Investor Serbu Emas Saat Konflik AS-Israel dan Iran Memanas

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mengucang pasar modal global sehingga mendorong investor untuk melakujann perubahan strategi investasi. Di tengah memanasnya konflik ini, pelaku pasar memilih mengamankan dana ke emas sebagai aser lindung nilai (safe haven).

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, mengatakan investor juga memilih dolar Amerika Serikat (AS) dan obligasi pemerintah AS sebagai altenatif pengalihan dana. Pemindahan dana dilakukan untuk mengurangi eksposur di pasar saham, terutama di negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia.

Baca Juga :
Harga Emas Hari Ini 3 Maret 2026: Produk Antam Melorot, Global Makin Kinclong
BI Waspadai Melonjaknya Inflasi Terdorong Naiknya Harga Minyak Dunia

Aksi investor mengalihkan dana mendorong harga emas dunia naik signifikan. Berdasarkan website Gold Price, harga harga logam mulia ini naik 93,34 poin atau 1,77 persen ke level US$5.368,15 atau sekitar Rp 90,52 juta (estimasi kurs Rp 16.860 per dolar AS) per ons troy hingga pukul 11.39 WIB, Selasa, 3 Maret 2026.

Ia juga menyoroti perilaku investor menjadi lebih selektif dalam memilih sektor di pasar  modal. Investor domestik, kata Reydi, cenderung akan memilih emiten yang diuntungkan dari meningkatnya konflik Iran dan AS-Israel.

Ilustrasi papan IHSG
Photo :
  • VIVA/Muhamad Solihin

“Di domestik, investor akan selektif ke saham energi atau komoditas yang diuntungkan kenaikan harga minyak,” kata Reydi dikutip dari Antara, Selasa, 3 Maret 2026.

Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu efek langsung dari eskalasi konflik tersebut. Di satu sisi, memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi, sekaligus meningkatkan volatilitas pasar keuangan. 

"Kenaikan harga minyak juga menambah kekhawatiran inflasi,” imbuh Reydi.

Reydi menilai, konflik yang melibatkan tiga negara ini dampaknya kemungkinan hanya bersifat jangka pendek dan berbasis sentimen. Bahkan, jika konflik tidak meluas dan tidak mengganggu pasokan energi global secara signifikan pasar akan cepat berkonsolidasi dan berbalik menguat (rebound).

“Bila eskalasi membesar, efeknya bisa lebih dalam dan berkepanjangan,” ujarnya.

Reydi menyampaikan ketegangan di Timur Tengah ini memberikan efek negatif jangka pendek terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Tekanan sudah terlihat pada perdagangan awal pekan.

Tekanan ini karena investor asing mengurangi eksposur di emerging markets, bersamaan dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan volatilitas meningkat. Ia meminta investor untuk mencermati faktor teknikal serta arah kebijakan suku bunga global, pergerakan harga minyak, data inflasi, hingga arus dana asing.

Baca Juga :
Eskalasi Konflik AS-Iran Meningkat, Pramono Waspadai Lonjakan Harga di Jakarta
Bursa Asia Amblas, Ancaman Iran Tutup Selat Hormuz Guncang Pasar Global
Ramalan Analis Soal Harga Minyak Dunia saat Konflik AS–Israel-Iran Memanas dan Ancaman Penutupan Selat Hormuz

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
9 Kota Terbaik untuk Bisnis di Indonesia, Bukan Cuma Jakarta!
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Gubernur Nonaktif Riau Abdul Wahid Segera Disidang Terkait Kasus Dugaan Pemerasan
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Akademisi Soroti Peran Rantai Pasok dalam Menjaga Kualitas MBG
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
Pelatih Persebaya Puji Mental Pemainnya Usai Tahan Imbang Persib
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Wisatawan Asal Rusia Tewas Mengambang di Pantai Parangtritis
• 21 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.