CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Luas panen padi pada Januari 2026 sebesar 0,57 juta hektare, mengalami kenaikan sebesar 0,15 juta hektare atau 35,72 persen dibandingkan luas panen padi di Januari 2025 yang sebesar 0,42 juta hektare.
Dari luasan panen itu, menurut data BPS Sulsel, poduksi padi dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) pada Januari 2026 diperkirakan sebanyak 3,63 juta ton GKP, mengalami kenaikan sebanyak 1,02 juta ton GKP atau 39,29 persen dibandingkan produksi padi GKP di Januari 2025 yang sebanyak 2,61 juta ton GKP.
Produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) pada Januari 2026 diperkirakan sebanyak 3,04 juta ton GKG, mengalami kenaikan sebanyak 0,85 juta ton GKG atau 38,69 persen dibandingkan produksi padi GKG di Januari 2025 yang sebanyak 2,20 juta ton GKG.
Ada pun produksi beras pada Januari 2026 untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan sebanyak 1,75 juta ton beras, mengalami kenaikan sebanyak 0,49 juta ton beras atau 38,56 persen dibandingkan produksi beras di Januari 2025 yang sebanyak 1,26 juta ton beras.
Kontras dengan kondisi pertanian itu, Nilai Tukar Petani (NTP) Gabungan Provinsi Sulawesi Selatan bulan Februari 2026 sebesar 116,86 atau turun 1,07 persen dibandingkan NTP Januari 2026 sebesar 118,12.
Sementara Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) bulan Februari 2026 sebesar 122,83 atau turun 0,61 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
NTP merupakan perhitungan Indeks Harga yang Diterima Petani dari usaha pertanian dikurangi Indeks Harga yang Dibayar Petani dalam proses produksi. Sementara inflasi diukur sari kenaikan Indeks Harga Konsumen dalam rentang waktu tertentu dibanding sebelumnya.
NTP Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 111,88; Subsektor Tanaman Hortikultura (NTPH) sebesar 115,65; Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) sebesar 134,54; Subsektor Peternakan (NTPT) sebesar 110,36 dan Subsektor Perikanan (NTNP) sebesar 119,59.
Pada bulan Februari 2026, dari lima subsektor pertanian, dua subsektor mengalami penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) dibanding bulan sebelumnya, yaitu Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 5,60 persen dan Subsektor Peternakan sebesar 0,07 persen.
NTP Subsektor Tanaman Pangan relatif stagnan, hanya naik sebesar 0,01 persen. Subsektor Tanaman Hortikultura naik sebesar 3,76 persen; dan Subsektor Perikanan sebesar 1,09 persen.
Kondisi daya beli petani yang menurun itu terjadi dalam situasi inflasi yang tinggi. Pada Februari
Inflasi tinggi "membakar" perekonomian Sulawesi Selatan, hingga 1,04 persen secara bulanan (month to month).
Dengan demikian, menurut data yang dirilis BPS Sulsel, Senin (2/3/2016), inflasi tahun berjalan dari Januari sampai Februari 2026 yang disebut year to date, telah melejit ke angka 1,51 persen dalam dua bulan.
Kondisi itu membuat inflasi tahunan atau year on year Sulsel pada Februari 2026 terhadap Februari 2025, sebesar 6,13 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,93.
Padahal Bank Indonesia mematok target inflasi nasional tahun 2026 ini hanya 2,5 plus minus satu persen.




