REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi mereka yang hidup dengan penyakit penyerta atau komorbid seperti diabetes melitus dan hipertensi, Ramadhan menghadirkan tantangan fisik yang nyata. Perubahan pola makan, pergeseran jam biologis, hingga penyesuaian dosis obat menjadi variabel yang harus dikelola dengan tepat.
Persoalan utama bagi penderita hipertensi sering kali berakar pada asupan garam yang sulit dikontrol. Padahal, tekanan darah yang stabil adalah kunci agar jantung tidak bekerja terlalu berat selama menahan lapar dan dahaga.
- Ini Cara Mengatur Minum Agar Ginjal Tetap Sehat Selama Puasa
- Mau Main Padel Saat Puasa? Simak Dulu Saran dari Dokter
- Manfaat Menakjubkan Buka Puasa dengan Kurma
Dokter spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia, Dr dr Inge Permadhi, MS, SpGK (K), mengatakan salah satu penyebab hipertensi adalah karena terlalu banyak garam. "Berarti dia puasa atau tidak puasa, tetap kurangi garam. Salah satu untuk mengganti posisi dari natrium atau garam adalah kalium yang paling banyak terdapat pada buah dan sayur. Jadi kurangi garamnya tapi meningkatkan jumlah sayur dan buahnya,” kata Inge. Mengurangi natrium dan meningkatkan kalium dinilai sebagai strategi "barter" kesehatan yang paling efektif untuk menjaga pembuluh darah tetap elastis dan tekanan darah tetap terkendali.
Bergeser ke ranah diabetes, tantangan yang dihadapi sedikit berbeda namun tak kalah kompleks. Kadar gula darah yang fluktuatif menjadi momok utama.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Jika terlalu tinggi (hiperglikemia), tubuh berisiko mengalami komplikasi; jika terlalu rendah (hipoglikemia), taruhannya adalah kesadaran. Dokter Inge mengingatkan pentingnya pemilihan jenis karbohidrat yang dikonsumsi. Karbohidrat sederhana seperti nasi putih atau tepung yang cepat diserap tubuh harus mulai digantikan dengan karbohidrat kompleks yang memberikan energi secara perlahan dan stabil.
Dalam menyusun komposisi piring sahur dan buka, dr Inge memberikan rumus yang sangat spesifik untuk penderita diabetes. Karbohidrat kompleks disarankan mendominasi sekitar 50-60 persen dari porsi, diikuti dengan tambahan 10-15 persen protein, dan lemak dijaga agar tetap kurang dari 30 persen.
“Jadi komponen itu harus ada, termasuk di dalamnya harus juga ada sayur dan buah sebagai sumber dari vitamin, mineral dan juga air. Makannya seperti biasa, tapi kan berarti hanya makan siang yang hilang, berarti di sahur harus makan yang baik dan ketika berbuka juga harus makan yang baik,” kata dia.




