Trenggiling -- penjaga hutan dan panen yang tiap malam berjasa melahap serangga -- masih diburu. Padahal, sudah ada pembatasan konsumsi dari pasar terbesarnya yaitu Tiongkok. Pemerintah Tiongkok telah menghapus hewan ini dari daftar bahan baku tradisional, bahkan dari farmakope alias buku standar resmi farmasi.
Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan baru saja mengamankan 1,38 kilogram sisik trenggiling dari sebuah kamar penginapan di Jalan Pattimura, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Sisik trenggiling tersebut milik seorang pria berinisial HLY (53) asal Jawa Timur.
HLY datang ke Sintang memang untuk mencari sisik trenggiling. Tujuannya, untuk dipasarkan lewat jaringan yang dikenalnya dari media sosial Facebook. Atas perbuatannya, HLY telah ditetapkan menjadi tersangka.
Kasus ini menambah daftar panjang kasus perdagangan gelap trenggiling. Kepala Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Kalimantan Leonardo Gultom menjelaskan, tersangka akan dijerat dengan ancaman pidana berat sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
UU tersebut melarang keras setiap orang untuk menyimpan, memiliki, mengangkut, dan memperdagangkan bagian dari satwa dilindungi. Pelaku pelanggaran terancam hukuman pidana penjara maksimal 15 tahun dan denda paling banyak Rp30 miliar.
"Ini peringatan keras bagi siapa pun yang masih nekat memperdagangkan bagian dari satwa dilindungi negara,” kata Leonardo melalui keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (3/3).
Saat ini, HLY berada di Rutan Kelas IIA Pontianak untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Barang bukti berupa sisik trenggiling dan satu unit telepon seluler disita penyidik untuk kepentingan persidangan.
Berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN), trenggiling atau Manis javanica tergolong critically endangered atau sangat terancam punah imbas masifnya perburuan liar.
Mengutip lembaga non-pemerintah yang fokus pada konservasi satwa WWF Indonesia, hewan dilindungi ini banyak diburu untuk diambil sisik dan dagingnya, kemudian diedarkan di pasar gelap.
Di Cina dan Vietnam, trenggiling menjadi makanan yang mendapat label mewah. Lalu di Singapura, Thailand, Laos, dan Vietnam, sisiknya banyak dimanfaatkan untuk bahan kosmetik dan obat kuat.
Lembaga pegiat konservasi orangutan Centre for Orangutan Protection (COP) yang juga menelusuri perdagangan liar trenggiling menjelaskan, satwa yang kerap dijuluki penjaga senyap ini memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan hutan.
Setiap malam, satu ekor trenggiling bisa memangsa puluhan ribu semut dan rayap. Tanpa mereka, populasi serangga perusak berpotensi meledak, merusak kesuburan tanah, melemahkan pohon, bahkan memengaruhi hasil panen masyarakat sekitar. Kehilangannya akan meninggalkan celah besar dalam rantai ekologi yang sulit digantikan.




