Rahasia di Balik Harga Vitamin: Dari Rp10 Ribu hingga Jutaan, Mana yang Kualitasnya Lebih Bagus?

tvonenews.com
11 jam lalu
Cover Berita

tvOnenews.com - Pernah bertanya-tanya kenapa ada vitamin C yang harganya hanya sekitar Rp10.000 per botol, tapi ada juga yang mencapai Rp500.000 bahkan lebih dari Rp1 juta? 

Apakah kita hanya membayar merek dan iklan, atau memang ada perbedaan kualitas yang signifikan?

Banyak orang juga pernah mengalami hal serupa: setelah minum vitamin, tak lama kemudian urin berubah menjadi kuning neon dengan bau menyengat. 

Kondisi ini sering kali menjadi tanda bahwa vitamin tersebut tidak sepenuhnya diserap tubuh dan justru terbuang percuma. 

Lalu, apa sebenarnya yang membedakan vitamin murah dan mahal? Jawabannya terletak pada teknologi formulasi atau “generasi” vitamin yang digunakan.

Ilustrasi Vitamin D
Sumber :
  • Freepik

Berikut penjelasan lengkap dan mudah dipahami agar Anda tidak salah pilih, sebagaimana dilansir dari YouTube 
SB30Health.

Tubuh Butuh 13 Vitamin dan Belasan Mineral Setiap Hari

Tubuh manusia membutuhkan 13 vitamin esensial, yakni vitamin A, C, D, E, K, serta delapan jenis vitamin B kompleks. 

Selain itu, ada sekitar 15–21 mineral penting seperti zink, kalsium, dan magnesium yang dibutuhkan setiap hari.

Kebutuhan ini idealnya dipenuhi dari makanan bergizi seimbang. 

Namun dalam kondisi tertentu, suplemen menjadi pilihan tambahan. 

Masalahnya, tubuh bukanlah “corong minyak” yang menyerap semua yang masuk. 

Sistem pencernaan memiliki mekanisme seleksi ketat. 

Jika bentuk vitamin tidak tepat, penyerapan bisa sangat minim.

Perbedaan harga vitamin sebenarnya bukan sekadar soal merek, melainkan teknologi “kendaraan” yang membawa nutrisi masuk ke dalam sel tubuh.

Ilustrasi vitamin
Sumber :
  • Pexels/Anna Shvets

Generasi 1: Murah, Sederhana, tapi Daya Serap Rendah

Vitamin generasi pertama biasanya berbentuk paling dasar, seperti:

* Vitamin C dalam bentuk asam askorbat murni
* Zink sulfat
* Kalsium karbonat
* Vitamin B12 dalam bentuk sianokobalamin

Karena formulanya sederhana dan biaya produksinya rendah, harganya pun murah. Namun ada konsekuensinya.

Bentuk asam atau garam kasar ini sering memicu keluhan lambung seperti perih, mual, atau kembung. 

Selain itu, bioavailabilitasnya rendah. Dari 100% yang dikonsumsi, bisa jadi hanya 20–30% yang benar-benar masuk ke aliran darah. Sisanya terbuang melalui urin.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
AS Klaim Berhasil Hancurkan Seluruh Kapal Iran di Teluk Oman
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tok! THR 2026 Wajib Cair Selambat-lambatnya H-7 Lebaran, Tak Boleh Dicicil
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Ancaman Perang Timur Tengah, DPR Desak Travel Jamin Keamanan dan Kepulangan Jamaah Umrah
• 20 jam lalusuara.com
thumb
BMKG Prediksi Jabodetabek Berpotensi Hujan Lebat pada 3-7 Maret 2026
• 7 jam laluokezone.com
thumb
Timur Tengah Memanas Pasca AS-Israel Serang Iran, Kemenhaj: 6.047 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Indonesia
• 18 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.