Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perkembangan harga beras di berbagai mata rantai distribusi pada Februari 2026. Secara umum, harga beras di tingkat grosir dan eceran masih mencatatkan kenaikan, sementara di tingkat penggilingan justru mengalami penurunan tipis secara bulanan.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan rata-rata harga beras di penggilingan pada Februari 2026 secara total turun 0,33 persen secara bulanan (mtm). Namun, secara tahunan harga masih meningkat cukup tinggi.
"Jika kita pilah menurut kualitas beras di penggilingan, maka beras premium naik 0,30 persen mtm dan naik 9,46 persen yoy, sementara beras medium turun 0,14 persen secara bulanan mtm dan naik 4,64 persen yoy," kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (2/3).
Di tingkat grosir, harga beras pada Februari 2026 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,45 persen mtm dan 4,98 persen secara tahunan yoy. Sementara di tingkat eceran, inflasi beras mencapai 0,43 persen mtm dan 3,61 persen yoy.
Kenaikan di tingkat eceran ini menjadi sorotan karena langsung berdampak pada konsumen akhir. Meski laju kenaikan bulanan relatif moderat, secara tahunan harga beras masih berada dalam tren naik.
"Sebagai informasi, harga beras yang kami sampaikan di sini merupakan rata-rata harga beras yang mencakup berbagai jenis kualitas dan juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia," kata Ateng.
Nilai Tukar Petani Naik
Di sisi kesejahteraan petani, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Februari 2026 mencapai 125,45 atau naik 1,50 persen dibanding Januari 2026. Kenaikan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) meningkat 2,17 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,65 persen.
Kondisi ini menunjukkan posisi tukar petani secara umum membaik pada Februari. Peningkatan NTP mengindikasikan bahwa pendapatan petani dari hasil penjualan komoditas naik lebih cepat dibandingkan pengeluaran mereka, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi.
Produksi Padi dan Jagung Meningkat
Dari sisi produksi, realisasi luas panen padi pada Januari 2026 mencapai 0,57 juta hektare atau naik 35,72 persen dibanding Januari 2025 yang sebesar 0,42 juta hektare. Kenaikan luas panen ini diikuti peningkatan produksi padi yang mencapai 3,04 juta ton gabah kering giling (GKG), atau naik 38,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, untuk periode tiga bulan ke depan, BPS memproyeksikan adanya penurunan. Pada Februari–April 2026, luas panen padi diperkirakan mencapai 3,92 juta hektare atau turun sekitar 0,16 juta hektare (3,87 persen) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan itu, potensi produksi padi pada Februari–April 2026 diperkirakan mencapai 21,24 juta ton GKG, atau turun 4,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi beras pada periode yang sama juga diproyeksikan turun 4,02 persen menjadi 12,23 juta ton.
”Angka potensi luas panen dapat berubah sesuai kondisi terkini hasil amatan lapangan seperti serangan hama, banjir, kekeringan, waktu realisasi panen, dan lain sebagainya,” jelas Ateng.
Selain padi, BPS juga mencatat realisasi luas panen jagung pada Januari 2026 mencapai 0,24 juta hektare atau naik sekitar 11,17 persen dibanding Januari 2025. Produksi jagung pada Januari 2026 mencapai 1,38 juta ton jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK KA 14 persen), atau naik 11,09 persen dibandingkan Januari 2025.




