Asal-usul Mikroplastik di Udara Diidentifikasi, Kendaraan Listrik Bisa Perparah Polusi

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Sekitar dua pertiga mikroplastik di udara perkotaan berasal dari keausan ban kendaraan. Temuan ini memberi peringatan penting bahwa transisi menuju kendaraan listrik tidak otomatis menyelesaikan persoalan polusi udara, bahkan berpotensi memperburuknya.

Dalam beberapa tahun terakhir, partikel plastik di udara menjadi perhatian serius ilmuwan. Mikroplastik dan nanoplastik telah terdeteksi bahkan di wilayah terpencil seperti kawasan kutub dan pegunungan tinggi.

Selain berpotensi mengganggu proses ekologis, partikel ini juga menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia. Kandungan mikroplastik pada air hujan juga terkait dengan tingginya polusi partikel ini di udara.

Nanoplastik adalah partikel berukuran kurang dari satu mikrometer, sedangkan mikroplastik berukuran antara satu mikrometer hingga satu milimeter. Karena ukurannya yang sangat kecil, terutama nanoplastik, partikel ini dapat terhirup hingga masuk ke bagian terdalam paru-paru. Sejumlah studi menunjukkan partikel tersebut dapat memicu stres oksidatif dan reaksi inflamasi yang berkontribusi pada penyakit pernapasan. Di permukaannya, partikel ini juga dapat membawa logam berat dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), yang meningkatkan toksisitasnya.

Baca JugaMikroplastik Ancaman bagi Tubuh dan Lingkungan

Namun mengidentifikasi sumber pasti mikroplastik di udara bukan perkara mudah. Metode optik konvensional terbatas dalam mendeteksi partikel skala nanometer dan menentukan jenis polimernya secara akurat.

Sidik jari plastik di udara

Tim peneliti dari Institut Penelitian Troposfer Leibniz (TROPOS) dan Universitas Carl von Ossietzky Oldenburg berhasil menembus keterbatasan tersebut. Dalam studi yang dipublikasikan di Communications Earth & Environment pada Desember 2025, mereka menggunakan metode kromatografi gas–spektrometri massa pirolisis (Py-GC-MS) untuk mengidentifikasi “sidik jari” kimia mikroplastik di udara.

Karena belum tersedia standar baku untuk mendeteksi berbagai polimer di udara, tim mengembangkan pendekatan sendiri dengan memilih 11 jenis polimer umum, termasuk partikel keausan ban (Tire Wear Particles/TWP), polietilen (PE), polipropilen (PP), PVC, PET, dan lainnya.

Baca JugaSampah Mikroplastik dan Nanoplastik Ancam Peradaban Manusia

Sampel PM10 dan PM2.5 dikumpulkan menggunakan alat pengambil sampel volume tinggi yang biasa dipakai di stasiun pemantauan udara standar Eropa. Sebanyak 500 liter udara per menit disedot melalui filter, yang diganti setiap 24 jam selama dua minggu (1–14 September 2022) di Torgauer Strasse, Leipzig—jalan arteri dengan lalu lintas padat.

“Hal ini memberi kami gambaran yang terfokus dan detail tentang komposisi mikro-nano plastik di daerah dengan lalu lintas padat. Pengaturan ini menawarkan keuntungan berupa kemampuan untuk merekam nilai puncak paparan perkotaan dengan resolusi ukuran partikel yang halus dan menghasilkan data dasar berkualitas tinggi untuk menilai risiko kesehatan,” jelas Ankush Kaushik, mahasiswa doktoral di TROPOS yang mengambil dan menganalisis sampel.

Ia menambahkan, “Sepengetahuan kami, studi ini merupakan kuantifikasi mikro- dan nanoplastik di udara yang dipisahkan berdasarkan ukuran dan resolusi polimer pertama di Jerman yang mengintegrasikan pengukuran analitis dengan penilaian paparan dan risiko kesehatan.”

Hasilnya menunjukkan sekitar 65 persen plastik di udara berasal dari keausan atau abrasi ban kendaraan. Polimer lain seperti PVC, PE, dan PET terdeteksi dalam jumlah lebih kecil, dan berkorelasi kuat dengan penanda aerosol karbon, mengindikasikan sumber emisi yang sama dari lalu lintas.

