaharian lain, seperti bekerja di ladang.
Titik balik kehidupan
Pada akhir 2022, Agam bergabung ke sebuah yayasan konservasi di Aceh yang berfokus pada patroli hutan untuk satwa liar, restorasi hutan, serta pemberdayaan masyarakat untuk melindungi flora dan fauna.
Kesempatan tersebut membuka mata Agam; ia mempelajari berbagai alasan mengapa hutan harus dilindungi, ia belajar mengenai pentingnya menjaga habitat gajah untuk mencegah terjadi kontak negatif antara gajah dengan manusia, ia juga belajar mengenai betapa buruknya dampak pembalakan liar terhadap alam.
“Ini pertama saya mencintai hutan. Dari sini saya mulai pelan-pelan untuk mencintai hutan,” tutur Agam.
Agam pun membangun kedekatan dengan gajah-gajah yang berada di kawasan hutan. Gajah-gajah telah terlatih untuk melihat Agam sebagai kawan, alih-alih sebagai lawan.
Akan tetapi, perjalanannya mencintai hutan tidaklah mudah. Masa lalunya sebagai pembalak hutan sesekali menjadi kendala. Bahkan, ia sempat keluar dari yayasan tersebut yang disinyalir disebabkan oleh masa lalunya.
“Tetapi saya tidak ke illegal logging lagi. Saya sangat menghindari itu. Saya beralih menjadi teknisi wifi internet,” ucapnya.
Apa pun Agam lakukan agar ia tak lagi kembali ke jurang pembalakan liar. Ia telah mencintai hutan dan berjanji untuk menjaga kelestariannya. Hingga bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh pada akhir November 2025, Agam memegang janjinya untuk tidak kembali menjadi pembalak liar.
Tobat ekologis
Setelah bencana banjir dan tanah longsor melanda Aceh, Agam kembali menjadi anggota konservasi. Ia resmi kembali menjadi bagian dari yayasan tersebut pada Januari 2026.
Agam berambisi untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga hutan kepada masyarakat di desanya.
Pada momen itu, Agam mulai mengajak komunitas di sekitarnya untuk turut mencintai hutan dan melakukan pertobatan ekologis. Terlebih, kepada warga desa yang pernah, bahkan masih, terjerumus dalam lingkar pembalakan liar.
Istilah tobat ekologis pertama kali diperkenalkan oleh Paus Fransiskus melalui Ensiklik Laudato si' pada 24 Mei 2015. Ensiklik Laudato si’ merupakan surat pastoral Paus Fransiskus yang fokus pada isu-isu lingkungan hidup.
Paus Fransiskus menyampaikan krisis ekologis merupakan panggilan untuk pertobatan batin yang mendalam, sehingga dibutuhkan pertobatan ekologis (poin ke-217). Paus Fransiskus menyampaikan pertobatan ekologis secara menyeluruh meliputi pengakuan atas kesalahan, dosa, kelemahan, dan kegagalan, yang lantas bermuara pada pertobatan yang tulus dan keinginan untuk berubah.
Pada poin ke-219, Paus Fransiskus juga menyinggung pentingnya pertobatan ekologis untuk dilakukan bersama-sama, tidak semata-mata secara individual, guna menghadirkan perubahan yang lestari.
Istilah tobat ekologis juga muncul dalam debat calon wakil presiden (cawapres) Republik Indonesia pada awal 2024, sebagaimana yang diserukan oleh Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang kala itu menjadi calon wakil presiden dengan nomor urut 1.
Cak Imin mengingatkan bencana ekologis dan krisis lingkungan terjadi di mana-mana tanpa harus menyalahkan siapa pun. Namun, hal itu adalah suatu fakta yang perlu diantisipasi bersama secara baik.
Selaras dengan poin-poin tersebut, Agam dengan aktif merangkul masyarakat untuk berubah. Agam menjelaskan kepada masyarakat bahwa banjir bandang yang disertai dengan gelondongan kayu disebabkan oleh aktivitas pembalakan liar.
Rumah-rumah, sekolah, hingga tempat ibadah hancur akibat terhantam oleh ratusan gelondongan kayu.
