Bisnis.com, JAKARTA – PT Astra Daihatsu Motor (ADM) mengungkapkan dampak konflik antara Iran dengan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS) terhadap kinerja ekspor mobil perseroan.
Perlu diketahui, Daihatsu mengekspor mobil ke beberapa negara di kawasan Timur Tengah, yakni Qatar, Oman, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Lebanon hingga Kuwait. Salah satu model yang banyak diekspor ke Timur Tengah yakni Raize yang dirakit di pabrik Daihatsu, Karawang.
Direktur Marketing dan Corporate Communication PT ADM, Sri Agung Handayani mengakui terdapat kendala logistik akibat konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat perseroan saat ini tengah mempertimbangkan penggunaan jalur alternatif dalam proses pengiriman kendaraan ke sejumlah negara di wilayah tersebut.
"Kalau di Timur Tengah sekarang kami belum tahu. Jadi, yang saat ini sedang kami diskusikan, yang sudah order itu nanti kapalnya mau kami kirim melalui jalur mana," ujar Sri Agung di Wisma Bisnis Indonesia, Senin (2/3/2026).
Terkait hal tersebut, saat ini PT Astra Daihatsu Motor tengah berdiskusi secara intens dan menunggu arahan lebih lanjut dari prinsipal Daihatsu Motor Co., Ltd, Jepang.
Baca Juga
- Insentif Impor Mobil Listrik Disetop, Vinfast Pede akan Andalkan Produksi Lokal
- Impor Mobil BYD Salip Toyota hingga Mitsubishi per Agustus 2025
- AS Resmi Pangkas Tarif Impor Mobil dari Uni Eropa Jadi 15%
"Jadi, sejauh ini kami masih terus berdiskusi dan menunggu konfirmasi dari prinsipal," jelasnya.
Sebagai catatan, pada 2025, Daihatsu telah mengekspor kendaraan utuh (completely built up/CBU) lebih dari 124.000 unit, atau naik 13% (year on year/YoY) dibandingkan 2024 sekitar 110.000 unit.
Totalnya, ADM telah mengekspor beberapa model kendaraan kolaborasi ke lebih dari 60 negara di dunia, meliputi negara di Asean, Asia Selatan, Asia Timur, Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin.
Ada tiga negara yang menjadi kontributor destinasi ekspor terbesar bagi perseroan, di antaranya yakni Filipina yang berkontribusi sebesar 34,8%, disusul Jepang 9,7% dan Meksiko 8,6%.
Seperti diketahui, konflik di Iran kian memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Teheran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan itu mengakibatkan tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang telah memerintah lebih dari 3 dekade.
Adapun, potensi gangguan akibat perang tersebut tidak hanya terjadi pada aktivitas perdagangan di tingkat regional. Konflik yang semakin luas juga berisiko mengganggu rantai pasok global.
Selain risiko kenaikan harga minyak dunia dan terhambatnya jalur logistik, perang di Timur Tengah itu juga berisiko menimbulkan krisis pasokan chip semikonduktor yang memengaruhi industri otomotif global, termasuk Indonesia.