Untuk memperkirakan paparan, tim menghitung massa partikel plastik di udara dan memperkirakan jumlah yang terhirup berdasarkan volume paru-paru orang dewasa. Hasilnya, penduduk yang terpapar selama 24 jam di lokasi tersebut diperkirakan menghirup sekitar 2,1 mikrogram partikel plastik per hari, setara 0,7 miligram per tahun.

Meski massanya kecil, ukurannya yang sangat halus meningkatkan potensi dampak biologis. Menggunakan model epidemiologi yang ada, studi ini memproyeksikan potensi peningkatan risiko kematian sebesar 5–9 persen untuk penyakit kardiopulmoner dan 8–13 persen untuk kanker paru-paru.

“Ini lebih tinggi daripada risiko partikel halus PM2.5, secara umum di Eropa. Pengamatan kami menunjukkan bahwa plastik mikro-nano, meskipun massanya rendah, dapat menimbulkan risiko kesehatan dari waktu ke waktu. Peningkatan risiko kematian akibat kanker paru-paru dan penyakit kardiovaskular dapat disebabkan oleh kemungkinan toksisitas spesifik polimer dari partikel plastik,” jelas Kaushik.

Paradoks kendaraan listrik

Temuan tentang dominasi keausan ban ini memiliki implikasi kebijakan yang besar. “Dengan sekitar dua pertiga mikroplastik berasal dari abrasi ban, ini menunjukkan bahwa tindakan diperlukan dan masalah debu halus tidak dapat diselesaikan hanya dengan beralih ke mobilitas listrik,” kata Hartmut Herrmann dari TROPOS, yang memimpin studi tersebut.

Bobot tambahan ini meningkatkan tekanan pada ban dan berpotensi mempercepat keausan.

Pernyataan ini penting. Sebab riset terpisah dari tim Imperial College London pada 2023 menunjukkan kendaraan listrik cenderung 20–30 persen lebih berat dibanding mobil bensin atau diesel sekelasnya karena baterai besar dan padat. Bobot tambahan ini meningkatkan tekanan pada ban dan berpotensi mempercepat keausan.

Secara global, diperkirakan enam juta ton partikel dari keausan ban dilepaskan setiap tahun. Partikel ini mengandung berbagai bahan kimia beracun, termasuk hidrokarbon poliaromatik, benzotiazol, isoprena, serta logam berat seperti seng dan timah.

Partikel besar biasanya terbawa air hujan ke sungai dan laut, sementara partikel lebih kecil melayang di udara dan terhirup manusia. Dengan kata lain, polusi plastik dari jalan raya tidak hanya menjadi persoalan limbah padat, tetapi juga masalah kualitas udara.

Baca JugaMikroplastik dalam Air Hujan di Malang, Bagaimana Membatasinya?

Studi Leipzig memperluas cara kita memandang polusi udara. Ia bukan lagi sekadar persoalan asap knalpot dan karbon. Di balik kendaraan yang semakin sunyi dan bebas emisi gas buang, terdapat partikel plastik tak kasatmata yang tetap beterbangan.

Transisi menuju mobilitas rendah karbon tetap penting dalam menghadapi krisis iklim. Namun jika kebijakan udara bersih hanya berfokus pada emisi knalpot, maka sebagian besar mikroplastik akan tetap mengambang di udara kota.

Mobil boleh tanpa asap. Tapi tanpa pengendalian keausan ban dan regulasi partikel non-knalpot, udara tetap membawa residu plastik yang tak terlihat, dan mungkin sama berbahayanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Qatar Hentikan Produksi LNG usai Kena Serang Iran
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Arne Slot Ungkap Kondisi Florian Wirtz Jelang Laga Liverpool vs Wolverhampton
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bonus Lebaran Ojol Naik Dua Kali Lipat Jadi Rp220 Miliar
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Krisis Energi di Depan Mata, Sektor Pangan Terancam
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Ulah Ojol di GBK: Perjalanan 6 Menit Getok Tarif Rp 200.000 ke Penonton Konser
• 14 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.