Konflik AS-Israel vs Iran Picu Kekhawatiran Inflasi, Bursa Asia Melemah

bisnis.com
13 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar saham di sejumlah negara Asia dibuka melemah pada Selasa (3/3/2026) seiring dengan kenaikan harga minyak mentah, yang dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah.

Hal itu dikhawatirkan bakal mendorong inflasi, menurunkan obligasi, serta memangkas ekspektasi pemotongan suku bunga acuan. Di sisi lain, dolar dan emas menguat karena peningkatan permintaan aset aman.

Dilansir Bloomberg, indeks MSCI Asia Pasifik turun 0,8% dengan indeks Kospi di Korea Selatan melemah 1,1% ketika kembali dibuka usai libur panjang akhir pekan.

Kontrak berjangka untuk Indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 juga sedikit turun pada perdagangan awal Asia setelah indeks-indeks yang mendasarinya menghapus kerugian awal dan ditutup hampir tidak berubah pada hari Senin kemarin.

Indeks futures S&P 500 turun 0,3% pada pukul 9.42 pagi waktu Tokyo, dengan indeks futures Hang Seng naik 0,9%. Sementara, Nikkei 225 turun 0,7% dan Topix turun 1%. Di tempat lain, indeks Australia S&P/ASX 200 turun 0,8%. 

Para pelaku pasar tetap fokus pada harga minyak, dengan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melanjutkan kenaikan pada Senin kemarin dan diperdagangkan di atas US$71 per barel usai Iran mengancam penutupan penuh Selat Hormuz, jalur air penting untuk pergerakan minyak. Harga gas alam Eropa juga melonjak karena Qatar menutup pabrik ekspor LNG terbesar di dunia.

Baca Juga

  • Harga Minyak Hari Ini (3/3) Naik Tipis di Tengah Konflik AS-Israel vs Iran
  • Minyak Kedelai Ikut Melonjak
  • Laju Kenaikan Harga Emas Spot Hari Ini (3/3) Melambat

Imbal hasil obligasi acuan Treasury 10 tahun sedikit naik menjadi 4,04% karena kekhawatiran bahwa kenaikan biaya energi akan memicu inflasi mendorong para pedagang untuk mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve (The Fed).

Pasar sekarang sepenuhnya memperkirakan penurunan suku bunga AS pertama pada bulan September, dengan ekspektasi penurunan ketiga pada tahun 2026 hampir pudar. 

Pergeseran ini terjadi di tengah pasar ekuitas global yang sudah terguncang oleh miliaran dolar yang diinvestasikan perusahaan ke dalam kecerdasan buatan dan kekhawatiran tentang dampak disruptif teknologi tersebut.

"Saat ini, lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Situasi energi yang stabil dapat memberikan efek positif, sementara kekhawatiran tentang gangguan jangka panjang dapat memberikan efek sebaliknya,” kata Chris Larkin dari E*Trade, Morgan Stanley.

Seiring investor mengurangi risiko, aset safe haven menarik permintaan baru. Harga emas naik 0,6% menjadi US$5.355 per ons dan perak naik 1,6% menjadi diperdagangkan di atas US$90 per ons. Indeks Spot Dolar Bloomberg mempertahankan kenaikannya dari sesi sebelumnya, dengan kenaikan 0,7%.

Di sektor pasar lainnya, imbal hasil obligasi 10 tahun Australia melonjak pada Selasa pagi, karena Gubernur Bank Sentral Michele Bullock mengatakan bank sentral sangat waspada terhadap potensi implikasi terhadap ekspektasi inflasi dari konflik Timur Tengah dan berada pada posisi yang baik untuk respons kebijakan jika diperlukan. Imbal hasil obligasi lima tahun Jepang juga naik lebih dari lima basis poin menjadi 1,585%.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenhaj Sebut 6.047 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Indonesia | KOMPAS PAGI
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Disorot Borneo FC, Persija Tegaskan Koordinasi OT di JIS Dimulai Sejak H-5 tetapi Akui Ada Keterlambatan Kirim Surat Resmi
• 7 jam lalubola.com
thumb
Jadwal Salat Hari Ini, Selasa 3 Maret 2026 Untuk Wilayah DKI Jakarta
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Geopolitik Memanas, OJK Pastikan Stabilitas Keuangan Indonesia
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
[FULL] Analisis Strategi Iran Hadapi AS-Israel hingga Potensi Penyerangan WNA di Negara Islam
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.