Kasus Orang Hilang di Tiongkok Terus Meningkat, Tim Pencari Keluarga Semakin Bertambah

erabaru.net
10 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Belakangan ini, berbagai wilayah di daratan Tiongkok melaporkan peningkatan signifikan kasus orang hilang. Jumlah remaja dan anak-anak yang dilaporkan hilang terus bertambah, sementara kelompok masyarakat yang mencari anggota keluarga mereka juga semakin meluas.

Sejumlah analis menilai bahwa di balik meningkatnya kasus orang hilang dalam jumlah besar tersebut, terdapat dugaan praktik sistematis pengambilan organ secara paksa oleh rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Sejak awal 2026, laporan mengenai hilangnya warga di berbagai daerah masih terus bermunculan. Berdasarkan data yang belum sepenuhnya lengkap, dalam kurun waktu setengah bulan saja tercatat puluhan orang dilaporkan hilang.

Informasi lain menunjukkan bahwa dalam 22 hari pada Oktober 2025, lebih dari 107 orang dinyatakan hilang, dengan korban termuda berusia hanya 5 tahun. Sementara itu, antara 20 hingga 31 Desember 2025, dalam rentang 11 hari saja, sedikitnya 136 orang dilaporkan hilang, dengan usia termuda 8 tahun.

Dalam sebuah video yang beredar, seorang warga mengungkapkan kekhawatirannya:

“Saya dan suami bahkan tidak berani keluar rumah. Rasanya akhir-akhir ini semakin tidak aman. Bukan hanya anak-anak, orang dewasa yang hilang juga tidak sedikit. Di sekitar saya ada kejadian seorang ibu yang membawa putrinya—anak itu masih siswa SMP—baru saja keluar dari sebuah supermarket dekat rumah kami, lalu diculik oleh sebuah mobil van di jalan. Sampai sekarang belum ditemukan.”

Semakin meningkatnya jumlah orang hilang telah memicu kekhawatiran luas di kalangan masyarakat. Pada saat yang sama, berbagai kelompok pencari keluarga di banyak daerah Tiongkok terus berkembang dan bertambah anggotanya.

“Pada tahun 2025, sekitar 1,15 juta orang dilaporkan hilang. Kini korbannya semakin muda. Teknologi pengambilan organ paksa oleh PKT sudah sangat matang. Organ dari orang yang lebih muda dianggap memiliki kualitas terbaik,” kata Wakil Ketua Federasi Demokrasi Tiongkok di Jerman, Wang Shoufeng. 

“Cengkeraman mereka bahkan telah menjangkau anak-anak yang masih sangat kecil. Dari siswa sekolah yang mulai diambil sampel darahnya untuk dimasukkan ke dalam basis data organ, hingga siswa SMA yang disebut harus menjalani pengambilan darah untuk masuk ke database sebelum bisa mengikuti ujian masuk universitas,” tambahnya.  

Wang Shoufeng menegaskan bahwa di balik banyaknya kasus orang hilang terdapat praktik sistematis transplantasi organ yang dilakukan oleh rezim.

“Transplantasi organ memberikan dua keuntungan besar bagi pemerintah PKT. Pertama, keuntungan ekonomi dengan pendapatan yang sangat besar. Kedua, menyediakan donor gratis bagi para pejabat tinggi dan politisi di seluruh dunia. Organ-organ ini bisa dijadikan alat suap kepada tokoh-tokoh dunia. Bahkan memungkinkan generasi elite dan pejabat tinggi hidup hingga usia 150 tahun.”

Ia juga mempertanyakan mengapa kasus orang hilang sulit terungkap di negara yang dipenuhi sistem pengawasan ketat.

“Di Tiongkok, kamera pengawas ada di mana-mana. Pelanggaran lalu lintas kecil pun tidak bisa lolos. Mengatakan sesuatu yang anti-PKT di internet bisa langsung ditangkap. Lalu mengapa orang hilang tidak bisa ditemukan? Karena PKT sendiri adalah dalang di baliknya—akar utama dari hilangnya populasi ini.” (jhon)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Memahami Emophilia dan Bedanya dengan Love Bombing dalam Psikologi Asmara
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Menakar Prioritas Politik Anggaran Pemerintah
• 23 jam lalukompas.id
thumb
3 Minggu Pasca Kebakaran Gudang Pestisida, Warga Sebut Sungai Cisadane Tak Lagi Berbau
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Mudik Gratis, 9 Bus Siap Jemput Perantau Boyolali di Jabodetabek
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Conor McGregor Batal Tampil di UFC White House, Comeback Berpotensi Digelar pada Tanggal Segini
• 7 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.