tvOnenews.com - Pernah bertanya-tanya kenapa ada vitamin C yang harganya hanya sekitar Rp10.000 per botol, tapi ada juga yang mencapai Rp500.000 bahkan lebih dari Rp1 juta?
Apakah kita hanya membayar merek dan iklan, atau memang ada perbedaan kualitas yang signifikan?
Banyak orang juga pernah mengalami hal serupa: setelah minum vitamin, tak lama kemudian urin berubah menjadi kuning neon dengan bau menyengat.
Kondisi ini sering kali menjadi tanda bahwa vitamin tersebut tidak sepenuhnya diserap tubuh dan justru terbuang percuma.
Lalu, apa sebenarnya yang membedakan vitamin murah dan mahal? Jawabannya terletak pada teknologi formulasi atau “generasi” vitamin yang digunakan.
- Freepik
Berikut penjelasan lengkap dan mudah dipahami agar Anda tidak salah pilih, sebagaimana dilansir dari YouTube
SB30Health.
Tubuh Butuh 13 Vitamin dan Belasan Mineral Setiap Hari
Tubuh manusia membutuhkan 13 vitamin esensial, yakni vitamin A, C, D, E, K, serta delapan jenis vitamin B kompleks.
Selain itu, ada sekitar 15–21 mineral penting seperti zink, kalsium, dan magnesium yang dibutuhkan setiap hari.
Kebutuhan ini idealnya dipenuhi dari makanan bergizi seimbang.
Namun dalam kondisi tertentu, suplemen menjadi pilihan tambahan.
Masalahnya, tubuh bukanlah “corong minyak” yang menyerap semua yang masuk.
Sistem pencernaan memiliki mekanisme seleksi ketat.
Jika bentuk vitamin tidak tepat, penyerapan bisa sangat minim.
Perbedaan harga vitamin sebenarnya bukan sekadar soal merek, melainkan teknologi “kendaraan” yang membawa nutrisi masuk ke dalam sel tubuh.
- Pexels/Anna Shvets
Generasi 1: Murah, Sederhana, tapi Daya Serap Rendah
Vitamin generasi pertama biasanya berbentuk paling dasar, seperti:
* Vitamin C dalam bentuk asam askorbat murni
* Zink sulfat
* Kalsium karbonat
* Vitamin B12 dalam bentuk sianokobalamin
Karena formulanya sederhana dan biaya produksinya rendah, harganya pun murah. Namun ada konsekuensinya.
Bentuk asam atau garam kasar ini sering memicu keluhan lambung seperti perih, mual, atau kembung.
Selain itu, bioavailabilitasnya rendah. Dari 100% yang dikonsumsi, bisa jadi hanya 20–30% yang benar-benar masuk ke aliran darah. Sisanya terbuang melalui urin.




