Pemerintah Indonesia terus mencermati dampak eskalasi konflik di Timur Tengah, terhadap harga minyak dunia dan ketahanan energi nasional.
Sejauh ini, pemerintah memastikan kondisi pasokan dalam negeri masih terkendali.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut ketahanan bahan bakar minyak (BBM) nasional saat ini tercukupi.
“Masih cukup, 20 hari (Hari Operasi/HOP),” ujar Bahlil di Istana Negara, Senin (2/3/2026).
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, memicu volatilitas harga minyak global, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan.
Pada perdagangan terbaru, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$70,5 per barel, turun dibanding penutupan sebelumnya sekitar US$71 per barel.
Sebelumnya pada 1 Maret 2026, harga WTI sempat menyentuh level US$71,99 per barel sebelum terkoreksi.
Menurut Bahlil, meskipun dinamika geopolitik berpotensi memengaruhi harga minyak dunia, hingga saat ini belum ada dampak langsung terhadap pasokan maupun distribusi BBM di dalam negeri.
“Tapi harga minyak dunia pasti akan terkoreksi, ketika kondisi geopolitik terus memanas di Timur Tengah."
"Besok (Selasa) saya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional."
"Setelah itu baru saya akan menyampaikan hasil analisis dan kajian dari DEN,” tuturnya.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, jika konflik berlanjut dan mendorong kenaikan harga minyak global, maka harga BBM nonsubsidi di dalam negeri berpotensi ikut terdampak.
Baca Juga: Jalur Vital Minyak Ditutup, Iran Akan Bakar Setiap Kapal Lewati Selat Hormuz
Meski demikian, Airlangga menilai kenaikan harga BBM masih dapat tertahan seiring peningkatan produksi minyak dari AS serta Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC).
“Tetapi kali ini suplai dari Amerika juga akan meningkat, dan OPEC juga meningkatkan kapasitas produksinya,” terangnya di, Jakarta, Senin (2/3/2026). (*)





