Jakarta, CNBC Indonesia - Dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah secara historis selalu memberikan dampak yang terukur terhadap pergerakan arus modal asing di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Di tengah kembali meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah saat ini, meninjau ulang catatan data pergerakan dana investor asing (foreign flow) pada krisis-krisis sebelumnya dapat menjadi referensi yang objektif bagi pelaku pasar dalam menyusun strategi portofolio.
Data historis pasar menunjukkan bahwa eskalasi konflik tidak selalu seketika memicu kepanikan di hari pertama. Penyesuaian portofolio umumnya terjadi secara bertahap dan terakumulasi menjadi arus keluar modal yang masif pada pekan-pekan berikutnya.
Berikut adalah ringkasan data historis arus transaksi asing serta nilai transaksinya pada dua peristiwa geopolitik utama:
Pola Historis 2023: Dari 'Wait and See' Menuju Rotasi Aset
Mengacu pada data di atas, respons pasar saham domestik pada awal pecahnya konflik Hamas dan Israel di pekan 9 hingga 13 Oktober 2023 masih tergolong cukup stabil. Investor asing secara agregat mencatatkan net inflow yang tipis, yakni sebesar Rp49,03 miliar.
Pada periode transisi ini, fokus nilai transaksi dominan berpusat pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big banks) seperti perbankan himbara dan sektor kelistrikan serta migas seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).
Namun, ketika pelaku pasar mulai menyadari risiko bahwa konflik berpotensi berkepanjangan, pembalikan arah yang drastis terjadi pada pekan 16 hingga 20 Oktober 2023. Asing berbalik mencatatkan net outflow hingga menyentuh angka Rp3,29 triliun.
Nilai transaksi terbesar masih ditopang oleh bank besar dan sektor energi, dengan emiten seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) memimpin perputaran uang di tengah berjalannya rotasi aset.
Eskalasi 2025: Sektor Perbankan Jadi Pintu Keluar Likuiditas
Pola pelarian modal yang identik terekam kembali ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terjadi pada pertengahan tahun 2025. Pada pekan 23 hingga 26 Juni 2025, yang merupakan fase awal pasca eskalasi serangan udara, arus keluar modal asing masih tertahan di tingkat moderat sebesar Rp112,61 miliar.
Likuiditas pasar pada saat itu terpusat pada sektor perbankan (BMRI, BBRI, BBCA) dan tambang logam mineral seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Akan tetapi, seiring dengan munculnya sentimen ancaman penutupan Selat Hormuz yang dapat mengganggu pasokan energi global, institusi asing merealisasikan aksi jual yang lebih agresif.
Pada pekan berikutnya (30 Juni - 4 Juli 2025), angka net outflow membengkak tajam menjadi Rp2,77 triliun. Menariknya, dominasi nilai transaksi tetap terjadi pada sektor big banks (BMRI, BBCA, BBRI) dan material logam (ANTM, AMMN).
Hal ini memvalidasi kebiasaan bahwa investor asing cenderung menggunakan saham perbankan berlikuiditas tinggi sebagai instrumen pencairan dana darurat yang paling efisien di bursa.
Pelajaran untuk Antisipasi Pasar Saat Ini
Berdasarkan kedua studi kasus tersebut, benang merah yang dapat ditarik untuk menghadapi dinamika pasar hari ini adalah bahwa guncangan keamanan regional selalu menuntut rekalibrasi portofolio.
Saham blue chip perbankan sering kali dijadikan pintu keluar (exit liquidity) utama bagi modal asing, sementara sektor energi cenderung ditransaksikan dengan volatilitas tinggi mengikuti arah harga acuan global.
Menyikapi ketegangan saat ini, memantau arah arus dana asing secara disiplin, membatasi spekulasi pada saham berisiko tinggi, serta menjaga ketersediaan rasio kas tunai adalah langkah mitigasi yang paling rasional.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(gls/gls) Add as a preferredsource on Google




