Pesan Persatuan Umat Ali Khamenei

celebesmedia.id
2 jam lalu
Cover Berita

PEMIMPIN Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Hosseini Khamenei (87) syahid dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat, Sabtu (28/2/2016) di kediamannya, di Teheran. Di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.

Bukan hanya dirinya. Anak, menantu, dan cucunya juga jadi korban jiwa serangan itu. Sejumlah pejabat penting negara, termasuk mantan Presiden Ahmadinejad, juga tewas.

Khamenei dinobatkan menjadi Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989. Setelah Pemimpin Revolusi Republik Islam Iran, Ayatullah Ruhollah Ali Khomeini wafat. Sebelumnya Khamenei  menjabat Presiden Iran (1981-1989), dan Imam Besar.

Jabatan itu baginya, bukanlah sekadar simbol kepemimpinan negara dan Islam Syiah. Tetapi alat memperjuangkan Islam secara utuh. Baginya, tidak masalah kita mati. Iran tidaklah penting, karena yang paling penting adalah Islam. 

Seorang bocah, kepada Ayatollah Khamenei, meminta didoakan agar syahid... Dengan suara datar yang serak, Ayatullah berkata: tumbulah kamu dewasa dan tinggi. Giat belajar dan meraih ilmu bermanfaat. Berjuanglah untuk Islam. Hiduplah hingga 80-90 tahun, lalu wafat syahid.

Pada kesempatan lain, seorang anak perempuan, dalam suatu pertemuan majelis, mengatakan, hari itu ulang tahunnya. "Ayah saya (yang syahid) memberikan aku hadiah, yaitu dirimu. Kini aku datang kepadamu. Karena aku belum baliq, bolehkah aku memelukmu?" kata anak perempuan itu.

Tanpa berpikir, ia jawab langsung. "Kemarilah, peluk aku.,"

Syahid adalah tujuan hidupnya demi Islam yang bersatu dan kuat, tanpa mempertimbangkan perbedaan dalam berbagai hal. 

"Ketika kami mendukung orang-orang yang tertindas, kami tidak melihat mazhab mereka. Dan memang sejak awal kami tidak pernah melakukannya," katanya.

Dia melanjutkan, dukungan yang sama kami berikan kepada saudara-saudara kami di Lebanon. Juga kami berikan kepada saudara-saudara kami di Gaza.

"Tanpa perbedaan apa pun. Mereka adalah sunni, yang ini syiah. Bagi kami yang menjadi persoalan adalah pembelaan terhadap identitas Islam".

Pada suatu lini masa media sosial, saya membaca pesannya yang sangat menyentuh: Hari ini kita tidak memiliki Umat Islam. Ada banyak negara Islam. Hampir dua miliar muslim hidup di dunia. Tetapi gelar umat tidak bisa diterapkan pada kumpulan ini, karena mereka tidak bersatu. Tidak bergerak ke satu arah menuju satu tujuan dan satu motivasi.

Kita tidak seperti itu, katanya, kita terpecah belah. Hasil dari perpecahan ini adalah dominasi musuh-musuh Islam. Kita bisa saling menopang, bergandengan tangan, memanfaatkan sumber daya satu sama lain, saling bantu dan membentuk satu kesatuan.

"Kesatuan ini bisa menjadi lebih kuat daripada kekuatan dunia saat ini, dengan seizin Allah", katanya.

Entah kapan pesan itu diucapkan. Yang pasti masih kontekstual dan relevan dengan kondisi "Umat Islam" hingga detik ini. Keislaman yang tanpa melihat perbedaan, antara Sunni dan Syiah.

LSaya teringat dialog saya dengan seorang jemaah asal Pakistan yang telah lama bermukim di London, Inggris. Suatu malam kami duduk-duduk di halaman Masjid Haram. Menikmati indahnya suasana. Waktu itu saya dan dia sedang melaksakan ibadah haji tahun 1998. 

Panjang lebar kami berdiskusi tentang ibadah haji, tentang keislaman umat sedunia. Dia tertarik dengan isu kondisi umat Islam di Indonesia, terkait gejolak politik yang sedang terjadi. Presiden Soeharto baru saja lengser.

Ada satu analogi dia yang sangat dalam tertancap di benak saya. Dia meraih tasbih yang saya pegang. "Lihat ini. Ketika dia utuh bersatu diikat seutas tali, kita sebut tasbih. Atau apa pun namanya kita berikan masing-masing. Dia berguna kita pakai berdzikir," katanya.

Dia melanjutkan: coba kalau digunting, diputus talinya, maka biji-biji itu, 33 atau 99 atau berapa banyak pun jumlahnya, seketika berhamburan, bercerai berai, tidak berguna lagi. 

Biji-biji tasbih itu ibaratnya masing-masing individu. Masing-masing biji sebagai suku, bangsa, mazhab. Ketika diikat tali persatuan persaudaran Islam,  umat Islam menjadi kuat, bermakna. Ketika tali pengikatnya itu diputus, seketika pun bercerai berai, berhamburan dan lemah.

Saya tidak sempat menanyakan apakah dia Sunni atau Syiah. Dia juga tidak menanyakan hal yang sama kepada saya. Malam itu suasana terasa syahdu dan udara sejuk, bicara tentang Islam pada level "asyhadu alla ilaha illallah, waasyhadu anna muhammadurrasulullah" yang sama. 

(ANDI SURUJI).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Nasehat Ayatollah Ali Khamenei ke Bocah Iran yang Ingin Mati Syahid
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Try Sutrisno Dirawat di RSPAD Sejak 16 Februari Sebelum Wafat
• 12 jam lalukompas.com
thumb
Memanas! Presiden Kuba Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei, Sebut AS-Israel Langgar Hukum Internasional
• 11 jam lalusuara.com
thumb
Profil Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua KPAI yang Dikabarkan Meninggal Dunia, Siapa Sosoknya?
• 12 jam lalugrid.id
thumb
Airlangga Bidik Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen, Ditopang Daya Beli Selama Ramadan dan Idulfitri
• 3 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.