KETEGANGAN geopolitik di kawasan Timur Tengah meningkat setelah Iran mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz yang diklaim telah ditutup menyusul eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut tidak lagi aman bagi kapal komersial. Ancaman itu disampaikan Brigadir Jenderal Ebrahim Jabbari, penasihat senior panglima tertinggi IRGC.
"Selat Hormuz telah ditutup. Kami akan menyerang dan membakar kapal apa pun yang mencoba menyeberang," kata Jabbari dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Senin (2/3).
Baca juga : Komandan Garda Revolusi Iran Klaim Selat Hormuz Ditutup, Ancam Bakar Kapal yang Melintas
Menurutnya, keputusan penutupan jalur pelayaran itu merupakan respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia juga memperingatkan bahwa infrastruktur energi regional, termasuk jalur pipa minyak, dapat menjadi sasaran serangan.
Jabbari menegaskan Iran tidak akan membiarkan "satu tetes pun minyak" meninggalkan kawasan selama konflik berlangsung.
Penutupan Selat Hormuz oleh IRGC dilaporkan terjadi sejak Minggu (1/3) dan menyebabkan ratusan kapal tertahan di salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Selat tersebut menjadi rute utama pengiriman minyak mentah dari negara-negara Teluk menuju pasar global.
Baca juga : Iran Klaim Sikap AS soal Perundingan Nuklir Mulai Lebih Realistis
Di tengah situasi tersebut, Pemerintah Tiongkok menyerukan penurunan eskalasi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyatakan jalur pelayaran internasional harus tetap terbuka demi stabilitas ekonomi global.
"Selat Hormuz dan perairan sekitarnya merupakan jalur perdagangan internasional yang penting bagi barang dan energi," kata Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Senin (2/3).
Ia menambahkan bahwa Tiongkok "mendesak pihak-pihak terkait segera menghentikan operasi militer, menghindari eskalasi, dan mencegah dampak lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi global."
Ketegangan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran pasar energi internasional karena gangguan di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi distribusi minyak dunia secara signifikan. (Anadolu/Ant/I-1)





