NILAI tukar rupiah ditutup melemah 81 poin atau 0,48 persen menjadi Rp16.868 per dolar AS, Senin (2/3). Menurut Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede pelemahan rupiah dipicu perang di Timur Tengah.
Dari sisi pasar keuangan, sambung Josua, perang antara Iran, Amerika Serikat dan Israel mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga dolar AS cenderung menguat dan biaya pendanaan negara berkembang berisiko naik.
Selain itu, ia juga mengatakan selain pelemahan rupiah, ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran dapat menimbulkan gejolak pasar yakni risiko gangguan pasokan yang berpengaruh pada perekonomian Indonesia.
Baca juga : Purbaya Soroti Ketidaksinkronan Rupiah dan IHSG
Seiring dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat dan Israel, kapal-kapal pengakut minyak dan gas alam cair di Selat Hormuz tertahan. Aktivitas pelabuhan utama sempat ditangguhkan, yang membuat biaya angkut dan asuransi cenderung naik dan pasokan energi naik.
"Perhatian pasar segera mengarah ke Selat Hormuz karena arus tanker dapat melambat bahkan tertahan, pelayaran dan logistik ikut terganggu," ucapnya Senin (2/3).
Hal itu menurutnya dapat mendorong inflasi energi global. Harga minyak, sambung dia, melonjak tajam.
Skenario penutupan penuh Hormuz menurutnya diperkirakan dapat mendorong harga minyak melampaui level 100 dolar AS per barel. Meskipun saat ini berada di kisaran 76,4 dolar AS per barel.
Baca juga : Rupiah Dekati Level 17.000 per Dolar AS, Pengamat : Refleksi Tekanan Sentimen Pasar Global
Penutupan Selat Hormuz berdampak pada rantai pasok global. Guncangan kecil yang terjadi, ujar dia, mampu membuat biaya logistik naik.
"Proyeksi tarif sewa tanker minyak yang berpotensi mendekati 300 ribu dolar AS per hari menunjukkan besarnya tekanan biaya angkut energi saat risiko Hormuz meningkat," paparnya.
Dolar yang menguat dan kenaikan harga minyak menurutnya membuat mata uang negara pengimpor energi lebih rentan tertekan. (Ant/H-4)