Agam bersama rekan-rekan dari yayasan konservasi juga akan melakukan sosialisasi ke desa-desa soal pentingnya menjaga kawasan hutan. Ia menilai bencana yang melanda Aceh berhasil menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan.
“Saya berjanji untuk mengubah semua yang masyarakat lakukan sebelumnya. Saya akan ubah, dan sesudah ini mereka harus tahu apa yang harus dikerjakan,” tutur Agam penuh ambisi.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai langkah mulia. Dari latar belakang terkelam pun, seseorang bisa bangkit untuk berbuat kebaikan.
Agam merupakan seorang penyintas bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh pada akhir November 2025. Ia tak merasa asing dengan bencana banjir, sebab rumahnya terletak begitu dekat dengan sungai.
Namun, banjir bandang yang terjadi pada November 2025 berbeda dengan banjir-banjir yang biasanya. Banjir itu membawa gelondongan kayu yang memporak-porandakan berbagai bangunan dalam lintasannya, baik itu rumah, sekolah, hingga masjid di Dusun Sarah Gala, Desa Sahraja, Aceh Timur, Aceh.
Tak terkecuali rumah Agam. Bencana yang menghancurkan kediamannya seolah menjadi alarm pengingat bagi Agam ihwal dampak dari aktivitas penebangan hutan secara liar.
“Kalau saja banjirnya hanya air, ini (rumah) tidak akan hancur. Saya sangat membenci, sangat-sangat membenci illegal logging (pembalakan liar),” tutur Agam dengan jemari yang mengepal erat.
Terdapat perpaduan amarah dan penyesalan dalam sorot matanya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah puing-puing rumah, sebelum melanjutkan ucapannya.
“Saya dulunya, ya, saya mantan pelaku illegal logging.”
Membalak sejak usia dini
Kala itu Agam berusia 15 tahun, ketika salah seorang anggota keluarganya merekrut Agam untuk menjadi bagian dari pembalak liar.
Yang ditanamkan di dalam pikiran Agam saat itu adalah membalak hutan merupakan satu-satunya mata pencaharian, sehingga tak ada pilihan lain selain melakukan pekerjaan tersebut.
Mulai dari momen itu, Agam pun menjalani kesehariannya sebagai pembalak hutan ketika kawan-kawan seusianya menjalani keseharian sebagai pelajar di bangku SMA.
Ia telah mengecap pekerjaan sebagai penebang pohon, perakit hasil penebangan, pengangkut hasil penebangan, hingga penjual pohon-pohon yang ditebang. Adapun upah yang ia peroleh ketika menjalani aktivitas sebagai pembalak liar berkisar di nominal Rp100 ribu per hari.
Lembar demi lembar rupiah ia terima, menyebabkan Agam yang masih berusia dini terlena dengan pekerjaan tersebut.
“Saya sampai putus sekolah karena sudah kecanduan uang. Itu juga kenapa saya sangat membenci illegal logging,” tutur Agam.
Sebagian besar dari lahan yang terbuka setelah penebangan hutan lantas disulap menjadi kebun sawit.
Agam menjalani kehidupan kelam itu hingga berusia 23 tahun, sebelum ia menyadari bahwa dirinya hanya diperalat oleh juragan atau tauke yang mempekerjakan mereka. Pekerjaannya sebagai pembalak liar menyebabkan Agam putus sekolah, merusak lingkungan, dan memperkaya orang lain.
Ia menolak untuk mengungkapkan siapa yang mempekerjakan dirinya maupun siapa pemilik kebun sawit tersebut. Yang jelas, kesadaran itu mendorong Agam untuk mencari mata pencaharian lain, seperti bekerja di ladang.
Titik balik kehidupan
Pada akhir 2022, Agam bergabung ke sebuah yayasan konservasi di Aceh yang berfokus pada patroli hutan untuk satwa liar, restorasi hutan, serta pemberdayaan masyarakat untuk melindungi flora dan fauna.
Kesempatan tersebut membuka mata Agam; ia mempelajari berbagai alasan mengapa hutan harus dilindungi, ia belajar mengenai pentingnya menjaga habitat gajah untuk mencegah terjadi kontak negatif antara gajah dengan manusia, ia juga belajar mengenai betapa buruknya dampak pembalakan liar terhadap alam.
