- Densus 88 meningkatkan kewaspadaan nasional karena eskalasi konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran memicu ancaman terorisme.
- Penguatan pengawasan ini merupakan arahan Kapolri untuk mempertahankan capaian *zero terrorist attack* menjelang Lebaran 2026.
- Polri menangkap 51 terduga teroris pada 2025, sementara 13.252 orang masih dalam radar pemantauan aparat keamanan.
Suara.com - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran membuat Densus 88 Antiteror Polri meningkatkan kewaspadaan di dalam negeri.
Salah satunya, dengan memperketat pengawasan terhadap jaringan terorisme guna mengantisipasi potensi dampak konflik global terhadap stabilitas keamanan nasional.
Juru Bicara Densus 88, Mayndra Eka Wardhana, mengatakan penguatan pengawasan ini merupakan tindak lanjut atas arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang menegaskan capaian zero terrorist attack harus dipertahankan, terutama menjelang arus mudik dan Lebaran 2026.
"Densus 88 turut meningkatkan pengawasan terhadap ancaman terorisme yang berpotensi mengganggu keamanan masyarakat,” ujar Mayndra kepada wartawan, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, dinamika konflik global saat ini tidak hanya melibatkan negara, tetapi juga kelompok dan kepentingan tertentu yang berpotensi memicu resonansi ideologis di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Karena itu, langkah deteksi dini dan pemantauan diperkuat untuk mencegah munculnya aksi teror.
Dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Operasi Ketupat 2026 yang digelar di Auditorium Mutiara PTIK/STIK Lemdiklat Polri, Jakarta Selatan, pada Senin (2/3/2026), Kapolri meminta Densus 88 Antiteror Polri mempertahankan capaian zero terrorist attack pada momentum Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah.
Listyo juga menyebut ancaman teror tetap menjadi perhatian utama, meski sejak 2023 hingga 2026 tidak terjadi serangan.
Sepanjang 2025, Polri menangkap 51 tersangka teroris, dengan tujuh di antaranya digagalkan sebelum menjalankan rencana aksinya. Meski demikian, aparat masih memantau 13.252 orang yang masuk dalam radar pengawasan.
Listyo mengingatkan potensi ancaman tetap terbuka di tengah situasi global yang memanas.
Baca Juga: Inggris, Perancis, dan Jerman Rapatkan Barisan, Siap Gempur Jantung Militer Iran Bersama AS
Ia juga menekankan pentingnya sinergi dengan intelijen, TNI, dan pemerintah daerah untuk memperbarui pendataan serta memantau kelompok yang terindikasi aktif.
Dengan penguatan koordinasi dan pengawasan tersebut, Polri menargetkan stabilitas keamanan tetap terjaga serta capaian nihil serangan teror dapat dipertahankan sepanjang 2026.




