Daftar Pengusaha Iran yang Kaya Raya di AS: Bos Chelsea Sampai Kontraktor NASA

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kendati secara geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Israel sedang berperang dengan Iran, tetapi beda cerita dalam dunia usaha. Kedua negara tetap punya persinggungan erat perkara investasi, ekonomi, hingga sains dan teknologi.

Berdasarkan daftar America’s Richest Immigrants 2025 besutan Forbes, tercatat ada enam pengusaha kelahiran asli Iran yang sukses menjadi miliarder di Negeri Paman Sam.

Mereka menentang segala rintangan untuk mentransformasi berbagai industri mulai dari industri medis, hingga perjalanan luar angkasa. 

Berikut daftar enam pengusaha asli Iran yang jadi orang kaya di AS, beserta kekayaan bersihnya dan petikan perjalanan karier singkat:

Adam Foroughi (Perangkat Lunak & Gim): Kekayaan US$13,3 miliar

Foroughi adalah salah satu pendiri dan CEO AppLovin, perusahaan yang digagas pada 2011 dan telah melantai di bursa (IPO) pada 2021, bergerak di sektor gim seluler dan layanan pemasaran untuk pengembang aplikasi. 

Nilai pasar perusahaan mencapai US$123,3 miliar pada medio tahun lalu, sehingga dengan memiliki sekitar 11% saham, Foroughi telah termasuk jajaran miliarder.

Baca Juga

  • Harta 4 Orang Terkaya Indonesia Kompak Naik Selasa (24/2)
  • Pengamat Wanti-wanti Perang AS-Israel vs Iran Ancam Krisis Energi ke RI

Foroughi lahir di Iran setahun setelah Revolusi Iran 1979 dan berimigrasi ke AS saat masih kecil. Dia lantas memegang gelar sarjana ekonomi dari Universitas California, Berkeley.

Memulai karirnya sebagai pedagang derivatif, Foroughi punya ketertarikan dengan model perdagangan berbasis data yang terukur. Dia lantas membangun dua perusahaan, Lifestreet Media dan Social Hour, sebelum membuat AppLovin bersama dua rekannya pada 2012.

Behdad Eghbali (Investasi): Kekayaan US$4,4 miliar

Salah satu pendiri Clearlake Capital pada 2006, Eghbali ikut membangun salah satu perusahaan ekuitas swasta paling aktif di AS yang punya afiliasi di Dallas, Texas; London, Inggris; Dublin, Irlandia; Luksemburg; Abu Dhabi, UEA; dan Singapura.

Sebelum Clearlake, Eghbali bekerja di Morgan Stanley dan TPG. Sebagai orang yang dikenal sebagai pembuat kesepakatan ulung, dia bergabung dengan investor miliarder Todd Boehly untuk membeli klub sepak bola Inggris, Chelsea FC pada tahun 2022.

Eghbali lahir di Iran dan pindah ke AS bersama keluarganya saat masih kecil. Dia memegang gelar Sarjana Administrasi Bisnis dari Universitas California, Berkeley.

Kamal Ghaffarian (Energi dan Antariksa): Kekayaan US$2,5 miliar

Seorang insinyur sekaligus pengusaha ulung, Ghaffarian meluncurkan berbagai usaha di bidang energi nuklir, eksplorasi bulan, dan infrastruktur antariksa.

Ghaffarian lahir di Iran dan pindah ke AS pada usia 18 tahun untuk melanjutkan studi kuliah.

Dia mengenyam beberapa pendidikan, antara lain, insinyur dari The Catholic University of America, teknik elektro dari Capitol Technology University, gelar master bidang teknologi informasi dari The George Washington University, dan akhirnya gelar doktoral PhD di bidang sistem informasi manajemen Capitol Technology University.

Berawal pada tahun 1994, dia mendirikan Stinger Ghaffarian Technologies (SGT), sebuah perusahaan layanan pemerintah yang mengkhususkan diri dalam aplikasi TI, teknik, dan sains.  

Perusahaan tersebut berkembang menjadi kontraktor jasa teknik terbesar kedua buat NASA, menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari US$500 juta, sebelum diakuisisi oleh KBR pada 2018, seharga US$355 juta, dengan tambahan US$10 juta dalam modal kerja dan penyesuaian harga pembelian.

Pada tahun 2009, ia mendirikan X-energy, sebuah perusahaan manufaktur reaktor nuklir modular kecil yang saat ini sedang mengembangkan unit untuk pabrik Dow Chemical di Texas. 

