Dampak Perang AS-Iran: IHSG Tertekan, Harga Minyak Melonjak, dan Neraca Dagang Berisiko

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran diprediksi masih akan mengguncang pasar keuangan global dengan target serangan AS hingga beberapa pekan ke depan. Situasi ini mendorong investor di pasar saham mengantisipasi ketidakpastian ekonomi yang berpotensi berdampak ke perdagangan domestik.

Pada perdagangan Selasa (3/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di level 8.059, setelah perdagangan Senin (2/3/2026) merosot 2,65 persen ke level 8.016 imbas penjualan saham oleh investor asing dengan nilai bersih Rp 631 miliar. Kemarin, nilai tukar rupiah juga melemah ke kisaran Rp 16.868 per dolar AS.

Melemahnya pasar saham dan rupiah terjadi di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk, terutama jika ketegangan berdampak pada Selat Hormuz yang dilalui lebih dari 20 persen perdagangan minyak global. Sejumlah pengiriman minyak dan LNG dilaporkan tertunda.


Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut, pernyataan Presiden AS, Donald Trump, memperkirakan operasi militer terhadap Iran bisa berlangsung hingga empat atau lima pekan sehingga meningkatkan ketidakpastian pasar. Sementara, Iran melalui pejabat keamanannya, Ali Larijani, menyatakan Teheran tidak akan bernegosiasi.

Menyusul dinamika mutakhir, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak 6,28 persen ke 71,23 dolar AS per barel, sedangkan Brent diperdagangkan mendekati 80 dolar AS per barel—naik sekitar 10 persen dalam sepekan terakhir. Harga emas dunia juga ikut naik ke 5.322 dolar per troy ons.

“Pasar pada pekan pertama cenderung wait and see. Namun jika konflik melebar dan menyeret negara-negara Teluk, tekanan terhadap harga energi bisa lebih persisten,” ujar mereka dalam laporan Selasa (3/3).

Pada Selasa ini, Pilarmas memproyeksikan IHSG masih berpotensi melemah dengan batas bawah 7.860 dan batas atas di level 8.150.


Risiko pelemahan, mereka nilai dapat berlanjut. Apabila harga minyak bertahan di kisaran 90–100 dolar AS per barel, tekanan terhadap inflasi, transaksi berjalan, dan ruang kebijakan moneter Bank Indonesia akan meningkat.

Meski demikian, sektor energi di IHSG berpotensi menjadi sektor pemenang dalam jangka pendek. Langkah OPEC+ yang memutuskan menaikkan produksi 206.000 barel per hari mulai April 2026, setara kurang dari 0,2 persen permintaan global, dinilai belum cukup meredakan lonjakan harga apabila gangguan pasokan benar-benar terjadi.

Rully Arya Wisnubroto, Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai skenario dasar saat ini adalah eskalasi bersifat terbatas dan berlangsung sekitar satu bulan.

“Kenaikan harga minyak dan penguatan dollar AS cenderung jangka pendek. Namun kami tetap mewaspadai tail-risk apabila konflik berlarut dan mengganggu suplai, sehingga harga minyak bertahan tinggi lebih lama,” kata Rully dalam riset hariannya.

Baca JugaPenutupan Selat Hormuz Berpotensi Pengaruhi Ekspor-Impor RI


Di tengah gejolak energi, kinerja perdagangan Indonesia pada awal 2026 juga menunjukkan tantangan. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, mencatat, pelemahan ekspor nonmigas Januari 2026 bersifat broad-based atau menyeluruh.

Perdagangan lima komoditas utama Indonesia, yakni CPO, batubara, besi dan baja, mesin dan perlengkapan listrik, serta nikel mengalami kontraksi. Ekspor ke tiga mitra dagang utama juga turun signifikan dari Desember 2025 ke Januari 2026. Rinciannya, ke Tiongkok minus 19,9 persen, ke AS minus 11 persen, dan ke India minus 19,1 persen.

“Ini mengindikasikan moderasi permintaan eksternal dan normalisasi pasca akhir tahun. Tekanan tidak hanya terjadi pada satu komoditas, melainkan merata,” ujar Novani.

Di sisi lain, lonjakan harga emas global naik sekitar 12,8 persen bulanan dan hampir 75 persen tahunan. Ini memicu pergeseran permintaan domestik ke aset lindung nilai. Namun, penutupan sementara tambang Grasberg milik PT Freeport Indonesia menekan ekspor emas nasional.

Ekspor logam mulia tercatat turun 11,6 persen secara tahunan, sementara impor emas melonjak lebih dari 150 persen, menekan surplus perdagangan.


Meski neraca perdagangan Januari masih mencatat surplus 960 juta dolar AS, yang menandai surplus selama 69 bulan berturut-turut, risiko ke depan dinilai meningkat.

Sebagai net importir minyak, Indonesia rentan terhadap lonjakan harga energi. Kenaikan harga minyak akan meningkatkan nilai impor migas dan berpotensi memperlebar defisit neraca energi.

“Jika harga minyak menetap di atas 90 dollar AS, tekanan terhadap subsidi energi dan nilai tukar akan lebih terasa. Rupiah yang melemah otomatis meningkatkan biaya impor,” katanya.

Prospek perdagangan juga bergantung pada kepastian implementasi Agreement on Reciprocal Trade (ART), yang mempertahankan tarif nol persen untuk 1.819 pos tarif Indonesia. Menurut Novani, kepastian ART dapat menjadi katalis penting bagi ekspor manufaktur bernilai tambah seperti mesin, elektronik, tekstil, dan alas kaki.

“Diversifikasi pasar ekspor dan penguatan hilirisasi menjadi kunci untuk menjaga surplus tetap resilien di tengah volatilitas global,” ujarnya.

Baca JugaPerjanjian Perdagangan Resiprokal dengan AS Rugikan Indonesia, UGM Suarakan Penolakan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Muncul Ruam Merah di Leher Donald Trump, Tim Medis Sebut Efek Pengobatan Preventif
• 10 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Struktur Saham Terkonsentrasi Pengaruhi Peluang Emiten Masuk Indeks Global
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Masjid Al-Ikhlas PIK Jadi Pusat Kegiatan Sosial
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cara Melihat Gerhana Bulan Total Hari Ini: Waktu dan Link Live
• 9 jam laludetik.com
thumb
JK Terima Dubes Iran, Bahas Situasi Terkini dan Peluang Mediasi Indonesia
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.