QatarEnergy menghentikan produksi gas alam cair (LNG) setelah fasilitas produksinya diserang oleh drone Iran. Hal ini diperkirakan akan mengganggu pasokan gas di pasar global dan mengerek harga komoditas energi tersebut.
Kementerian Pertahanan Qatar mengatakan drone Iran menyerang dua bangunan, sebuah tangki air di pembangkit listrik yang ada di Mesaieed Industrial City dan sebuah fasilitas energi di Ras Laffan milik QatarEnergy, produsen LNG terbesar di dunia.
Meskipun tidak ada korban yang terluka dalam serangan tersebut, QatarEnergy menghentikan produksi LNG dan produk-produk lainnya yang terdampak di fasilitas tersebut dengan alasan keamanan.
Drone Iran menyerang komplek Ras Laffan, pusat pengolahan LNG yang ditujukan untuk pasar ekspor. Reuters dan Bloomberg melaporkan bahwa badan usaha milik negara (BUMN) Qatar itu menyatakan force majeure, di mana perusahaan dibebaskan dari berbagai kewajiban kontrak karena kondisi luar biasa, seperti serangan drone.
Hal ini terjadi di tengah meningkatnya pertempuran laut antara Iran dan AS, ditambah dengan rudal yang melintas di wilayah tersebut, yang secara efektif telah menghambat Selat Hormuz, jalur perdagangan strategis untuk minyak dan gas. Reuters melaporkan setidaknya 150 kapal, termasuk yang mengangkut LNG, telah berlabuh di selat dan wilayah sekitarnya.
Lalu lintas di Selat Hormuz telah menurun sebesar 86%, dengan sekitar 700 kapal terparkir di kedua sisi selat, menurut Anadolu News Agency.
Ekspor LNG Qatar mewakili 20% pasar global. Jika pasokan LNG menurun, harga akan melonjak.
“Tentu saja ada eskalasi mendadak dengan tekanan pada infrastruktur energi di Teluk,” kata Rachel Ziemba, peneliti senior di Center for a New American Security, sebuah lembaga think tank, kepada Al Jazeera.
Negara-negara yang paling terdampak langsung adalah pasar Asia, terutama Bangladesh, India, dan Pakistan. Cina adalah importir gas alam terbesar di dunia, tetapi sebagian besar impornya berasal dari Australia. Menurut Badan Informasi Energi AS, impor gas Cina dari Australia mencapai 34% dari total impornya.
Maksim Sonin, seorang pakar energi di Pusat Bahan Bakar Masa Depan Universitas Stanford, mengatakan meskipun keputusan QatarEnergy akan membawa “volatilitas” ke pasar energi, ia belum akan menggambarkan situasi tersebut sebagai “krisis” untuk saat ini.
“Kita akan melihat volatilitas jangka pendek di pasar LNG, terutama jika infrastruktur di Qatar dan pusat-pusat lain rusak,” kata Sonin kepada Al Jazeera.
Namun, ia mengatakan kondisi tersebut tidak seburuk krisis gas 2022 yang dihadapi Eropa setelah invasi penuh Rusia ke Ukraina. Pada saat itu, banyak negara Eropa berusaha secara drastis mengurangi ketergantungan mereka pada minyak dan gas Rusia.
Siapa Eksportir LNG Terbesar di Dunia?Hingga 2022, Rusia adalah eksportir LNG terbesar di dunia, tetapi penjualannya anjlok sejak perang di Ukraina dimulai. Saat ini AS adalah eksportir LNG terbesar di dunia, diikuti oleh Qatar dan Australia.
Meskipun 82% penjualan QatarEnergy ditujukan ke negara-negara Asia, penghentian produksi LNG akan menambah tekanan pada pasar-pasar lain di seluruh dunia, terutama di Eropa.
Pada dasarnya, pasokan gas yang lebih kecil harus memenuhi permintaan global yang sama. Akibatnya, harga gas telah mulai melonjak. Harga gas grosir acuan Belanda dan Inggris melonjak hampir 50%, sementara harga LNG acuan Asia melonjak hampir 39%, pada Senin (2/3), setelah pengumuman QatarEnergy.
“Tentu saja tidak baik jika Qatar tetap offline dalam waktu lama,” kata Ziemba. Satu-satunya sisi positif bagi Eropa saat ini adalah musim dingin sudah terlewati sehingga kebutuhan gas tidak terlalu besar.
Juru bicara Komisi Eropa mengatakan Kelompok Koordinasi Gas Uni Eropa akan mengadakan pertemuan pada Rabu (4/3) untuk mengevaluasi dampak dari konflik yang semakin meluas di Timur Tengah. Kelompok tersebut terdiri dari perwakilan pemerintah negara anggota. Kelompok ini memantau cadangan gas dan keamanan pasokan gas di Uni Eropa, serta mengoordinasikan langkah-langkah tanggap darurat selama krisis.