Dia kemudian ikut mendirikan Intuitive Machines pada tahun 2013, sebuah perusahaan eksplorasi, infrastruktur, dan layanan antariksa yang mengkhususkan diri dalam komersialisasi ruang angkasa ke bulan, yang memulai debutnya di Nasdaq melalui merger SPAC pada Februari 2023.

Usaha-usaha lainnya termasuk Axiom Space yang memajukan pemanfaatan ruang angkasa secara komersial sekaligus memimpin pengembangan stasiun ruang angkasa komersial pertama, serta IBX sebuah perusahaan inovasi dan investasi.

Maky Zanganeh (Bioteknologi): Kekayaan US$1,4 miliar

Zanganeh menjadi satu-satunya miliarder perempuan di antara para miliarder AS keturunan Iran. 

Dia memulai kariernya sebagai dokter gigi sebelum beralih ke bidang bioteknologi, dan akhirnya menjadi Co-CEO dan Presiden Summit Therapeutics. 

Sebagai penyintas kanker, Zanganeh memainkan peran kunci dalam penjualan Pharmacyclics senilai US$21 miliar kepada AbbVie dan berperan penting dalam peluncuran ibrutinib, obat kanker yang inovatif.

Jahm Najafi (Investasi): Kekayaan US$1,3 miliar

Lahir di Iran, Najafi berimigrasi ke AS bersama kakak laki-lakinya, Francis pada tahun 1975 ketika ia berusia 12 tahun. 

Kini, Najafi menjalankan The Najafi Companies, sebuah perusahaan investasi swasta yang berbasis di Phoenix yang berfokus pada sektor konsumen, ritel, e-commerce, olahraga, media, dan teknologi.

Dia menerima gelar Sarjana (B.A.) di bidang ilmu politik dan ekonomi dari Universitas California Berkeley, diikuti oleh gelar Magister (M.A.) di bidang ekonomi bisnis dari Universitas Harvard pada tahun 1986. 

Najafi memulai kariernya di Wall Street untuk Salomon Brothers, sebelum bergabung dengan kakak laki-lakinya pada tahun 1990 demi membantu menjalankan Pivotal Group, sebuah perusahaan investasi real estat.

Pada 2009, Najafi sempat menjadi pembicaraan karena membeli 10% saham di klub Phoenix Suns dengan perkiraan nilai US$43 juta. 

Selama bertahun-tahun, Najafi telah berinvestasi di berbagai industri, termasuk hiburan, barang konsumsi, dan waralaba olahraga lain, termasuk tim Formula 1 (F1), McLaren. 

Pada tahun 2024, ia bergabung dengan The Giving Pledge, berjanji untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaannya.

Joe Kiani (Alat Kesehatan): Kekayaan US$1,2 miliar

Kiani lahir di Shiraz, Iran pada 1964, kemudian bermigrasi ke AS bersama keluarganya pada usia sembilan tahun. Ayahnya adalah seorang insinyur, dan ibunya adalah seorang perawat.

Tak heran, setelah lulus sarjana dan master bidang elektronika dari San Diego State University, dalam dirinya sudah ada darah kombinasi antara jiwa teknik dengan dunia kesehatan.

Kiani mendirikan Masimo pada tahun 1989 bersama Mohammed Diab, mengatasi kekurangan dalam oksimetri denyut nadi yang ada saat itu.

Sederhananya, alat Kiani dan Diab mengurangi alarm palsu oksimeter denyut nadi hingga lebih dari 90%, sekaligus mendeteksi lebih banyak sinyal alarm yang lebih presisi. 

Dirinya pun memegang lebih dari 500 paten atau aplikasi paten untuk pemrosesan sinyal canggih, sensor optik, dan teknologi. Saat ini, oksimetri denyut nadi Masimo digunakan untuk memantau lebih dari 200 juta pasien di seluruh dunia setiap tahun.

Kepemimpinan Kiani pun mengubah Masimo menjadi pemimpin teknologi medis yang terdaftar di bursa saham. 

Pada tahun 2021, ia sempat diangkat menjadi anggota Dewan Penasihat Presiden AS untuk Sains dan Teknologi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Tuduh Israel Serang Fasilitas Minyak Aramco Arab Saudi
• 5 jam laludetik.com
thumb
DPRD Surabaya Minta Pemkot Tahan Penandaan Bangunan Untuk Pelebaran Sungai Kalianak Tahap II
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Keir Starmer Nyatakan Tak Dukung Pergantian Rezim Iran dari Serangan Udara
• 15 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Cara Melihat Gerhana Bulan Total Hari Ini: Waktu dan Link Live
• 10 jam laludetik.com
thumb
Kecelakaan Maut Pikap Adu Banteng dengan Tronton di Situbondo, 1 Tewas Terjepit
• 20 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.