Jakarta, CNBC Indonesia - Intelijen yang dikumpulkan Central Intelligence Agency (CIA) selama berbulan-bulan dan dibagikan kepada mitra Israel mengarah pada serangan rudal yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Serangan tersebut terjadi di Teheran pada Sabtu (1/3/2026), menurut sumber yang mengetahui persoalan itu.
Sumber itu menyebut CIA telah melacak pergerakan Khamenei dalam beberapa bulan terakhir dan memperoleh informasi tentang pertemuan pejabat senior Iran di sebuah kompleks di Teheran yang diperkirakan dihadiri Khamenei. Informasi tersebut kemudian dibagikan kepada Israel dan mempercepat waktu serangan untuk memanfaatkan peluang yang ada.
"Wawasan itu, yang disampaikan kepada rekan-rekan Israel, mempercepat jadwal serangan," ujar sumber tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas isu intelijen sensitif, seperti dikutip CBS News, Senin (2/3/2026).
- Breaking! Iran Tegaskan Tidak Akan Bernegosiasi dengan AS
- Media AS Sebut Arab Saudi Diam-Diam Lobi Trump agar Serang Iran
- Mengenal Operasi Epic Fury: 36 Jam AS-Israel Bom Iran, Bunuh Khamenei
Dalam sebuah wawancara, anggota DPR AS dari Partai Republik Mike Turner mengatakan ia telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Menurut Turner, Rubio "sangat jelas bahwa kami tidak menargetkan Khamenei, dan kami tidak menargetkan kepemimpinan di Iran."
Khamenei, 86 tahun, dilaporkan tewas akibat serangan rudal Israel di kompleks kediamannya di Teheran. Media pemerintah Iran mengkonfirmasi kematian tersebut pada Minggu pagi, beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyebut Khamenei tewas dalam operasi gabungan Amerika Serikat-Israel.
Harian The New York Times sebelumnya melaporkan keterlibatan CIA dalam pelacakan Khamenei sebelum kematiannya.
Ketua Komite Intelijen Senat AS Tom Cotton mengatakan pihaknya tidak akan merinci intelijen yang digunakan, namun menegaskan kemampuan pengumpulan intelijen AS sangat kuat.
"Lokasi dan niat pemimpin tertinggi serta para ayatollah di Iran merupakan prioritas tertinggi komunitas intelijen kami," ujarnya. "Operasi ini didorong oleh intelijen Israel dan Amerika Serikat yang menunjukkan kemampuan yang tidak dimiliki negara lain."
Khamenei menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini, arsitek Revolusi Islam 1979. Selama hampir empat dekade, ia mengkonsolidasikan kekuasaan politik dan militer sekaligus menjadi otoritas keagamaan tertinggi negara.
Hingga kini belum jelas siapa yang akan menggantikannya. Diplomat utama Iran menyatakan para ulama dapat memilih pemimpin tertinggi baru dalam beberapa hari. Sementara itu, Trump mengatakan "ada beberapa kandidat yang baik," namun menolak merinci lebih lanjut.
(tfa) Add as a preferred
source on Google