“Ini pertama saya mencintai hutan. Dari sini saya mulai pelan-pelan untuk mencintai hutan,” tutur Agam.
Agam pun membangun kedekatan dengan gajah-gajah yang berada di kawasan hutan. Gajah-gajah telah terlatih untuk melihat Agam sebagai kawan, alih-alih sebagai lawan.
Akan tetapi, perjalanannya mencintai hutan tidaklah mudah. Masa lalunya sebagai pembalak hutan sesekali menjadi kendala. Bahkan, ia sempat keluar dari yayasan tersebut yang disinyalir disebabkan oleh masa lalunya.
“Tetapi saya tidak ke illegal logging lagi. Saya sangat menghindari itu. Saya beralih menjadi teknisi wifi internet,” ucapnya.
Apa pun Agam lakukan agar ia tak lagi kembali ke jurang pembalakan liar. Ia telah mencintai hutan dan berjanji untuk menjaga kelestariannya. Hingga bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh pada akhir November 2025, Agam memegang janjinya untuk tidak kembali menjadi pembalak liar.
Tobat ekologis
Setelah bencana banjir dan tanah longsor melanda Aceh, Agam kembali menjadi anggota konservasi. Ia resmi kembali menjadi bagian dari yayasan tersebut pada Januari 2026.
Agam berambisi untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga hutan kepada masyarakat di desanya.
Pada momen itu, Agam mulai mengajak komunitas di sekitarnya untuk turut mencintai hutan dan melakukan pertobatan ekologis. Terlebih, kepada warga desa yang pernah, bahkan masih, terjerumus dalam lingkar pembalakan liar.
Istilah tobat ekologis pertama kali diperkenalkan oleh Paus Fransiskus melalui Ensiklik Laudato si' pada 24 Mei 2015. Ensiklik Laudato si’ merupakan surat pastoral Paus Fransiskus yang fokus pada isu-isu lingkungan hidup.
Paus Fransiskus menyampaikan krisis ekologis merupakan panggilan untuk pertobatan batin yang mendalam, sehingga dibutuhkan pertobatan ekologis (poin ke-217). Paus Fransiskus menyampaikan pertobatan ekologis secara menyeluruh meliputi pengakuan atas kesalahan, dosa, kelemahan, dan kegagalan, yang lantas bermuara pada pertobatan yang tulus dan keinginan untuk berubah.
Pada poin ke-219, Paus Fransiskus juga menyinggung pentingnya pertobatan ekologis untuk dilakukan bersama-sama, tidak semata-mata secara individual, guna menghadirkan perubahan yang lestari.
Istilah tobat ekologis juga muncul dalam debat calon wakil presiden (cawapres) Republik Indonesia pada awal 2024, sebagaimana yang diserukan oleh Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang kala itu menjadi calon wakil presiden dengan nomor urut 1.
Cak Imin mengingatkan bencana ekologis dan krisis lingkungan terjadi di mana-mana tanpa harus menyalahkan siapa pun. Namun, hal itu adalah suatu fakta yang perlu diantisipasi bersama secara baik.
Selaras dengan poin-poin tersebut, Agam dengan aktif merangkul masyarakat untuk berubah. Agam menjelaskan kepada masyarakat bahwa banjir bandang yang disertai dengan gelondongan kayu disebabkan oleh aktivitas pembalakan liar.
Rumah-rumah, sekolah, hingga tempat ibadah hancur akibat terhantam oleh ratusan gelondongan kayu.
Agam bersama rekan-rekan dari yayasan konservasi juga akan melakukan sosialisasi ke desa-desa soal pentingnya menjaga kawasan hutan. Ia menilai bencana yang melanda Aceh berhasil menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan.
“Saya berjanji untuk mengubah semua yang masyarakat lakukan sebelumnya. Saya akan ubah, dan sesudah ini mereka harus tahu apa yang harus dikerjakan,” tutur Agam penuh ambisi.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai langkah mulia. Dari latar belakang terkelam pun, seseorang bisa bangkit untuk berbuat kebaikan.





