Perang Israel-AS vs Iran, Investor "Flight to Quality" Bergeser dari Saham ke Obligasi

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Investor terpantau melakukan flight to quality saat volatilitas saham tinggi imbas perang Israel-Amerika Serikat melawan Iran. Adapun, aset pendapatan tetap (obligasi) dinilai menjadi salah satu pilihan.

Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Salvian Fernando mengatakan dalam situasi geopolitik yang memanas, biasanya terjadi fenomena flight to quality, yakni perpindahan dana dari aset berisiko seperti saham ke instrumen pendapatan tetap.

“Pasar obligasi Indonesia yang terkenal cukup resilience dari berbagai sentimen global berpotensi mendapat sebagian aliran tersebut karena yield obligasinya juga terbilang masih cukup menarik terutama jika dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya,” ujarnya, Senin (2/3/2026).

Adapun, peningkatan tensi geopolitik berpotensi mendorong volatilitas global dan membuat yield obligasi tetap tinggi atau naik sementara, seiring meningkatnya premi risiko yang diminta investor.

Baca Juga : Potensi Arus Masuk Asing ke Pasar Obligasi RI Efek Perang Israel-AS vs Iran

Namun demikian, sambungnya, struktur kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia yang didominasi investor domestik menjadi bantalan penting. Porsi kepemilikan lokal yang besar membuat pengaruh sentimen global terhadap pasar obligasi relatif lebih terbatas.

Di sisi lain, minat penerbitan obligasi justru menunjukkan tren yang cukup tinggi sejak awal tahun.

Sepanjang 2026, PHEI mencatat pemerintah telah menerbitkan sekitar Rp206 triliun obligasi melalui mekanisme lelang. Sementara itu, penerbitan obligasi korporasi baru tercatat mencapai Rp37,5 triliun.

Tingginya permintaan investor terhadap obligasi, ditambah kondisi yield yang dinilai masih relatif menarik, mendorong banyak penerbit memanfaatkan momentum awal tahun untuk masuk ke pasar.

Adapun data yang dihimpun dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per 25 Februari 2026 menunjukkan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp3,25 triliun secara year to date .

Meski nilainya  masih relatif kecil dibandingkan outflow di pasar saham, Salvian juga mencermati minimnya aliran dana masuk sejak awal tahun mencerminkan sikap hati-hati investor global terhadap emerging markets, termasuk Indonesia.

Dia pun menilai kecenderungan net sell ini menjadi sinyal bahwa investor asing masih berada dalam mode risk off.

Sementara itu, Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mencermati  pangsa pasar kepemilikan asing di obligasi yang pada akhir 2025 berada di kisaran 13%, mulai naik mendekati 14% pada Januari 2026. Fenomena ini menunjukkan adanya aksi switching dari ekuitas ke fixed income.

Artinya, dana asing tidak sepenuhnya keluar dari Indonesia, melainkan berpindah instrumen investasi. Kondisi ini pula yang dinilai ikut menjaga stabilitas nilai tukar rupiah meskipun terjadi outflow di pasar saham.

“Untuk obligasi kemungkinan akan ada peningkatan permintaan dalam waktu dekat akibat sentimen Iran-AS,sedangkan dari sisi global bond kemungkinan masih akan stabil,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ini Alasan Rumah di Arab Memiliki Bentuk Kotak dan Tanpa Genteng
• 10 jam lalubeautynesia.id
thumb
Jadwal Salat dan Imsakiyah Kota Makassar Hari Ini, 12 Ramadan 1447 H
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Cerita Pihak Swasta Disuruh Pejabat Kemnaker Beli Emas 300 Gram Pakai Uang Pemerasan K3
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Aramco Tutup Kilang Minyak Terbesar di Arab Saudi Imbas Perang Iran-AS
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Jaga Kekhusyukan Ramadan, Petugas Gabungan di Kabupaten Bogor Sita Ratusan Botol Miras
• 12 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.